LAMPUNG SELATAN, BULATAN TIMES – Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada Jumat (30/10/2026) pukul 01.40 WIB. Dalam enam jam pengamatan, petugas juga merekam puluhan gempa vulkanik, termasuk 35 kali gempa hybrid.
Letusan tersebut tercatat pada seismograf dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan berlangsung sekitar 19 detik. Namun, tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati secara visual.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengonfirmasi aktivitas erupsi dan kegempaan tersebut. Pemantauan gunung api tetap dilakukan melalui peralatan seismik meskipun kondisi visual tidak selalu memungkinkan pengamatan langsung.
Sebanyak 35 Gempa Hybrid Terekam dalam Enam Jam
Berdasarkan laporan pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas kegempaan Anak Krakatau tercatat cukup beragam pada Jumat pukul 00.00-06.00 WIB.
Dalam periode tersebut, sebanyak 35 gempa hybrid atau fase banyak terekam dengan amplitudo 9-51 milimeter.
Petugas juga mencatat enam gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 8-51 milimeter, tiga gempa vulkanik dangkal, dan dua gempa vulkanik dalam.
Selain itu, terdeteksi satu gempa letusan serta tremor menerus dengan amplitudo 1-12 milimeter. Amplitudo dominan tremor tercatat sebesar 3 milimeter.
Angka 35 merujuk secara khusus pada gempa hybrid, bukan jumlah keseluruhan aktivitas kegempaan yang terdeteksi selama enam jam tersebut.
Baca Juga: PVMBG Catat 26 Gempa Letusan Anak Krakatau dalam Sehari, Status Masih Siaga
Asap Kawah Terlihat hingga 100 Meter
Pengamatan visual menunjukkan asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai sedang.
Asap tersebut terlihat mencapai ketinggian sekitar 50-100 meter dari puncak gunung. Ketinggian ini merupakan hasil pengamatan asap kawah, bukan tinggi kolom letusan pukul 01.40 WIB yang tidak teramati.
Kondisi gunung sempat terlihat jelas sebelum tertutup kabut. Selama periode pengamatan, tidak terdengar suara dentuman.
Cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan dengan angin lemah yang bertiup ke arah barat laut.
Anak Krakatau Masih Siaga, Radius 5 Kilometer Dilarang Dimasuki
Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan memasuki maupun melakukan kegiatan dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Larangan juga berlaku dalam radius 1 kilometer dari pulau-pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Anak Krakatau.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak material panas dengan air laut atau air hujan.
Status Siaga sebelumnya kembali diberlakukan pada 9 Oktober 2026 setelah aktivitas gunung meningkat. Pembatasan radius 5 kilometer telah berlaku sebelum erupsi Jumat dini hari.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Kembali Siaga, Warga Dilarang Mendekat dalam Radius 5 Km
PVMBG mengimbau masyarakat di pesisir Lampung dan Banten tetap tenang serta tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama kabar yang mengaitkan setiap erupsi Anak Krakatau dengan kepastian terjadinya tsunami.
Masyarakat dapat menjalankan kegiatan di luar kawasan terlarang dengan tetap memperhatikan arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan perkembangan aktivitas gunung melalui MAGMA Indonesia.





