Bulatan Times – Analis memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak variatif pada perdagangan Selasa (27/10). Sehari sebelumnya, Senin (26/10), IHSG melemah 66,16 poin atau 1,22 persen hingga mencapai level 5.373,09.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai IHSG sedang membentuk pola pembalikan arah (rebound) yang berkelanjutan, tetapi masih berpotensi terkoreksi selama proses pemulihan.
“Berdasarkan indikator teknikal, sinyal Stochastics K_D menunjukkan arah positif, walaupun sinyal RSI berada di area negatif dan volume transaksi mengalami penurunan,” kata Nafan dalam keterangan resminya, Selasa (27/10).
Nafan memperkirakan support IHSG berada di 5.246 dan 5.111, sedangkan resistance di 5.455 dan 5.597.
Pasar Menanti The Fed
Dari sisi global, pelaku pasar akan mencermati keputusan suku bunga The Fed pekan ini. Mayoritas memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75-4,00 persen, setelah menaikkannya 25 basis poin pada September.
Baca juga: Apa Itu Saham HSC? BEI Akan Keluarkan 80 Saham dari Hitungan IHSG
Menurut Nafan, keputusan menahan suku bunga belum tentu menjadi sinyal pelonggaran. Inflasi AS pada September tercatat 3,7 persen secara tahunan, jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen. Kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik juga berpotensi menambah tekanan inflasi.
Karena itu, investor tidak hanya mencermati keputusan Oktober, tetapi juga sinyal arah kebijakan berikutnya, termasuk kemungkinan perubahan suku bunga pada Desember 2026.
Laporan keuangan perusahaan besar AS juga berpotensi menggerakkan pasar saham global. Microsoft dan Alphabet akan merilis laporan pada Rabu (28/10), kemudian Amazon menyusul pada Kamis (29/10).
Kinerja ketiganya akan memberi gambaran pertumbuhan bisnis kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan (cloud computing).
Laporan Bank dan Status MSCI
Di dalam negeri, investor menunggu laporan keuangan emiten perbankan. Bank Mandiri (BMRI) diperkirakan merilis laporan kinerja keuangan pada Selasa (27/10), kemudian Bank Syariah Indonesia (BRIS) pada Kamis (29/10), serta BRI (BBRI), BTN (BBTN), dan Bank Danamon (BDMN) pada Jumat (30/10).
Laporan yang menunjukkan pertumbuhan laba berkualitas dan pengelolaan risiko yang baik berpotensi menjadi katalis positif bagi saham bank terkait.
Sentimen lain adalah reformasi pasar modal, terutama setelah usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Isu itu masih membayangi kepercayaan investor.
Di sisi lain, upaya Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat pengawasan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dan meningkatkan transparansi perdagangan berpotensi mendukung pemulihan pasar.
FTSE Russell juga masih mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market, yang dapat menopang kepercayaan di tengah ketidakpastian status.
Nafan menilai pelaksanaan reformasi regulasi dan transparansi transaksi yang konsisten dan kredibel penting untuk meredam risiko arus keluar modal (capital outflow) serta memulihkan kepercayaan investor jangka panjang.
Sementara itu, MNC Sekuritas mencatat IHSG melemah 1,22 persen ke level 5.373 pada Senin (26/10) akibat tekanan jual. MNC Sekuritas menilai pelemahan tersebut telah mencapai area koreksi yang mereka perkirakan sebelumnya.
Dalam jangka pendek, koreksi IHSG diperkirakan masih berlanjut ke rentang 5.181-5.325. Secara teknikal, MNC Sekuritas menilai IHSG masih berada pada fase wave (iv) dari wave [v].
Meski begitu, peluang penguatan tetap terbuka. IHSG berpotensi bergerak menuju area 5.460-5.651 bila mampu melanjutkan pemulihan.





