Bulatan Times – China mulai menggunakan kecerdasan buatan untuk mempercepat pekerjaan eksplorasi mineral yang selama ini membutuhkan analisis data dalam jumlah besar dan keterlibatan banyak tenaga ahli. Dua sistem yang diperkenalkan China Geological Survey diklaim mampu memangkas sebagian pekerjaan prediksi dan evaluasi mineral dari sekitar enam bulan menjadi satu minggu.
Teknologi tersebut bernama AI-GeoMapping dan AI-OreSeeking. Keduanya dikembangkan China Geological Survey di bawah Ministry of Natural Resources dan diperkenalkan dalam konferensi pertambangan di Tianjin pada September 2026.
Namun, kemampuan itu bukan berarti AI dapat langsung memastikan keberadaan emas atau mineral lain tanpa pekerjaan lapangan. Sistem digunakan untuk mengolah data, mempersempit wilayah yang berpotensi mengandung mineral, dan membantu menentukan target eksplorasi yang selanjutnya tetap membutuhkan verifikasi geologi.
Baca Juga: Tren Foto Retro AI Era 80-an Viral, Begini Cara Membuatnya dan Contoh Prompt yang Bisa Dicoba
AI-OreSeeking menyatukan banyak data geologi
Eksplorasi mineral biasanya melibatkan data dari berbagai metode yang kemudian dianalisis untuk mencari indikasi endapan.
AI-OreSeeking dirancang untuk mengotomatisasi sebagian pekerjaan tersebut. Sistem menggabungkan data geologi dengan basis pengetahuan mengenai mineralisasi dan model endapan serta lebih dari 200 algoritma pengolahan dan analisis.
Data yang dapat diproses mencakup informasi geologi, gravitasi, magnetik, listrik, geokimia hingga penginderaan jauh.
Dari kumpulan informasi itu, AI dapat membantu mengidentifikasi wilayah prospektif dan target eksplorasi. Sistem juga dapat menghasilkan model struktur geologi tiga dimensi, melakukan penilaian prediksi sumber daya, serta menyusun peta dan laporan evaluasi.
Pengguna tidak harus menyerahkan seluruh proses kepada mesin. AI-OreSeeking menyediakan mode yang dipimpin ahli, otomatis, serta kolaborasi manusia dengan AI.
Baca Juga: Apa Itu AI Agent? Cara Kerja, Contoh, dan Bedanya dengan Chatbot Biasa
Uji pencarian emas selesai dalam lima hari
Salah satu pengujian dilakukan dalam eksplorasi emas di wilayah Qinling bagian barat.
Dalam proyek tersebut, sistem memproses data multisumber sekaligus melakukan prediksi dan evaluasi terhadap 32 lembar peta berskala 1:50.000 hanya dalam lima hari.
Hasil analisis mengidentifikasi dua target eksplorasi emas dan empat kawasan lain yang dinilai prospektif untuk penyelidikan lanjutan.
Pengujian tersebut memperlihatkan fungsi utama AI bukan menggantikan pengeboran atau langsung menemukan cadangan emas siap ditambang. Teknologi membantu mempersempit wilayah pencarian sehingga ahli geologi dapat menentukan area yang lebih layak untuk diteliti lebih lanjut.
China Geological Survey menyebut sistem itu telah diuji dalam lebih dari 100 proyek di lebih dari 10 wilayah tingkat provinsi di China.
Bukan cuma mencari emas
Kemampuan AI-OreSeeking tidak terbatas pada logam mulia.
Sistem tersebut dirancang untuk mendukung eksplorasi dan evaluasi berbagai mineral padat, antara lain emas, besi, tembaga, aluminium, litium, kobalt, nikel, timbal, seng, kromium, kalium hingga uranium.
Cakupan tersebut membuat teknologi AI berpotensi digunakan untuk eksplorasi mineral yang semakin dibutuhkan industri energi, baterai, elektronik, dan manufaktur.
Meski demikian, hasil yang dihasilkan AI masih membutuhkan pemeriksaan ahli dan verifikasi lapangan. Kondisi geologi berbeda di setiap wilayah, sementara kualitas data yang digunakan juga dapat memengaruhi hasil analisis.
AI juga dipakai membuat peta geologi
Sistem kedua, AI-GeoMapping, difokuskan pada pemetaan geologi regional.
Teknologi ini menggabungkan informasi yang dikumpulkan dari ruang angkasa, udara dan daratan, kemudian menggunakan AI untuk membantu proses analisis hingga penyusunan peta.
Dalam hasil pengujian yang dipublikasikan, sistem disebut mampu mengenali struktur atau tubuh geologi dengan tingkat akurasi keseluruhan di atas 90 persen serta meningkatkan efisiensi pemrosesan data, analisis terpadu, dan pembuatan peta lebih dari 50 persen.
AI-GeoMapping telah diuji menggunakan hampir 100 lembar peta berskala 1:50.000 di sejumlah wilayah China, termasuk Qinghai, Xizang, Xinjiang, dan Fujian. Teknologi itu juga telah digunakan dalam proyek di luar China, termasuk Maroko, Arab Saudi, dan Laos.
Baca Juga: China Rilis Rival YouTube Bilibili, Kreator Bisa Dapat Penghasilan
AI mempercepat pencarian, bukan menggantikan geolog
Pemangkasan waktu dari berbulan-bulan menjadi hitungan hari menunjukkan bagaimana AI dapat mengubah tahap awal eksplorasi mineral.
Alih-alih tenaga ahli memeriksa berbagai kumpulan data secara terpisah, sistem dapat menyatukan informasi tersebut dan mencari pola yang dianggap relevan terhadap kemungkinan mineralisasi.
Tetapi keluaran komputer masih merupakan dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Lokasi yang diprediksi prospektif tetap perlu diperiksa melalui pekerjaan lapangan dan, bila diperlukan, pengeboran serta pengujian lainnya sebelum keberadaan dan nilai ekonomis suatu sumber daya dapat dipastikan.
Dengan demikian, teknologi yang dikembangkan China lebih tepat dipandang sebagai alat untuk mempercepat penyaringan wilayah eksplorasi. Perubahan terbesar bukan karena AI dapat mengetahui lokasi emas secara pasti, melainkan karena pekerjaan analisis yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan dapat diselesaikan jauh lebih cepat.









