23 °c
Banjar Triwangsakeliki
25 ° Jum
25 ° Sab
Kamis, Oktober 29, 2026
Bulatan Times
No Result
View All Result
  • Beranda
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DUNIA
    • EKONOMI
    • BISNIS
    • Hukum
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME
  • Beranda
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DUNIA
    • EKONOMI
    • BISNIS
    • Hukum
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME
No Result
View All Result
Bulatan Times
No Result
View All Result
  • Beranda
  • NEWS
  • SPORT
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME
Home HEALTH

Naik Tekstur MPASI Terlalu Cepat atau Terlambat, Apa Dampaknya bagi Anak?

Naik tekstur MPASI perlu mengikuti kemampuan bayi. Kenali risiko perubahan terlalu cepat atau terlambat serta cara mengenalkan makanan dengan aman.

Redaksi Bulatan Times by Redaksi Bulatan Times
29 Oktober 2026, 15.26 WIB
in HEALTH
Semangkuk bubur bayi dengan suwiran ayam, wortel dan brokoli di atas meja makan

Gambar Ilustrasi Bubur Bayi. (Foto: Buatan AI/Bulatan Times)

Bulatan Times – Menaikkan tekstur makanan pendamping ASI (MPASI) terlalu cepat atau terlambat dapat memengaruhi proses belajar makan bayi. Makanan yang terlalu keras atau sulit dikelola dapat meningkatkan risiko tersedak, sedangkan pemberian makanan yang terus-menerus sangat halus dapat membuat anak kurang terbiasa mengunyah dan menerima tekstur baru.

Perubahan tekstur MPASI sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan usia, kemampuan mengunyah, dan kesiapan anak.

Ketika mulai menerima MPASI pada usia sekitar enam bulan, bayi biasanya lebih mudah mengonsumsi makanan lumat dan cukup kental. Seiring perkembangan keterampilan makan, bayi perlu diperkenalkan dengan makanan yang memiliki tekstur lebih beragam.

Namun, setiap anak mempunyai kecepatan perkembangan berbeda. Karena itu, orang tua tidak perlu memaksakan perubahan tekstur secara mendadak hanya karena anak sudah memasuki usia tertentu.

Baca Juga: Influenza A pada Anak Perlu Diwaspadai, IDAI Ingatkan Risiko Komplikasi

Kapan Tekstur MPASI Perlu Dinaikkan?

Tekstur makanan perlu berkembang seiring bertambahnya usia dan keterampilan makan bayi.

Pada usia 6-8 bulan, makanan umumnya diberikan dalam bentuk bubur kental atau makanan lumat yang mudah ditelan.

Bayi yang mulai mampu mengelola makanan dapat diperkenalkan secara bertahap dengan makanan yang ditumbuk lebih kasar dan memiliki butiran lembut.

Memasuki usia 9-11 bulan, bayi umumnya mulai belajar mengonsumsi makanan cincang halus, makanan lumat kasar, serta makanan lunak yang dapat dipegang sendiri.

Pada usia 12-23 bulan, anak mulai mengikuti makanan keluarga. Namun, bahan makanan tetap harus disesuaikan agar mudah dikunyah dan aman ditelan.

Tahapan tersebut merupakan panduan umum, bukan aturan bahwa semua bayi harus berpindah tekstur tepat pada tanggal yang sama.

Sebagian bayi mampu menerima makanan lunak bertekstur sejak awal masa MPASI, sementara bayi lain membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi.

Apa Dampaknya Jika Tekstur MPASI Dinaikkan Terlalu Cepat?

Memberikan tekstur yang belum sesuai dengan kemampuan makan bayi dapat menimbulkan sejumlah masalah.

Risiko yang paling perlu diperhatikan adalah tersedak, terutama apabila makanan diberikan dalam bentuk keras, bulat, lengket, atau potongan besar yang sulit dikunyah.

Bayi masih belajar menggerakkan makanan di dalam mulut, menggigit, mengunyah, dan menelannya secara terkoordinasi.

Jika makanan terlalu sulit dikelola, bayi mungkin berulang kali mengeluarkannya dari mulut, batuk, atau menunjukkan respons muntah.

Namun, respons tersebut tidak selalu berarti bayi mengalami gangguan makan. Pada tahap awal, refleks ingin muntah atau gagging dapat muncul ketika bayi sedang belajar mengenal tekstur baru.

Masalahnya, makanan yang tidak disiapkan dengan aman juga dapat menyebabkan tersedak yang menghalangi jalan napas.

Karena itu, menaikkan tekstur bukan berarti langsung memberikan makanan keras atau potongan besar. Tekstur dapat ditingkatkan melalui makanan yang tetap lunak, mudah dihancurkan, dan sesuai kemampuan anak.

Apa Dampaknya Jika Tekstur MPASI Terlambat Dinaikkan?

Mempertahankan makanan dalam bentuk sangat halus terlalu lama juga dapat menghambat kesempatan anak mempelajari keterampilan makan yang lebih beragam.

Bayi membutuhkan pengalaman menghadapi makanan dengan bentuk dan tekstur berbeda untuk belajar mengunyah serta menggerakkan makanan di dalam mulut.

Jika terus menerima makanan yang sepenuhnya halus, sebagian anak mungkin lebih sulit menerima makanan berbutir atau potongan lunak ketika akhirnya diperkenalkan.

Anak dapat menolak makanan, mengeluarkannya kembali, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk terbiasa dengan tekstur baru.

Namun, penolakan tersebut tidak selalu disebabkan oleh keterlambatan naik tekstur. Faktor lain, seperti pengalaman makan, sensitivitas terhadap tekstur, atau gangguan kesehatan tertentu, juga dapat berperan.

Orang tua tidak perlu langsung menganggap anak mengalami masalah perkembangan hanya karena beberapa kali menolak makanan yang lebih kasar.

Hal yang lebih penting adalah memberikan kesempatan belajar secara bertahap dan mencari bantuan apabila kesulitan makan terus berulang.

Bedakan Gagging dan Tersedak Saat Bayi Makan

Ketika memperkenalkan tekstur baru, orang tua perlu memahami perbedaan antara refleks gagging dan tersedak.

Gagging merupakan refleks perlindungan tubuh yang membantu mendorong makanan keluar dari bagian belakang mulut.

Saat gagging, bayi mungkin mengeluarkan suara seperti ingin muntah, batuk, menjulurkan lidah, atau berusaha mengeluarkan makanan dari mulut.

Sebaliknya, tersedak terjadi ketika makanan menyumbat jalan napas.

Bayi yang tersedak berat bisa tidak mampu menangis, batuk secara efektif, atau bernapas. Suaranya dapat menjadi sangat lemah atau bahkan tidak terdengar.

Warna bibir dan bagian dalam mulut juga dapat berubah ketika tubuh kekurangan oksigen.

Jika bayi terlihat tidak mampu bernapas atau mengeluarkan suara, segera minta pertolongan darurat dan lakukan pertolongan pertama tersedak pada bayi sesuai pelatihan yang benar.

Jangan memasukkan jari ke dalam mulut bayi untuk mengambil makanan yang tidak terlihat karena tindakan tersebut dapat mendorong sumbatan semakin dalam.

Cara Menaikkan Tekstur MPASI Secara Bertahap

Perubahan tekstur dapat dimulai dari makanan yang biasa dikonsumsi bayi.

Jika sebelumnya makanan selalu diblender sampai sangat halus, orang tua dapat mencoba melumatkan makanan menggunakan garpu sehingga masih terdapat sedikit tekstur lembut.

Setelah bayi mulai terbiasa, tingkatkan secara perlahan menjadi makanan yang lebih kasar, lalu cincang halus sesuai kemampuan.

Sebagai contoh, kentang yang sebelumnya dihaluskan sampai lembut dapat disajikan dalam bentuk lumatan yang sedikit lebih bertekstur.

Wortel dan sayuran lain perlu dimasak sampai benar-benar lunak sebelum dilumatkan atau dipotong sesuai tahap perkembangan.

Sumber protein seperti telur, ayam, ikan, dan daging juga perlu dimasak hingga matang, kemudian dihaluskan atau dicincang agar mudah dikonsumsi.

Pastikan tidak ada tulang, duri, atau bagian keras yang tertinggal.

Makanan berbentuk bulat utuh seperti anggur dan tomat ceri, kacang utuh, popcorn, serta potongan wortel mentah merupakan contoh makanan yang berisiko menyebabkan tersedak pada anak kecil. Bahan tersebut perlu dihindari atau disiapkan dengan bentuk yang lebih aman sesuai usia.

Saat makan, tempatkan bayi dalam posisi duduk tegak dengan penyangga yang sesuai. Jangan memberi makan ketika bayi sedang berbaring, berjalan, atau bermain.

Orang tua juga perlu mendampingi anak sepanjang waktu makan.

Baca Juga: Penyebab Radang Tenggorokan dan Ciri-cirinya, Kapan Perlu ke Dokter?

Bagaimana Jika Anak Menolak Tekstur Baru?

Penolakan ketika pertama kali mencoba tekstur lebih kasar tidak selalu menjadi tanda bahwa anak belum mampu mengonsumsinya.

Bayi mungkin membutuhkan beberapa kali kesempatan untuk mengenali sensasi makanan yang berbeda.

Cobalah memberikan makanan dalam jumlah kecil tanpa memaksa anak menghabiskannya.

Jika bayi mulai menangis, terlihat tertekan, atau terus menolak, hentikan pemberian sementara dan coba kembali pada kesempatan berikutnya.

Orang tua dapat menawarkan tekstur yang lebih mudah diterima, kemudian meningkatkan kekasarannya secara perlahan.

Hindari memaksa anak membuka mulut atau menyuapi ketika ia sudah menunjukkan tanda kenyang.

Waktu makan sebaiknya berlangsung tenang, tanpa gangguan televisi atau ponsel.

Beri kesempatan bayi menyentuh makanan dan mencoba memegang makanan lunak yang aman. Aktivitas tersebut membantu anak mengenali makanan sekaligus melatih koordinasi tangan dan mulut.

Kapan Kesulitan Naik Tekstur MPASI Perlu Diperiksakan?

Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak apabila bayi berulang kali batuk atau tersedak saat makan, sering muntah ketika mencoba tekstur tertentu, atau terus mengalami kesulitan menelan.

Pemeriksaan juga diperlukan jika anak selalu menolak makanan yang lebih bertekstur, hanya mampu menerima makanan sangat halus meskipun usianya terus bertambah, atau mengalami kesulitan makan yang mengganggu kecukupan asupan gizinya.

Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah berat badan yang tidak naik sesuai pemantauan pertumbuhan, waktu makan yang sangat sulit, serta bayi tampak kesakitan ketika menelan.

Dokter dapat menilai pertumbuhan, perkembangan kemampuan makan, dan kemungkinan adanya masalah pada fungsi mengunyah atau menelan.

Jika diperlukan, anak dapat dirujuk untuk mendapatkan penilaian dari tenaga kesehatan yang menangani gangguan makan dan menelan.

Penyesuaian tekstur kemudian dilakukan berdasarkan kemampuan anak, bukan semata-mata mengejar tahapan usia.

Source: Kementerian Kesehatan, CDC
Tags: Gizi SeimbangMPASI

Related Posts

Dokter memeriksa bagian dalam mulut dan tenggorokan seorang perempuan menggunakan spatula lidah di ruang pemeriksaan
HEALTH

Penyebab Radang Tenggorokan dan Ciri-cirinya, Kapan Perlu ke Dokter?

Oktober 26, 2026
Warga dewasa berjalan di jalan berkabut asap, sebagian memakai masker dan seorang pria menutup hidung dengan lengan
HEADLINE

Asap Karhutla Ganggu Pernapasan, Kemenkes Catat 333.470 Kasus ISPA

Oktober 23, 2026
Perempuan terjaga di tempat tidur pada malam hari dengan jam digital menunjukkan pukul 2.30
HEALTH

Cara Mengatasi Insomnia, Kenali Penyebab dan Terapi yang Tepat

Oktober 21, 2026

Highlights

Cara Cek Sertifikat Tanah Lewat HP Pakai Sentuh Tanahku, Ini Langkahnya

100 Sekolah Rakyat Dibangun di 32 Provinsi, Libatkan 97 Ribu Pekerja Lokal

MagangHub Batch 3 2026 Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftar hingga 4 November

IHSG Variatif, Investor Tunggu The Fed dan Kinerja Bank

Hotspot Karhutla Menurun, tetapi Ancaman Kebakaran Berulang dan Kerusakan Hutan Masih Mengintai

Karhutla Way Kambas Masih Sisakan 40 Hektare, BNPB Lakukan Water Bombing dan Modifikasi Cuaca

Terpopuler

Hotspot Karhutla Menurun, tetapi Ancaman Kebakaran Berulang dan Kerusakan Hutan Masih Mengintai

Epoxy Lantai untuk Bangunan Modern, Apa Kelebihan dan Hal yang Perlu Diperhatikan?

Cara Daftar dan Mendapatkan Uang dari Bilibili

Geotermal Lampung Barat, Perluasan Kapital, dan Konflik Agraria BRN

Asal Usul Hanabi di Mobile Legends

Bulatan Times

Situs berita digital yang meliput peristiwa dan menuliskannya secara berimbang. Ikuti kabar nasional, ekonomi, teknologi, olahraga, kesehatan, dan perjalanan dalam satu tempat.

Informasi & Kebijakan

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Penghapusan Data Pengguna
  • Ketentuan Layanan
  • Kebijakan Privasi
  • Indeks
  • Pedoman Media Siber
  • Pasang Iklan

Terhubung dengan Kami

Kirim pertanyaan, saran, koreksi, dan kerja sama ke [email protected]. Akses Bulatan Times juga melalui aplikasi Android.

Bulatan Times Play Store

© 2026 BulatanTimes.com

Kelola Persetujuan

Kami Menggunakan Cookie
Bulatan Times menggunakan cookie dan teknologi serupa untuk membantu menjalankan situs, memahami penggunaan website, meningkatkan pengalaman pembaca, serta mendukung penayangan iklan yang relevan. Anda dapat menerima, menolak, atau mengatur preferensi cookie.

Fungsional Selalu aktif
Penyimpanan atau akses teknis yang diperlukan untuk menjalankan layanan dan fungsi dasar website.
Preferences
The technical storage or access is necessary for the legitimate purpose of storing preferences that are not requested by the subscriber or user.
Statistik
Penyimpanan atau akses yang digunakan untuk memahami penggunaan website dan meningkatkan layanan. The technical storage or access that is used exclusively for anonymous statistical purposes. Without a subpoena, voluntary compliance on the part of your Internet Service Provider, or additional records from a third party, information stored or retrieved for this purpose alone cannot usually be used to identify you.
Pemasaran
Penyimpanan atau akses yang digunakan untuk mendukung penayangan iklan dan mengukur efektivitasnya.
  • Kelola pilihan
  • Kelola layanan
  • Kelola {vendor_count} vendor
  • Baca selengkapnya tentang tujuan ini
Lihat Preferensi
  • {title}
  • {title}
  • {title}
  • Beranda
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DUNIA
    • EKONOMI
    • BISNIS
    • Hukum
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME

© 2026 Bulatan Times