Bulatan Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan masih berpotensi turun di sejumlah wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada 9-12 September 2026.
Prakiraan cuaca ini menjadi perhatian karena aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dan sebaran abu vulkaniknya telah mencapai sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda hingga bagian barat Pulau Jawa dan Sumatra.
Badan Geologi pada Senin (7/9) menyatakan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Hasil evaluasi menunjukkan aktivitas vulkanik masih perlu dipantau karena probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi.
Hujan Berpotensi Turun di Wilayah Terdampak
Prakiraan BMKG untuk periode 9-12 September menjadi penting bagi wilayah yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik.
Kondisi cuaca dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer. Karena itu, masyarakat di daerah yang terdampak abu vulkanik tetap perlu memperhatikan pembaruan prakiraan cuaca dan informasi sebaran abu dari BMKG.
Dalam pemantauan 7 September, BMKG mencatat sebaran abu vulkanik hingga ketinggian 15.000 kaki bergerak ke arah barat dan meliputi sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, serta Bengkulu. Pada lapisan hingga 50.000 kaki, abu terpantau lebih jauh ke Samudra Hindia di sebelah barat wilayah tersebut.
BMKG juga terus memperbarui informasi mengenai pergerakan abu karena arah sebarannya dapat berubah mengikuti kondisi angin.
Aktivitas Anak Krakatau Masih Dipantau
Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB berakhir pada 6 September pukul 00.04 WIB setelah berlangsung sekitar 25 jam.
Setelah episode tersebut berakhir, masih terjadi beberapa erupsi Strombolian. Badan Geologi menyebut aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi.
Potensi bahaya yang masih diwaspadai berasal dari lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Jika erupsi menerus kembali terjadi, terdapat pula potensi bahaya berupa aliran lava.
Karena itu, masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan wisatawan dilarang memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Ganggu Kesehatan, Ini Imbauan Kemenkes
Warga Diminta Waspadai Abu Vulkanik
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus beraktivitas di luar, Badan Geologi merekomendasikan penggunaan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Dalam rilisnya pada 7 September, BMKG juga meminta warga di area yang terpapar abu vulkanik membatasi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker dan kacamata pelindung apabila harus keluar.
Sementara itu, BMKG menyatakan pemantauan kondisi laut di Selat Sunda terus dilakukan. Data HF Radar pada 7 September pukul 08.00 WIB menunjukkan probabilitas tsunami berada pada kategori rendah, yakni di bawah 50 persen. Pemantauan 20 tsunami gauge juga tidak menunjukkan anomali muka air laut yang mengindikasikan tsunami.
Dengan prakiraan cuaca yang terus diperbarui dan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih dipantau, masyarakat di wilayah terdampak sebaiknya mengikuti informasi resmi BMKG, Badan Geologi/PVMBG, BNPB, serta pemerintah daerah.











