Bulatan Times – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memasuki perdagangan Rabu (23/9/2026) dalam tekanan setelah melemah pada sesi sebelumnya.
Pada penutupan perdagangan Selasa, rupiah berada di Rp17.884 per dolar AS, turun 37 poin atau sekitar 0,21 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama tercatat Rp17.883 per dolar AS.
Perhatian pasar hari ini terutama tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung 22–23 September 2026.
Keputusan suku bunga dan pesan BI mengenai stabilitas rupiah akan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar setelah mata uang Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa sesi terakhir.
Baca Juga: Kurs Rupiah dan Harga Emas Antam Awal Pekan Ini
Rupiah ditutup Rp17.884 per dolar AS sehari sebelumnya
Rupiah menutup perdagangan Selasa di level Rp17.884 per dolar AS.
Posisi tersebut mencerminkan pelemahan 37 poin atau sekitar 0,21 persen. Pergerakan mata uang Asia pada sesi yang sama berlangsung bervariasi, dengan yen Jepang, baht Thailand, yuan China, dan dolar Singapura turut melemah terhadap dolar AS.
Sementara itu, JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.883 per dolar AS.
JISDOR melemah sekitar 0,39 persen dibandingkan posisi Senin (21/9) yang berada di Rp17.813 per dolar AS.
Kedua angka tersebut sangat berdekatan, tetapi mempunyai fungsi berbeda.
Harga pasar spot menggambarkan transaksi rupiah di pasar valuta asing, sedangkan JISDOR merupakan kurs referensi yang diterbitkan Bank Indonesia.
Pasar menunggu keputusan BI Rate
Faktor domestik yang menjadi perhatian utama pada Rabu adalah RDG Bank Indonesia.
Survei BIG Consensus Insights yang dikutip Bisnis.com menunjukkan 12 dari 14 ekonom atau sekitar 85,71 persen responden memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen. Dua ekonom lainnya melihat ruang kenaikan 25 basis poin menjadi 6 persen.
Angka tersebut merupakan perkiraan ekonom, bukan keputusan BI.
Karena RDG belum mengumumkan hasil pada saat naskah ini disusun, artikel ini tidak menyatakan BI Rate telah dipertahankan atau dinaikkan.
Pasar juga akan memperhatikan komunikasi Bank Indonesia mengenai stabilisasi nilai tukar setelah rupiah bergerak mendekati level psikologis Rp17.900 per dolar AS.
Baca Juga: BI Checking Ganti SLIK OJK, Begini Cara Cek Utang Online
Tekanan eksternal masih membayangi rupiah
Pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik.
Ekspektasi mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat masih menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar valuta asing.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai penguatan indeks dolar AS sebelumnya berkaitan dengan ekspektasi bahwa kebijakan moneter Federal Reserve akan tetap ketat.
Ekspektasi suku bunga AS yang tinggi dalam waktu lebih lama dapat membuat aset berbasis dolar relatif lebih menarik.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga sebelumnya ikut menjadi faktor yang menekan rupiah. Pada perdagangan Senin (21/9), rupiah melemah ketika yield obligasi AS mengalami kenaikan.
Harga minyak menjadi faktor yang perlu diperhatikan
Pergerakan harga minyak dunia juga relevan bagi rupiah.
Indonesia masih membutuhkan impor minyak dan produk energi sehingga kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing.
Pada perdagangan akhir pekan sebelumnya, analis Bank Woori Saudara Rully Nova juga mengaitkan tekanan terhadap rupiah dengan risiko harga minyak yang masih berada di level tinggi.
Namun, hubungan tersebut tidak berarti perubahan harga minyak otomatis menghasilkan perubahan rupiah dalam besaran tertentu.
Nilai tukar bergerak berdasarkan banyak faktor sekaligus, termasuk arus modal, permintaan dolar domestik, kebijakan bank sentral, sentimen global, dan kondisi geopolitik.
Rupiah sudah tertekan dalam beberapa sesi
Tekanan terhadap rupiah tidak muncul hanya dalam satu hari.
Pada Jumat (18/9), rupiah ditutup di Rp17.758 per dolar AS. Kemudian pada Senin (21/9), rupiah berakhir di Rp17.847 per dolar AS.
Selasa (22/9), mata uang Indonesia kembali melemah hingga Rp17.884 per dolar AS.
Sementara JISDOR bergerak dari Rp17.813 pada Senin menjadi Rp17.883 pada Selasa.
Rangkaian angka tersebut memperlihatkan tekanan rupiah menjelang keputusan Bank Indonesia.
Meski demikian, pergerakan satu atau beberapa hari belum cukup untuk menentukan arah rupiah dalam jangka lebih panjang.
Rupiah diperkirakan bergerak di Rp17.880-Rp17.930
Untuk perdagangan Rabu, analis memperkirakan rupiah masih bergerak dalam rentang yang relatif sempit.
Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kisaran sekitar Rp17.880 hingga Rp17.930 per dolar AS.
Rentang tersebut adalah proyeksi, bukan kurs resmi atau angka transaksi yang sudah terjadi.
Pergerakan aktual tetap dapat keluar dari kisaran tersebut jika muncul perubahan sentimen pasar, keputusan BI yang berbeda dari ekspektasi, atau perkembangan global yang signifikan.
Karena itu, angka proyeksi sebaiknya tidak digunakan sebagai pengganti kurs aktual ketika melakukan transaksi valuta asing.
Kurs spot, JISDOR, dan kurs bank berbeda
Pembaca juga perlu membedakan beberapa jenis angka yang sering disebut sebagai kurs rupiah hari ini.
Kurs spot merupakan harga rupiah yang terbentuk melalui perdagangan di pasar valuta asing.
JISDOR adalah kurs referensi dolar AS terhadap rupiah yang diterbitkan Bank Indonesia.
Sementara kurs bank merupakan harga beli dan jual valuta asing yang ditetapkan masing-masing bank untuk transaksi nasabah.
Karena mekanismenya berbeda, angka pada ketiganya tidak harus sama.
Kurs dolar di bank juga biasanya memiliki dua angka: kurs beli dan kurs jual. Selisih antara keduanya merupakan spread transaksi.
Jangan menggunakan JISDOR sebagai kurs transaksi tunai
JISDOR sering menjadi referensi untuk membaca posisi rupiah, tetapi bukan berarti masyarakat dapat membeli atau menjual dolar tepat pada angka tersebut.
Jika seseorang hendak membeli dolar melalui bank atau money changer, harga yang berlaku adalah kurs jual penyedia layanan tersebut.
Sebaliknya, ketika menjual dolar kepada bank atau money changer, yang digunakan adalah kurs beli.
Kurs juga dapat berbeda berdasarkan jenis transaksi, seperti e-rate, transfer, TT counter, maupun uang kertas.
Karena itu, orang yang membutuhkan dolar untuk perjalanan, pembayaran, atau transaksi bisnis sebaiknya memeriksa kurs aktual pada penyedia layanan yang digunakan.
Keputusan BI menjadi perhatian utama hari ini
Arah rupiah pada 23 September akan sangat dipengaruhi respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia dan perkembangan eksternal.
Pasar saat ini lebih banyak memperkirakan BI Rate bertahan di 5,75 persen, tetapi keputusan resminya tetap harus menunggu pengumuman Bank Indonesia.
Untuk sementara, posisi terakhir yang dapat dijadikan pijakan adalah penutupan spot Selasa di Rp17.884 per dolar AS dan JISDOR Rp17.883.
Angka perdagangan Rabu dapat berubah sepanjang sesi. Karena itu, pembaca yang membutuhkan kurs untuk transaksi sebaiknya memeriksa pembaruan terbaru dari Bank Indonesia atau bank yang digunakan, bukan hanya mengandalkan angka dalam artikel berita.











