BULATANTIMES.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian pemerintah di tengah musim kemarau yang berlangsung di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi kering membuat sejumlah titik kebakaran lebih sulit ditangani, sementara ketersediaan sumber air di beberapa lokasi mulai menjadi persoalan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat penanganan karhutla masih berlangsung melalui operasi darat dan udara. Salah satu tantangan yang dihadapi petugas adalah keterbatasan sumber air, selain angin kencang dan akses menuju lokasi kebakaran yang tidak selalu mudah.
Baca Juga: 335 Konsesi di Sumatra-Kalimantan Terindikasi Ada Titik Api
Sumber Air Jadi Kendala Pemadaman
Keterbatasan air menjadi masalah penting dalam pemadaman kebakaran hutan, terutama ketika api berada di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
BNPB melaporkan kondisi tersebut terjadi dalam penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Selatan, misalnya, operasi penanganan menghadapi sejumlah kendala, mulai dari angin kencang, akses menuju titik api yang sulit, hingga keterbatasan sumber air.
Sebagian titik api juga berada di wilayah pertambangan dan perkebunan yang tidak seluruhnya dapat dijangkau melalui operasi water bombing.
Kondisi ini membuat pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan satu metode. Tim di lapangan harus menggabungkan operasi darat dengan dukungan udara untuk menjangkau kawasan yang sulit didatangi.
Baca Juga: Modus Karhutla Riau: Pura-Pura Mancing Sebelum Pembakaran
Karhutla Terjadi di Sejumlah Daerah
Dalam laporan BNPB pada 24 Agustus 2026, karhutla masih ditemukan di sejumlah daerah. Salah satunya terjadi di Kota Batam, Kepulauan Riau, dengan luas lahan terbakar diperkirakan sekitar 35 hektare.
Kebakaran juga dilaporkan di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dengan luas sekitar lima hektare. Sementara di Nabire, Papua Tengah, kebakaran yang berlangsung sejak pertengahan Juli hingga 23 Agustus diperkirakan telah membakar sekitar 396,13 hektare lahan.
Untuk wilayah prioritas di Kalimantan, pemerintah terus mengerahkan operasi darat dan udara.
Di Kalimantan Barat, misalnya, operasi water bombing pada 23 Agustus dilakukan dengan empat unit helikopter. Dalam delapan sortie, tercatat 223 kali penjatuhan air dengan total sekitar 1,052 juta liter air.
Baca Juga: Istana Bantah Haji Isam Jadi Koordinator Utama Pemadaman Karhutla
Kalimantan Masih Jadi Wilayah Perhatian
Kondisi di Kalimantan menjadi salah satu perhatian utama karena sejumlah wilayah mengalami kondisi kering dan munculnya titik panas.
Data BNPB pada 20 Agustus menunjukkan satelit NOAA-20 mendeteksi 1.487 hotspot di Kalimantan. Konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah dengan 767 titik dan Kalimantan Barat sebanyak 560 titik.
Angka hotspot tersebut merupakan hasil pemantauan satelit dan tidak boleh langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran yang telah terverifikasi di lapangan.
Setiap indikasi titik panas tetap membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Musim Kemarau Membuat Risiko Meningkat
Faktor cuaca turut memperberat situasi. BMKG menyebut kondisi El Niño kategori sangat kuat dan IOD positif menjadi faktor yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia.
Dalam prakiraan periode 25-31 Agustus 2026, BMKG mencatat musim kemarau semakin meluas. Pada dasarian II Agustus, sekitar 79,9 persen wilayah Indonesia atau 559 Zona Musim telah memasuki musim kemarau.
Curah hujan yang rendah membuat kerentanan terhadap kekeringan dan karhutla meningkat di sejumlah wilayah. Meski demikian, BMKG masih memprakirakan adanya potensi hujan lokal di beberapa daerah.
Pemerintah Perkuat Operasi Darat dan Udara
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah tidak hanya mengandalkan pemadaman dari darat.
Operasi udara dengan helikopter water bombing terus dilakukan di sejumlah wilayah. Pemerintah juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan di kawasan yang membutuhkan.
BMKG bersama BNPB, TNI AU, OIKN, dan Pemerintah Kalimantan Timur, misalnya, menjalankan OMC pada Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya mengatasi defisit air sekaligus mengantisipasi karhutla.
Langkah tersebut menjadi penting karena pemadaman akan semakin sulit apabila kondisi lahan terus kering dan sumber air semakin terbatas.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Di tengah kondisi yang kering, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan.
BNPB mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas pembakaran di kawasan yang rawan terbakar. Jika menemukan kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Pencegahan menjadi sangat penting karena kebakaran kecil dapat berkembang menjadi lebih luas ketika didukung kondisi angin dan vegetasi yang kering.
Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Catatan redaksi: Istilah hotspot dalam artikel ini tidak disamakan dengan jumlah kebakaran terverifikasi. Data titik panas merupakan hasil pemantauan satelit dan tetap memerlukan verifikasi di lapangan.












