DOHA, BULATAN TIMES – Delegasi Iran dan mediator Qatar melanjutkan perundingan di Doha pada Minggu (1/11/2026), memasuki hari ketiga upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu pembahasan utama, tetapi belum menghasilkan kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan konsultasi dengan Qatar terus berlangsung, termasuk mengenai usulan mempercepat pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut apabila Washington memenuhi persyaratan yang diajukan Teheran.
Rangkaian pembicaraan dimulai ketika pejabat Qatar mengunjungi Teheran pada Jumat (30/10/2026). Pertemuan kemudian berlanjut di Doha pada Sabtu dan Minggu melalui delegasi Iran serta mediator Qatar.
Kontak dengan Amerika Serikat dilakukan melalui perantara, tanpa pertemuan langsung antara delegasi Iran dan AS.
Iran Tawarkan Pembukaan Selat Hormuz dalam Dua Hari
Araghchi menjelaskan bahwa Iran telah membahas rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dengan mediator Qatar.
Rencana awal yang membutuhkan waktu tujuh hari ditawarkan untuk dipercepat menjadi dua hari, mengikuti usulan Qatar. Namun, pelaksanaannya bergantung pada tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Persyaratan yang diajukan Iran mencakup pencabutan sejumlah sanksi, penghentian pembatasan terhadap pengiriman minyak Iran, serta pemulihan akses terhadap aset negara tersebut.
Teheran juga menginginkan pengaturan jalur pelayaran yang dapat digunakan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Araghchi menyatakan pembahasan mengenai skema tersebut belum mencapai keputusan akhir karena Iran masih menunggu jawaban Washington atas sejumlah persoalan yang diajukan.
Dengan demikian, target pembukaan dalam dua hari masih merupakan bagian dari proposal diplomatik, bukan jadwal operasional yang sudah disepakati.
Baca Juga: Sanksi AS Mulai Berdampak, Penerbangan Iran ke Irak dan Oman Dibatalkan
Qatar Dorong Kebebasan Pelayaran di Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi perhatian dalam perundingan karena merupakan jalur penting pengangkutan minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Gangguan pelayaran di kawasan tersebut telah memengaruhi pengiriman energi selama konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kementerian Luar Negeri Qatar sebelumnya menegaskan perlunya pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Direktur Departemen Media dan Komunikasi Kementerian Luar Negeri Qatar, Ibrahim bin Sultan Al Hashemi, pada 27 Oktober meminta Iran menunjukkan itikad baik dengan menghentikan ancaman terhadap negara-negara Teluk dan menjamin keamanan pelayaran.
Qatar juga terus berkoordinasi dengan Pakistan serta mitra regional lainnya untuk mempertemukan kepentingan Washington dan Teheran.
Sebelum perundingan terbaru di Doha, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani telah bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Moskow pada 27 Oktober. Pertemuan itu turut membahas perkembangan negosiasi, Selat Hormuz, dan pasokan energi.
Iran dan AS Belum Menggelar Perundingan Langsung
Araghchi menegaskan bahwa kunjungan delegasi Iran ke Qatar bertujuan melanjutkan konsultasi dengan mediator, bukan melakukan pertemuan langsung dengan pejabat Amerika Serikat.
Qatar bertindak sebagai penghubung penyampaian pesan dan proposal antara kedua pihak.
Dari Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pemerintahan Presiden Donald Trump masih membuka peluang penyelesaian diplomatik.
Rubio mengatakan Trump belum mengambil keputusan mengenai kemungkinan serangan militer baru terhadap Iran.
Sementara itu, Iran menyatakan tetap mempersiapkan pertahanan militernya di tengah berlangsungnya pembicaraan. Araghchi menegaskan kesiapan negaranya untuk menghadapi kemungkinan eskalasi sekaligus mempertahankan jalur diplomasi.
Baca Juga: AS Kaitkan Citra Satelit China dengan Serangan Iran ke Pangkalan di Yordania
Perundingan Berlangsung Menjelang Pemilu AS
Perundingan terbaru berlangsung menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026.
Trump menyatakan tidak akan melancarkan serangan baru terhadap Iran sebelum pemungutan suara tersebut. Namun, ia belum menutup kemungkinan tindakan militer setelahnya.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak Februari 2026 telah mengganggu perdagangan energi serta meningkatkan ketegangan keamanan di Timur Tengah.
Dalam pembicaraan yang berlangsung hingga Minggu, Iran masih mempertahankan persyaratan bagi pembukaan Selat Hormuz, sedangkan Qatar berupaya memperoleh kesepakatan yang dapat diterima Washington dan Teheran.
Belum ada pengumuman bersama mengenai jadwal pembukaan kembali jalur pelayaran atau penyelesaian akhir konflik tersebut.





