Bulatan Times – Marc Marquez memasuki fase penentuan perebutan gelar MotoGP 2026 dengan persaingan yang kembali ketat. Setelah sempat mengambil alih puncak klasemen di Misano, pembalap Ducati Lenovo itu meninggalkan Austria dalam posisi kedua.
Meski situasi berubah hanya dalam satu akhir pekan, Marquez tetap melihat dua faktor sebagai modal terbesarnya menghadapi tujuh seri terakhir musim ini: motor Ducati dan tim yang bekerja bersamanya.
Ketika ditanya mengenai kekuatan utamanya dalam perburuan gelar, Marquez memberikan jawaban singkat.
“My bike and my team,” kata Marquez, dikutip dari Crash, Senin (21/9/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah musim yang memperlihatkan perubahan besar dalam posisi Marquez di klasemen. Ia pernah tertinggal 102 poin, kemudian memangkas seluruh jarak itu hingga mengambil alih posisi teratas.
Baca Juga: Rem Bermasalah, Marc Marquez Nyaris Gagal Finis di MotoGP Austria 2026
Marquez sempat mengejar defisit 102 poin
Perjalanan Marquez menuju persaingan gelar musim ini tidak berjalan lurus.
Tujuh putaran sebelum kemenangan di Misano, ia masih tertinggal 102 poin dari pemimpin klasemen. Rangkaian hasil berikutnya kemudian membuat selisih tersebut terus mengecil.
Momentum mencapai titik penting pada GP San Marino. Marquez meraih kemenangan di Misano dan menyamai perolehan poin Jorge Martin di puncak klasemen, dengan jumlah kemenangan yang menempatkannya di depan.
Misano juga menjadi akhir pekan kuat bagi Marquez. Ia memenangi Sprint sebelum kembali meraih hasil maksimal pada Grand Prix.
Namun, situasi berubah ketika kejuaraan berlanjut ke Red Bull Ring.
Baca Juga: Marc Marquez Balikkan Defisit 102 Poin, Peluang Juara MotoGP 2026 Terbuka
Austria menghentikan momentum Marquez
Marquez dan Martin tiba di Austria dengan jumlah poin sama. Red Bull Ring kemudian memberikan tantangan berbeda bagi Ducati.
Pada Sprint, Marquez finis kedua di belakang Martin. Hasil tersebut membuat pembalap Aprilia kembali mengambil alih puncak klasemen.
Situasinya menjadi lebih sulit pada balapan utama.
Marquez hanya mampu finis kelima setelah mengalami masalah pada sistem pengereman Ducati. Ia memilih membawa pulang poin daripada memaksakan diri mengejar hasil yang berisiko lebih besar.
Hasil akhir pekan tersebut membuat Marquez kini tertinggal 12 poin dari Martin.
Ban khusus Austria juga menjadi kendala
Kesulitan Ducati di Red Bull Ring sudah terlihat sebelum Grand Prix berlangsung.
Marquez menilai karakter ban belakang Michelin yang digunakan di Austria menjadi salah satu penyebab dirinya kehilangan performa dibandingkan Aprilia dan KTM.
Setelah meraih kemenangan beruntun di Aragon dan Misano, Ducati tidak mampu menunjukkan keunggulan yang sama di Spielberg. Marquez mengatakan masalah utamanya berkaitan dengan casing ban belakang khusus yang digunakan pada sirkuit tersebut.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa persaingan gelar tidak hanya bergantung pada kecepatan pembalap.
Karakter sirkuit, ban, performa motor, serta kemampuan tim mencari solusi sepanjang akhir pekan dapat mengubah posisi klasemen dalam waktu singkat.
Dalam konteks itulah jawaban Marquez mengenai motor dan tim menjadi relevan.
Ducati tetap menjadi modal Marquez
Hasil Austria memang tidak ideal, tetapi satu akhir pekan sulit tidak serta-merta mengubah penilaian Marquez terhadap paket yang dimilikinya.
Ducati memberinya motor yang memungkinkan mengejar defisit lebih dari 100 poin sepanjang musim.
Marquez juga mempunyai dukungan tim pabrikan yang dapat bekerja langsung dalam pengembangan dan penyesuaian motor selama akhir pekan Grand Prix.
Pada fase akhir kejuaraan, konsistensi paket tersebut dapat menjadi sama pentingnya dengan kemenangan.
Ketika kondisi tidak memungkinkan untuk menang, kemampuan mengamankan poin menjadi bagian dari strategi perebutan gelar. Sikap itu terlihat di Austria ketika Marquez menerima posisi kelima setelah menghadapi masalah pada motornya.
Jorge Martin kembali menjadi pembalap yang harus dikejar
Jorge Martin menjadi rival terdekat Marquez setelah Austria.
Pembalap Aprilia menunjukkan kemampuan membalik situasi pada Sprint Red Bull Ring. Martin sempat turun hingga posisi kedelapan pada lap pertama sebelum bangkit dan memenangkan balapan.
Pada Grand Prix, Martin kembali memperoleh hasil yang memperkuat posisinya di klasemen.
Dengan tujuh seri tersisa, jarak 12 poin membuat persaingan Marquez dan Martin masih terbuka.
Namun, keduanya bukan satu-satunya pembalap yang masih mempunyai peluang matematis.
Marquez juga mewaspadai Acosta
Pedro Acosta kembali masuk dalam pembicaraan setelah meraih kemenangan MotoGP pertamanya di Austria.
Pembalap KTM tersebut kini berada 72 poin di belakang Martin dengan 259 poin yang masih tersedia dalam tujuh putaran tersisa, dengan catatan jumlah poin tersebut masih bergantung pada perkembangan kalender Qatar.
Marquez sendiri tidak mencoret Acosta dari persaingan.
Ia mengingat bagaimana dirinya pernah berada 102 poin di belakang hanya beberapa seri sebelumnya. Karena itu, selisih besar pada tahap ini belum dianggap cukup untuk menyingkirkan pembalap lain dari perhitungan.
Performa KTM juga menunjukkan peningkatan. Setelah masalah mesin pada pertengahan musim, Acosta kembali mampu memanfaatkan kekuatan pengereman dan performa RC16 untuk bersaing di depan.
Kemenangan Austria membuat ancamannya semakin nyata menjelang rangkaian balapan Asia.
Motegi menjadi ujian berikutnya
MotoGP selanjutnya menuju Jepang pada 2–4 Oktober 2026.
Motegi memiliki karakter pengereman berat yang berpotensi kembali memberi peluang kepada Acosta. Marquez bahkan menilai pembalap KTM tersebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk menang di Jepang setelah performanya di Austria.
Bagi Marquez, seri Jepang juga menjadi kesempatan untuk merespons kehilangan poin di Red Bull Ring.
Setelah Motegi, kejuaraan berlanjut menuju Mandalika. Rangkaian flyaway akan membuat perebutan gelar memasuki fase ketika satu kesalahan dapat memberikan dampak besar terhadap klasemen.
Motor dan tim menjadi fondasi tujuh seri terakhir
Marquez sudah menunjukkan bahwa defisit besar dapat dibalik dalam waktu relatif singkat.
Sebaliknya, Austria memperlihatkan bahwa posisi puncak juga dapat hilang hanya dalam satu akhir pekan.
Itulah sebabnya tujuh seri terakhir tidak hanya akan ditentukan oleh siapa yang paling cepat pada satu lintasan. Kemampuan pembalap dan tim beradaptasi terhadap karakter sirkuit, ban, kondisi motor, dan tekanan perebutan gelar akan menjadi bagian penting.
Bagi Marquez, jawaban mengenai modal utamanya sudah jelas: motor yang kompetitif dan tim yang ia percaya.
Dengan selisih 12 poin dari Martin, dua faktor tersebut kini akan diuji sepanjang rangkaian penutup MotoGP 2026.











