BULATANTIMES.COM — Istilah desil belakangan semakin sering muncul ketika masyarakat mengecek status bantuan sosial atau data kesejahteraan keluarga. Tidak sedikit warga yang bingung ketika kondisi ekonominya dirasa tidak berubah, tetapi angka desil dalam data justru berbeda.
Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan desil dan mengapa angka tersebut menjadi penting?
Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa desil merupakan pengelompokan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya. Dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), keluarga dibagi menjadi 10 kelompok dengan ukuran yang relatif sama.
Baca Juga: Cara Cek Desil Online DTSEN BPS 2026 Pakai NIK Tanpa Login
Artinya, desil bukan nominal penghasilan dan bukan pula label mutlak bahwa seseorang miskin atau kaya.
Desil 1 sampai 10 Artinya Apa?
Secara sederhana, semakin kecil angka desil, semakin rendah posisi relatif kesejahteraan keluarga dalam pemeringkatan DTSEN.
- Desil 1: kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah.
- Desil 2: kelompok berikutnya.
- Desil 3: kelompok ketiga.
- Desil 4: kelompok keempat.
- Desil 5: berada di sekitar kelompok tengah.
- Desil 6-9: kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif lebih tinggi.
- Desil 10: kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
BPS menegaskan setiap desil mencakup sekitar 10 persen keluarga dalam pemeringkatan. Karena sifatnya relatif, keluarga yang berada pada desil yang sama belum tentu memiliki pendapatan, pengeluaran, aset, atau kondisi kehidupan yang persis sama.
Baca Juga: Kuota BBM Subsidi 2027 Dipangkas, Pertalite Ikut Dikendalikan
Desil Bukan Hanya Berdasarkan Penghasilan
Salah satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul adalah anggapan bahwa desil ditentukan hanya dari jumlah penghasilan.
Padahal, BPS menyebut pemeringkatan DTSEN mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersama-sama.
Beberapa di antaranya mencakup kondisi tempat tinggal, sumber air minum, bahan bakar untuk memasak, kepemilikan aset, listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga kondisi disabilitas.
Data tersebut kemudian digunakan dalam pendekatan statistik Proxy Means Test (PMT) untuk memperkirakan posisi kesejahteraan relatif sebuah keluarga.
Karena menggunakan banyak variabel, perubahan satu kondisi saja tidak otomatis membuat sebuah keluarga langsung berpindah desil.
Mengapa Desil Penting untuk Bansos?
Desil menjadi penting karena pemerintah menggunakan DTSEN sebagai salah satu basis untuk menentukan sasaran dan prioritas berbagai program.
Namun, angka desil tidak boleh dipahami sebagai “daftar penerima bansos”.
BPS menegaskan bahwa desil merupakan alat pemeringkatan. Kementerian atau lembaga kemudian menggunakan informasi tersebut sesuai dengan kriteria masing-masing program.
Dengan demikian, seseorang berada di desil tertentu tidak otomatis berarti pasti menerima semua jenis bantuan pemerintah.
Setiap program tetap memiliki persyaratan dan mekanisme penetapan penerima masing-masing.
Mengapa Desil Bisa Berubah?
Desil bersifat dinamis.
BPS melakukan pemutakhiran DTSEN dengan memanfaatkan berbagai sumber data, termasuk data administrasi, sensus dan survei, pemutakhiran kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, serta pengecekan lapangan.
Posisi sebuah keluarga juga dapat berubah karena kondisi sosial ekonomi keluarga tersebut berubah atau karena posisi relatifnya dibandingkan keluarga lain mengalami perubahan.
Karena itu, angka desil yang tercatat hari ini tidak harus sama dengan angka pada periode sebelumnya.
Bagaimana Jika Data Desil Tidak Sesuai?
Masyarakat yang merasa informasi dalam DTSEN tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya dapat mengajukan pembaruan data melalui mekanisme yang tersedia.
BPS menyebut masyarakat dapat menggunakan kanal seperti Cek Bansos Kemensos, aplikasi Cek Bansos, SIKS-NG melalui operator desa atau kelurahan, maupun kanal Cek DTSEN.
Namun, pengajuan pembaruan tidak berarti desil langsung berubah.
Data yang disampaikan akan menjadi bagian dari proses pemutakhiran dan penghitungan kembali berdasarkan metode yang berlaku. (bps.go.id
Angka Desil Jangan Langsung Dianggap sebagai Label Kemiskinan
Hal yang paling penting adalah memahami bahwa desil merupakan posisi relatif, bukan ukuran tunggal kondisi ekonomi seseorang.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa angka desil tidak dapat digunakan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi keluarga.
Dengan kata lain, keluarga yang berada di desil 3 bukan berarti semua anggota keluarganya memiliki kondisi ekonomi yang sama dengan seluruh keluarga lain di desil 3.
Konsep ini penting agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa perubahan desil otomatis berarti kondisi ekonomi seseorang meningkat atau menurun secara drastis.
Kesimpulan
Desil DTSEN merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan keluarga yang dibagi menjadi 10 kelompok. Desil 1 menunjukkan kelompok dengan kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan posisi relatif paling tinggi.
Angka tersebut dihitung dengan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi, bukan hanya penghasilan.
Desil kemudian menjadi salah satu informasi yang digunakan pemerintah dalam menentukan sasaran program, termasuk bantuan sosial. Namun, desil bukan jaminan seseorang pasti menerima bansos tertentu karena setiap program memiliki kriteria masing-masing.
Bagi masyarakat yang menemukan data tidak sesuai, tersedia mekanisme pembaruan melalui kanal resmi. Pemutakhiran diperlukan agar DTSEN semakin mencerminkan kondisi masyarakat di lapangan.
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kompas.com.












