Bulatan Times – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di tengah kondisi atmosfer kering yang melanda sebagian besar Indonesia. Sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah, mulai dari Sumatra dan Kalimantan hingga Maluku dan Papua.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi kering diperkuat El Niño kategori sangat kuat yang diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027.
Situasi tersebut membuat risiko karhutla meningkat sekaligus memungkinkan kebakaran bertahan lebih lama, terutama di kawasan gambut.
Baca Juga: BNPB Semai 5,6 Ton NaCl di 4 Provinsi Terdampak Karhutla
Asap Terdeteksi hingga Papua
Berdasarkan citra Satelit Himawari-9 pada 14 September 2026 pukul 08.00 WIB, BMKG mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku dan Papua.
BMKG mengingatkan kabut asap bukan hanya persoalan kebakaran. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat, mengurangi jarak pandang, serta mengganggu aktivitas transportasi.
Pemantauan sebelumnya juga menunjukkan konsentrasi hotspot masih tinggi. Data 13 September mencatat 627 hotspot high confidence di Kalimantan, kemudian Papua dan Maluku sebanyak 200 titik, Sulawesi 104 titik serta Sumatra 86 titik.
Kebakaran di lahan gambut membutuhkan perhatian khusus. Api dapat merambat hingga lapisan bawah permukaan tanah sehingga lebih sulit diketahui dan dipadamkan.
Hotspot Nasional Melonjak Jadi 1.437 Titik
Data terbaru Kementerian Kehutanan menunjukkan peningkatan lebih tajam.
Berdasarkan data SiPongi yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20, hingga 14 September 2026 pukul 21.05 WIB terdapat 1.437 hotspot high confidence secara nasional.
Jumlah tersebut melonjak dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 592 titik. Kalimantan menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian utama dalam operasi pengendalian karhutla.
Di Kalimantan Tengah saja tercatat 689 hotspot high confidence, melonjak dari 89 titik sebelumnya.
Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan memperkuat penanganan melalui pemadaman darat, patroli udara, pembasahan lahan, water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca sesuai kondisi meteorologis.
Baca Juga: Upaya Modifikasi Cuaca Diperkuat di Wilayah Terdampak Karhutla
Kemarau Panjang Perbesar Risiko Karhutla
BMKG mencatat 1.637 titik telah mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem atau lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Kondisi itu terutama ditemukan di wilayah Indonesia bagian selatan.
Situasi tersebut berkaitan dengan musim kemarau yang meluas dan El Niño kuat. Anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat +2,76 derajat Celsius pada Dasarian I September 2026.
Meski demikian, bukan berarti seluruh wilayah Indonesia akan tanpa hujan. Pada 15–17 September, hujan sedang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan serta Papua.
BMKG meminta masyarakat terus mengikuti informasi cuaca dan meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla serta dampak kabut asap, khususnya di wilayah terdampak.











