Bulatan Times – Operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, menghadapi tantangan yang tidak terlihat dari permukaan. Arus bawah laut di sekitar bangkai kapal dapat berubah cepat sehingga penyelam harus memilih waktu yang tepat sebelum masuk ke badan kapal.
Basarnas memanfaatkan periode ketika arus melemah dan gelombang mengecil untuk melakukan penyelaman. Kesempatan tersebut dapat berlangsung singkat sehingga tim harus menyesuaikan operasi dengan kondisi aktual di laut.
Strategi ini menjadi penting karena sebagian pencarian dilakukan langsung di dalam bangkai KM Virgo Transport 8. Selain mengejar waktu untuk menemukan korban, keselamatan penyelam tetap menjadi pertimbangan utama.
Baca Juga: Cuaca Batasi Penyelaman KM Virgo, Basarnas Andalkan Pencarian Berlapis di Laut Jawa
Arus bawah laut menentukan waktu penyelaman
Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin sekaligus SAR Mission Coordinator I Putu Sudayana menjelaskan bahwa penyelam memanfaatkan kondisi ketika arus bawah laut mulai teduh.
Gelombang yang mengecil memberikan kesempatan bagi tim untuk masuk ke badan kapal, tetapi kondisi tersebut tidak bertahan lama.
Karakter arus yang cepat berubah membuat operasi tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan jadwal tetap.
Tim harus memantau kondisi perairan dan memanfaatkan jendela waktu yang dinilai cukup aman untuk penyelaman.
Pada fase sebelumnya, arus di sekitar lokasi bahkan dilaporkan dapat melampaui enam knot dan mendekati tujuh knot. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi operasi pencarian bawah air.
Ketika kondisi memungkinkan, penyelam kemudian bergerak menuju badan kapal untuk menyisir bagian-bagian yang dapat dimasuki.
Puluhan penyelam dikerahkan
Operasi bawah air melibatkan personel dengan kemampuan khusus.
Pada hari ke-10 operasi, sebanyak 34 penyelam dikerahkan, terdiri atas 22 personel TNI AL dan 12 penyelam Basarnas. KRI Nala turut bergabung dalam operasi dengan membawa tim penyelam tambahan.
Basarnas Special Group (BSG) menjadi salah satu unsur yang melakukan penyelaman langsung ke bangkai kapal.
Masuk ke kapal yang tenggelam memiliki tingkat risiko berbeda dibandingkan pencarian di permukaan. Penyelam harus bekerja di ruang terbatas sambil menghadapi arus, jarak pandang, struktur kapal, dan batas waktu penyelaman.
Karena itu, penambahan personel bukan berarti seluruh penyelam dapat masuk secara bersamaan. Pelaksanaan tetap disesuaikan dengan kondisi laut dan prosedur keselamatan.
Baca Juga: 69 Korban Virgo Transport 8 Dievakuasi ke Banjarmasin, 6 Jenazah Ditangani Terpisah
Bangkai kapal menjadi fokus pencarian
Pencarian di sekitar badan KM Virgo Transport 8 dilakukan setelah muncul indikasi bahwa sejumlah korban masih berada di dalam kapal.
Tim penyelam kemudian menyisir ruang-ruang yang dapat dijangkau ketika kondisi memungkinkan.
Pada Selasa (22/9/2026), tim gabungan kembali menemukan tiga jasad dari dalam bangkai kapal. Evakuasi dilakukan oleh penyelam gabungan Basarnas Special Group, TNI AL, dan PT Jasalindo.
Ketiga korban kemudian dibawa ke KN SAR Pacitan sebelum dipersiapkan untuk evakuasi melalui jalur udara dan proses identifikasi.
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa pencarian di badan kapal masih menjadi bagian penting dalam operasi SAR.
Posisi kapal juga menjadi tantangan
Bukan hanya arus yang mempersulit pekerjaan tim.
Posisi KM Virgo Transport 8 di dasar laut juga dilaporkan mengalami pergeseran selama operasi berlangsung. Kondisi tersebut membuat penanganan bangkai kapal membutuhkan dukungan teknis dan pemetaan yang terus diperbarui.
Perubahan posisi dapat memengaruhi akses menuju bagian tertentu kapal serta perencanaan penyelaman.
Basarnas sebelumnya juga melibatkan tenaga ahli dari luar negeri untuk mendukung penanganan dan proses salvage kapal.
Salvage sendiri berbeda dengan pencarian korban. Pekerjaan tersebut berkaitan dengan penanganan atau penyelamatan kapal dan materialnya, sementara operasi SAR tetap berfokus pada pencarian dan pertolongan manusia.
Keduanya dapat saling berkaitan ketika kondisi bangkai kapal memengaruhi akses tim pencari.
Tiga korban kembali ditemukan pada hari ke-10
Operasi pada Selasa menghasilkan perkembangan baru setelah tiga korban ditemukan dari bangkai kapal.
Hingga Selasa pukul 11.30 WITA, Basarnas mencatat 126 orang telah ditemukan dari 243 orang yang tercatat dalam manifes KM Virgo Transport 8.
Dari jumlah tersebut, 108 orang ditemukan selamat dan 18 orang meninggal dunia. Sebanyak 117 orang masih dalam pencarian pada waktu pembaruan tersebut.
Angka tersebut merupakan perkembangan operasi pada 22 September 2026 dan dapat berubah apabila tim kembali menemukan korban.
Karena itu, jumlah korban perlu selalu dibaca berdasarkan waktu pembaruan, bukan dianggap sebagai angka akhir.
Evakuasi dilanjutkan dengan proses identifikasi
Penemuan korban dari dalam kapal belum mengakhiri rangkaian penanganan.
Setelah dibawa dari lokasi penyelaman, jenazah dievakuasi menuju daratan untuk menjalani proses identifikasi.
Tiga korban yang ditemukan pada Selasa direncanakan dibawa menggunakan Helikopter HR 3601 menuju Lanud Sjamsudin Noor di Banjarbaru, kemudian diteruskan untuk proses identifikasi di RS Bhayangkara Banjarmasin.
Proses tersebut diperlukan karena identitas korban tidak selalu dapat ditentukan langsung di lokasi penemuan.
Hasil identifikasi kemudian menjadi dasar bagi pihak berwenang untuk memberikan kepastian kepada keluarga.
Keselamatan penyelam tetap menjadi batas operasi
Tekanan untuk menemukan korban secepat mungkin tidak menghilangkan batas keselamatan dalam operasi bawah laut.
Arus yang kuat dapat menyulitkan penyelam mempertahankan posisi, meningkatkan konsumsi udara, dan menghambat proses keluar-masuk badan kapal.
Karena itu, operasi dapat dihentikan sementara ketika kondisi dinilai tidak aman dan dilanjutkan setelah arus kembali memungkinkan.
Pendekatan tersebut membuat proses pencarian terlihat lebih lambat dari daratan, tetapi penyelaman ke bangkai kapal tidak dapat dipaksakan hanya untuk mengejar waktu.
Tim SAR harus menyeimbangkan dua kebutuhan sekaligus: memperluas pencarian korban dan memastikan personel yang masuk ke bawah laut dapat kembali dengan selamat.
Selama masih terdapat korban dalam pencarian, operasi KM Virgo Transport 8 akan sangat bergantung pada kemampuan tim membaca perubahan kondisi laut dan memanfaatkan setiap jendela penyelaman yang tersedia.











