BULATAN TIMES – Obsidia merupakan hero Marksman dalam Mobile Legends: Bang Bang yang dikenal sebagai Sovereign of Dark’s End. Ia adalah penguasa pertama Abyss yang bangkit kembali setelah mengalami kematian dalam pertempuran melawan kekuatan dewa.
Di balik kemampuan mengendalikan Bone Shard, Obsidia memiliki kisah tentang perjuangan mempertahankan bangsanya, kekuasaan yang membawa kehancuran, dan pengkhianatan God of Darkness.
Obsidia diperkenalkan oleh MOONTON Games pada 17 September 2025 melalui pembaruan Project NEXT. Dalam cerita Land of Dawn, kemunculannya membawa ancaman baru bagi makhluk-makhluk yang selama ini menguasai Abyss.
Obsidia Mendirikan Kerajaan Abyss
Jauh sebelum dikenal sebagai penguasa Abyss, Obsidia hidup di tengah bangsa yang terdesak dan kesulitan mempertahankan kehidupannya.
Pada masa itu, bangsa Elf menguasai dataran luas di bagian tengah, sementara bangsa Orc menempati padang rumput di wilayah barat.
Kelompok-kelompok lain yang lebih lemah terpaksa bertahan di kawasan bawah tanah bagian selatan. Wilayah tersebut memiliki sumber daya terbatas, sehingga persaingan untuk memperoleh tempat hidup berlangsung sangat keras.
Obsidia merupakan bagian dari masyarakat yang menghadapi ancaman tersebut.
Ketika bangsanya hampir mengalami kepunahan, God of Darkness menawarkan kekuatan yang dapat digunakan Obsidia untuk membangun sebuah kerajaan.
Obsidia menerima tawaran itu. Kekuatan gelap kemudian mengubah tubuh dan pikirannya, memberinya kemampuan serta pengetahuan yang jauh melampaui kekuatan sebelumnya.
Dengan kekuatan tersebut, Obsidia berhasil mengalahkan kelompok yang selama ini menindas bangsanya.
Ia menyatukan wilayah bawah tanah dan memaksa kelompok-kelompok yang menentangnya untuk tunduk. Mereka yang menerima kekuasaannya memperoleh perlindungan dan kekuatan, sedangkan para pemberontak menghadapi hukuman berat.
Obsidia kemudian menamai kerajaannya Abyss dan menempatkan dirinya sebagai satu-satunya penguasa.
God of Darkness Mengkhianati Obsidia
Kekuasaan Obsidia tidak berlangsung seperti yang dijanjikan God of Darkness.
Dewa yang memberinya kekuatan ternyata menggunakan Abyss sebagai sumber pasukan dalam peperangan antara kekuatan cahaya dan kegelapan.
Penduduk Abyss dipaksa bertempur dalam konflik yang tidak berakhir. Sebagian besar kehilangan nyawa, sementara mereka yang masih hidup harus menghadapi perubahan mengerikan.
Makhluk-makhluk yang menerima kekuatan gelap mulai kehilangan akal, kehendak, dan kemampuan menentukan nasibnya sendiri.
Mereka berubah menjadi pasukan yang bergerak mengikuti keinginan God of Darkness. Bahkan Obsidia merasakan pengaruh kekuatan tersebut mulai mengganggu pikirannya.
Rakyat yang dahulu ingin diselamatkannya justru menjadi korban dari kekuatan yang telah membangun kerajaannya.
Obsidia pun menyadari bahwa dirinya tidak lagi memiliki kendali penuh atas Abyss.
God of Darkness telah mengubah wilayah tersebut menjadi tempat untuk menciptakan dan mengirimkan pasukan dalam peperangan para dewa.
Obsidia Melawan God of Darkness hingga Terluka Parah
Obsidia akhirnya memilih menentang God of Darkness meskipun kekuatannya sendiri berasal dari dewa tersebut.
Ketika God of Darkness sedang berperang melawan God of Light, Obsidia melancarkan serangan besar yang berhasil melukainya.
Namun, Obsidia juga mengalami luka yang mengancam nyawanya.
Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh para makhluk Abyss yang sebelumnya tunduk kepada kekuasaannya. Mereka bangkit memberontak dan menyerbu kawasan istana.
Obsidia tidak lagi mampu mempertahankan takhtanya seperti dahulu.
Dalam keadaan menjelang kematian, ia membiarkan makhluk-makhluk Abyss mengambil darah serta sebagian kekuatannya.
Darah penguasa pertama tersebut kemudian menyatu dengan para iblis dan menjadi bagian dari kekuatan yang diwariskan di Abyss.
Obsidia akhirnya memasuki tidur panjang setelah kematiannya. Sisa-sisa tubuhnya disegel di kawasan istana, sementara makhluk-makhluk Abyss melanjutkan perebutan kekuasaan tanpa kehadiran sang penguasa pertama.
Baca Juga: Build Obsidia Tersakit 2026, Item dan Emblem
Kebangkitan Obsidia dan Hubungannya dengan Selena
Obsidia tidak pernah menyangka dirinya akan kembali hidup.
Namun, sisa kekuatan God of Darkness yang masih berada di sekitar istana tempat tubuhnya disegel perlahan membangkitkannya dari tidur panjang.
Ketika kembali, Obsidia menemukan bahwa Abyss telah mengalami perubahan. Keturunan makhluk yang memperoleh darah dan kekuatannya terus bersaing untuk mendapatkan kekuasaan.
Obsidia juga mengetahui keberadaan Selena, seorang Dark Elf yang telah menjadi bagian dari rencana God of Darkness.
Melihat Selena, Obsidia teringat pada dirinya sendiri ketika masih muda. Keduanya pernah berada dalam keadaan ketika tawaran kekuatan besar dapat membawa seseorang kehilangan kebebasannya.
Namun, cerita Obsidia tidak menggambarkan keduanya sebagai sahabat atau sekutu yang telah membentuk kerja sama.
Selain Selena, Abyss dihuni tokoh lain seperti Alice, Thamuz, dan Dyrroth. Ketiganya berkaitan dengan perebutan kekuatan di wilayah tersebut dan turut diperkenalkan dengan penampilan baru ketika Obsidia hadir dalam Project NEXT 2025.
Mengapa Obsidia Memburu Spawns of Decay?
Salah satu ancaman yang dihadapi Obsidia setelah kebangkitannya adalah Spawns of Decay.
Makhluk-makhluk tersebut berasal dari pengaruh kekuatan gelap yang memanfaatkan darah Obsidia sebagai sumber kekuatan.
God of Darkness menggunakan darah yang dahulu dirampas dari Obsidia untuk memperkuat para iblis. Namun, proses tersebut merusak tubuh serta menghilangkan kehendak mereka.
Spawns of Decay tidak lagi mampu menentukan tindakan sendiri. Mereka berubah menjadi makhluk yang bergerak mengikuti dorongan kekuatan gelap.
Obsidia memburu makhluk-makhluk tersebut di kedalaman Abyss. Dalam perburuan itu, ia menggunakan senjata yang terbentuk dari tulang dan pecahan tajam yang mengikuti setiap serangannya.
Kekuatan tersebut berkaitan dengan kemampuan Bone Shard miliknya dalam permainan Mobile Legends, yang membuat serangan dasarnya semakin berbahaya ketika pecahan tulang telah terkumpul.
Baca Juga: Asal Usul Vexana di Mobile Legends
Obsidia menyadari bahwa mengalahkan para iblis saja tidak cukup untuk mengakhiri pengaruh God of Darkness di Abyss.
Ia bertekad memburu seluruh Spawns of Decay dan mempersiapkan jebakan untuk menghadapi dewa yang dahulu memberinya kekuatan. Target utamanya adalah membunuh God of Darkness dan merebut kembali kendali atas Abyss.





