Bulatan Times – Israel dituding merancang insiden penerbangan Flydubai FZ1073 sebagai operasi false flag yang kemudian akan dikaitkan dengan Iran. Tuduhan tersebut diarahkan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tetapi hingga kini belum didukung temuan resmi dari penyelidikan Uni Emirat Arab.
Tudingan itu berasal dari laporan Press TV yang mengutip seorang sumber regional anonim. Sumber tersebut mengeklaim insiden Flydubai dirancang untuk mendorong Amerika Serikat masuk ke konflik baru dengan Iran. Press TV tidak mengungkap identitas sumber maupun menyajikan bukti independen untuk mendukung tuduhan tersebut.
Istilah false flag merujuk pada operasi yang dibuat agar tanggung jawabnya tampak berasal dari pihak lain. Dalam tuduhan yang beredar, insiden pesawat disebut akan digunakan untuk mengarahkan kecurigaan kepada Iran.
Investigasi resmi UEA hingga Jumat, 2 Oktober 2026, masih berjalan. General Civil Aviation Authority (GCAA) menyatakan tidak akan mengomentari klaim yang beredar apabila dapat mendahului hasil penyelidikan atau memengaruhi proses pemeriksaan.
Baca Juga: UEA Selidiki Dugaan Unsur Teror dalam Insiden Flydubai FZ1073
Kunjungan Netanyahu ke UEA Terjadi Tiga Hari Sebelum Insiden
Salah satu bagian dari tuduhan tersebut mengaitkan insiden Flydubai dengan kunjungan Netanyahu ke Uni Emirat Arab beberapa hari sebelumnya.
Kunjungan itu memang terjadi. Emirates News Agency (WAM) mengonfirmasi Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan menerima Netanyahu yang berkunjung pada Minggu, 27 September 2026. Pertemuan resmi disebut membahas hubungan bilateral serta upaya memperkuat hubungan UEA dan Israel.
Namun, keterangan resmi UEA tidak menyebut adanya pembahasan mengenai Flydubai, Iran, maupun rencana operasi keamanan seperti yang dituduhkan sumber anonim tersebut.
Karena itu, keberadaan Netanyahu di UEA merupakan fakta yang terverifikasi, sedangkan klaim bahwa kunjungan itu digunakan untuk merencanakan insiden FZ1073 belum dibuktikan.
Baca Juga: Delegasi Walkout Saat Netanyahu Pidato di PBB, Gaza hingga Iran Jadi Sorotan
Penyelidikan Belum Menetapkan Kaitan Israel atau Iran
FZ1073 terbang dari Dubai menuju Tel Aviv pada 30 September 2026 sebelum mengalami insiden di kokpit. Kopilot menyerang kapten dan pesawat sempat kehilangan ketinggian dengan cepat sebelum penumpang serta awak lain berhasil mengendalikan situasi. Pesawat kemudian mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi.
UEA membentuk tim investigasi untuk mencari motif kejadian dan memeriksa kemungkinan adanya aktivitas teror, perencanaan sebelumnya, atau pihak lain yang terlibat.
Di sisi lain, dua pejabat keamanan Israel yang dikutip Reuters menyebut penilaian awal mereka mengarah pada kemungkinan kopilot bertindak sendiri. Penyelidikan ketika pernyataan itu disampaikan masih berlangsung dan motif final belum ditentukan.
Netanyahu sendiri menyatakan kopilot diduga mengalami radikalisasi Islamis dan kemungkinan berniat menjatuhkan pesawat. Ia juga mengakui belum membuat kesimpulan akhir mengenai motif kejadian.
Sampai pembaruan resmi terbaru, belum ada hasil investigasi yang menyatakan Iran merencanakan insiden tersebut. Belum ada pula temuan resmi UEA yang menyatakan Israel berada di balik kejadian FZ1073.
GCAA Minta Publik Menunggu Hasil Investigasi
GCAA pada 2 Oktober menyatakan kapten Flydubai Smit Machchhar telah kembali ke UEA dalam kondisi baik dan masih mendapatkan perawatan medis.
Otoritas penerbangan UEA juga menegaskan penyelidikan dilakukan bersama lembaga terkait di tingkat regional dan internasional dengan menjaga kerahasiaan serta integritas proses pemeriksaan.
GCAA meminta masyarakat mengandalkan informasi dari sumber resmi dan tidak menyebarkan spekulasi yang belum terverifikasi. Hasil penyelidikan akan diumumkan setelah seluruh prosedur pemeriksaan selesai.










