Bulatan Times – Jumlah titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan kembali melonjak pada Rabu (30/9/2026).
Data Pusat Pengendalian Operasi BPBD Sumatera Selatan hingga pukul 06.00 WIB mencatat 3.026 hotspot dalam pemantauan 24 jam terakhir.
Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Wilayah tersebut mencatat 1.375 hotspot, disusul Musi Banyuasin 777 titik dan Banyuasin 642 titik.
Lonjakan titik panas terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan masih ditangani di sejumlah daerah. Dampaknya mulai terlihat jelas pada kualitas udara, terutama di Palembang yang pada Rabu pagi masuk kategori berbahaya.
Baca Juga: BNPB Semai 5,6 Ton NaCl di 4 Provinsi Terdampak Karhutla
OKI Catat 1.375 Hotspot
Ogan Komering Ilir menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak dalam pembaruan BPBD Sumsel.
Berikut sebaran hotspot hingga Rabu pagi:
| Wilayah | Hotspot |
|---|---|
| Ogan Komering Ilir | 1.375 |
| Musi Banyuasin | 777 |
| Banyuasin | 642 |
| Muara Enim | 72 |
| Ogan Ilir | 43 |
| Musi Rawas Utara | 26 |
| OKU | 23 |
| Musi Rawas | 16 |
| Lahat | 15 |
| OKU Timur | 13 |
| PALI | 8 |
| OKU Selatan | 7 |
| Palembang | 5 |
| Empat Lawang | 2 |
| Prabumulih | 1 |
| Pagaralam | 1 |
Total seluruh daerah tersebut mencapai 3.026 hotspot.
BPBD Sumsel menyatakan penanganan masih difokuskan pada wilayah dengan aktivitas kebakaran tinggi, termasuk OKI, Muara Enim, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Palembang.
Di OKI, beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Tulung Selapan, Pangkalan Lampam, Pampangan, Pedamaran Timur, Air Sugihan, Cengal, dan Sungai Menang.
Udara Palembang Berbahaya, ISPU Capai 366
Lonjakan hotspot berjalan bersamaan dengan memburuknya kualitas udara.
Pada pukul 06.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU di Palembang tercatat 366 dan masuk kategori berbahaya.
PALI berada pada angka 278 atau kategori sangat tidak sehat.
Musi Rawas mencatat ISPU 150, Musi Banyuasin 144, dan Lahat 103 yang masuk kategori tidak sehat. Muara Enim berada di angka 68, sedangkan Prabumulih 64 atau kategori sedang.
Kabut asap juga menekan jarak pandang di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Pada pukul 06.00 WIB jarak pandang dilaporkan sekitar 600 meter, meski hingga menjelang siang belum dilaporkan adanya gangguan penerbangan.
Baca Juga: Asap Karhutla Meluas dari Kalimantan hingga Papua, Warga Diminta Waspada
Puluhan Kejadian Karhutla Ditangani dalam Sehari
BPBD Sumsel masih melakukan patroli darat dan udara, pemadaman, serta water bombing di wilayah prioritas.
Hasil patroli pada 29 September mencatat 69 kejadian karhutla dalam sehari. OKI menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 32 kejadian, disusul Palembang 10 dan Musi Banyuasin tujuh kejadian.
Secara kumulatif sejak awal tahun hingga 29 September, BPBD Sumsel mencatat 4.040 kejadian karhutla dengan indikasi luas lahan terbakar sekitar 1.926,2 hektare.
Tim gabungan terus melakukan penanganan melalui operasi darat dan udara karena sebagian kebakaran terjadi di kawasan gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan.
Hotspot Tidak Sama dengan Jumlah Kebakaran
Angka 3.026 perlu dibaca sebagai jumlah deteksi titik panas, bukan berarti terdapat 3.026 lokasi kebakaran yang sudah dipastikan di lapangan.
Hotspot merupakan indikasi anomali panas yang dideteksi satelit. Satu lokasi kebakaran dapat menghasilkan lebih dari satu hotspot, sementara titik yang terdeteksi tetap membutuhkan verifikasi lapangan.
Perbedaan metode dan periode pemantauan juga dapat menghasilkan angka berbeda antar-dashboard.
Sebagai contoh, Kementerian Kehutanan sebelumnya mencatat 365 hotspot high confidence secara nasional hingga 28 September pukul 21.00 WIB. Data itu berbeda cakupan dan waktu dengan data BPBD Sumsel pada 30 September sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung.
Lonjakan Terjadi setelah Sempat Turun
Pergerakan hotspot Sumsel dalam beberapa hari terakhir cukup fluktuatif.
Data yang dikutip dari BPBD menunjukkan jumlah titik panas sempat turun pada 27–28 September, sebelum kembali melonjak pada 29 dan 30 September.
Laporan pada 29 September pagi mencatat 1.776 hotspot di Sumatera Selatan, dengan 1.290 di antaranya berada di lahan gambut. Mayoritas saat itu terkonsentrasi di OKI, Musi Banyuasin, dan Banyuasin.
Pembaruan berikutnya pada 30 September menunjukkan angka telah mencapai 3.026 hotspot dalam pemantauan 24 jam.











