Bulatan Times – Menaikkan tekstur makanan pendamping ASI (MPASI) terlalu cepat atau terlambat dapat memengaruhi proses belajar makan bayi. Makanan yang terlalu keras atau sulit dikelola dapat meningkatkan risiko tersedak, sedangkan pemberian makanan yang terus-menerus sangat halus dapat membuat anak kurang terbiasa mengunyah dan menerima tekstur baru.
Perubahan tekstur MPASI sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan usia, kemampuan mengunyah, dan kesiapan anak.
Ketika mulai menerima MPASI pada usia sekitar enam bulan, bayi biasanya lebih mudah mengonsumsi makanan lumat dan cukup kental. Seiring perkembangan keterampilan makan, bayi perlu diperkenalkan dengan makanan yang memiliki tekstur lebih beragam.
Namun, setiap anak mempunyai kecepatan perkembangan berbeda. Karena itu, orang tua tidak perlu memaksakan perubahan tekstur secara mendadak hanya karena anak sudah memasuki usia tertentu.
Baca Juga: Influenza A pada Anak Perlu Diwaspadai, IDAI Ingatkan Risiko Komplikasi
Kapan Tekstur MPASI Perlu Dinaikkan?
Tekstur makanan perlu berkembang seiring bertambahnya usia dan keterampilan makan bayi.
Pada usia 6-8 bulan, makanan umumnya diberikan dalam bentuk bubur kental atau makanan lumat yang mudah ditelan.
Bayi yang mulai mampu mengelola makanan dapat diperkenalkan secara bertahap dengan makanan yang ditumbuk lebih kasar dan memiliki butiran lembut.
Memasuki usia 9-11 bulan, bayi umumnya mulai belajar mengonsumsi makanan cincang halus, makanan lumat kasar, serta makanan lunak yang dapat dipegang sendiri.
Pada usia 12-23 bulan, anak mulai mengikuti makanan keluarga. Namun, bahan makanan tetap harus disesuaikan agar mudah dikunyah dan aman ditelan.
Tahapan tersebut merupakan panduan umum, bukan aturan bahwa semua bayi harus berpindah tekstur tepat pada tanggal yang sama.
Sebagian bayi mampu menerima makanan lunak bertekstur sejak awal masa MPASI, sementara bayi lain membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi.
Apa Dampaknya Jika Tekstur MPASI Dinaikkan Terlalu Cepat?
Memberikan tekstur yang belum sesuai dengan kemampuan makan bayi dapat menimbulkan sejumlah masalah.
Risiko yang paling perlu diperhatikan adalah tersedak, terutama apabila makanan diberikan dalam bentuk keras, bulat, lengket, atau potongan besar yang sulit dikunyah.
Bayi masih belajar menggerakkan makanan di dalam mulut, menggigit, mengunyah, dan menelannya secara terkoordinasi.
Jika makanan terlalu sulit dikelola, bayi mungkin berulang kali mengeluarkannya dari mulut, batuk, atau menunjukkan respons muntah.
Namun, respons tersebut tidak selalu berarti bayi mengalami gangguan makan. Pada tahap awal, refleks ingin muntah atau gagging dapat muncul ketika bayi sedang belajar mengenal tekstur baru.
Masalahnya, makanan yang tidak disiapkan dengan aman juga dapat menyebabkan tersedak yang menghalangi jalan napas.
Karena itu, menaikkan tekstur bukan berarti langsung memberikan makanan keras atau potongan besar. Tekstur dapat ditingkatkan melalui makanan yang tetap lunak, mudah dihancurkan, dan sesuai kemampuan anak.
Apa Dampaknya Jika Tekstur MPASI Terlambat Dinaikkan?
Mempertahankan makanan dalam bentuk sangat halus terlalu lama juga dapat menghambat kesempatan anak mempelajari keterampilan makan yang lebih beragam.
Bayi membutuhkan pengalaman menghadapi makanan dengan bentuk dan tekstur berbeda untuk belajar mengunyah serta menggerakkan makanan di dalam mulut.
Jika terus menerima makanan yang sepenuhnya halus, sebagian anak mungkin lebih sulit menerima makanan berbutir atau potongan lunak ketika akhirnya diperkenalkan.
Anak dapat menolak makanan, mengeluarkannya kembali, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk terbiasa dengan tekstur baru.
Namun, penolakan tersebut tidak selalu disebabkan oleh keterlambatan naik tekstur. Faktor lain, seperti pengalaman makan, sensitivitas terhadap tekstur, atau gangguan kesehatan tertentu, juga dapat berperan.
Orang tua tidak perlu langsung menganggap anak mengalami masalah perkembangan hanya karena beberapa kali menolak makanan yang lebih kasar.
Hal yang lebih penting adalah memberikan kesempatan belajar secara bertahap dan mencari bantuan apabila kesulitan makan terus berulang.
Bedakan Gagging dan Tersedak Saat Bayi Makan
Ketika memperkenalkan tekstur baru, orang tua perlu memahami perbedaan antara refleks gagging dan tersedak.
Gagging merupakan refleks perlindungan tubuh yang membantu mendorong makanan keluar dari bagian belakang mulut.
Saat gagging, bayi mungkin mengeluarkan suara seperti ingin muntah, batuk, menjulurkan lidah, atau berusaha mengeluarkan makanan dari mulut.
Sebaliknya, tersedak terjadi ketika makanan menyumbat jalan napas.
Bayi yang tersedak berat bisa tidak mampu menangis, batuk secara efektif, atau bernapas. Suaranya dapat menjadi sangat lemah atau bahkan tidak terdengar.
Warna bibir dan bagian dalam mulut juga dapat berubah ketika tubuh kekurangan oksigen.
Jika bayi terlihat tidak mampu bernapas atau mengeluarkan suara, segera minta pertolongan darurat dan lakukan pertolongan pertama tersedak pada bayi sesuai pelatihan yang benar.
Jangan memasukkan jari ke dalam mulut bayi untuk mengambil makanan yang tidak terlihat karena tindakan tersebut dapat mendorong sumbatan semakin dalam.
Cara Menaikkan Tekstur MPASI Secara Bertahap
Perubahan tekstur dapat dimulai dari makanan yang biasa dikonsumsi bayi.
Jika sebelumnya makanan selalu diblender sampai sangat halus, orang tua dapat mencoba melumatkan makanan menggunakan garpu sehingga masih terdapat sedikit tekstur lembut.
Setelah bayi mulai terbiasa, tingkatkan secara perlahan menjadi makanan yang lebih kasar, lalu cincang halus sesuai kemampuan.
Sebagai contoh, kentang yang sebelumnya dihaluskan sampai lembut dapat disajikan dalam bentuk lumatan yang sedikit lebih bertekstur.
Wortel dan sayuran lain perlu dimasak sampai benar-benar lunak sebelum dilumatkan atau dipotong sesuai tahap perkembangan.
Sumber protein seperti telur, ayam, ikan, dan daging juga perlu dimasak hingga matang, kemudian dihaluskan atau dicincang agar mudah dikonsumsi.
Pastikan tidak ada tulang, duri, atau bagian keras yang tertinggal.
Makanan berbentuk bulat utuh seperti anggur dan tomat ceri, kacang utuh, popcorn, serta potongan wortel mentah merupakan contoh makanan yang berisiko menyebabkan tersedak pada anak kecil. Bahan tersebut perlu dihindari atau disiapkan dengan bentuk yang lebih aman sesuai usia.
Saat makan, tempatkan bayi dalam posisi duduk tegak dengan penyangga yang sesuai. Jangan memberi makan ketika bayi sedang berbaring, berjalan, atau bermain.
Orang tua juga perlu mendampingi anak sepanjang waktu makan.
Baca Juga: Penyebab Radang Tenggorokan dan Ciri-cirinya, Kapan Perlu ke Dokter?
Bagaimana Jika Anak Menolak Tekstur Baru?
Penolakan ketika pertama kali mencoba tekstur lebih kasar tidak selalu menjadi tanda bahwa anak belum mampu mengonsumsinya.
Bayi mungkin membutuhkan beberapa kali kesempatan untuk mengenali sensasi makanan yang berbeda.
Cobalah memberikan makanan dalam jumlah kecil tanpa memaksa anak menghabiskannya.
Jika bayi mulai menangis, terlihat tertekan, atau terus menolak, hentikan pemberian sementara dan coba kembali pada kesempatan berikutnya.
Orang tua dapat menawarkan tekstur yang lebih mudah diterima, kemudian meningkatkan kekasarannya secara perlahan.
Hindari memaksa anak membuka mulut atau menyuapi ketika ia sudah menunjukkan tanda kenyang.
Waktu makan sebaiknya berlangsung tenang, tanpa gangguan televisi atau ponsel.
Beri kesempatan bayi menyentuh makanan dan mencoba memegang makanan lunak yang aman. Aktivitas tersebut membantu anak mengenali makanan sekaligus melatih koordinasi tangan dan mulut.
Kapan Kesulitan Naik Tekstur MPASI Perlu Diperiksakan?
Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak apabila bayi berulang kali batuk atau tersedak saat makan, sering muntah ketika mencoba tekstur tertentu, atau terus mengalami kesulitan menelan.
Pemeriksaan juga diperlukan jika anak selalu menolak makanan yang lebih bertekstur, hanya mampu menerima makanan sangat halus meskipun usianya terus bertambah, atau mengalami kesulitan makan yang mengganggu kecukupan asupan gizinya.
Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah berat badan yang tidak naik sesuai pemantauan pertumbuhan, waktu makan yang sangat sulit, serta bayi tampak kesakitan ketika menelan.
Dokter dapat menilai pertumbuhan, perkembangan kemampuan makan, dan kemungkinan adanya masalah pada fungsi mengunyah atau menelan.
Jika diperlukan, anak dapat dirujuk untuk mendapatkan penilaian dari tenaga kesehatan yang menangani gangguan makan dan menelan.
Penyesuaian tekstur kemudian dilakukan berdasarkan kemampuan anak, bukan semata-mata mengejar tahapan usia.





