Bulatan Times – Demam yang mulai turun pada penderita demam berdarah dengue (DBD) belum tentu menjadi tanda kesembuhan. Pada sebagian pasien, penurunan suhu tubuh justru terjadi bersamaan dengan fase kritis, ketika risiko gangguan sirkulasi darah, perdarahan, dan syok perlu diwaspadai.
Fase kritis umumnya muncul sekitar hari ketiga hingga ketujuh sejak demam dimulai. Periode ini sering membuat keluarga terkecoh karena suhu tubuh pasien sudah mendekati normal, padahal kondisinya masih membutuhkan pemantauan.
Meski demikian, tidak semua pasien DBD yang demamnya turun akan mengalami komplikasi berat. Sebagian besar penderita dapat melewati fase tersebut dan berangsur pulih.
Hal yang perlu diperhatikan adalah perubahan kondisi tubuh, tanda bahaya, serta hasil pemeriksaan medis selama perjalanan penyakit.
Baca Juga: Cara Meredakan Gatal dan Bentol akibat Gigitan Nyamuk di Rumah
Mengapa Demam Turun Justru Bisa Berbahaya?
Pada infeksi dengue, tubuh mengalami perubahan selama melawan virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi.
Salah satu perubahan yang dapat terjadi adalah meningkatnya permeabilitas pembuluh darah kecil. Kondisi ini membuat bagian cair dari darah, yang disebut plasma, lebih mudah keluar dari pembuluh darah menuju jaringan di sekitarnya.
Peristiwa tersebut dikenal sebagai kebocoran plasma.
Jika kebocoran berlangsung cukup berat, jumlah cairan yang beredar di dalam pembuluh darah dapat berkurang. Akibatnya, aliran darah menuju organ penting menjadi terganggu.
Dalam kondisi berat, pasien dapat mengalami syok, yaitu keadaan ketika sirkulasi darah tidak mampu memenuhi kebutuhan organ tubuh secara memadai.
Kebocoran plasma sering terjadi ketika demam mulai mereda. Namun, penurunan suhu bukan penyebab langsung kebocoran tersebut. Keduanya merupakan bagian dari perubahan yang dapat berlangsung selama infeksi dengue.
Karena itu, suhu yang sudah normal tidak cukup untuk memastikan bahwa pasien telah melewati masa berbahaya.
Kenali Tiga Fase Perjalanan Penyakit DBD
Perjalanan infeksi dengue umumnya dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan.
Fase demam biasanya berlangsung selama dua hingga tujuh hari. Pada tahap ini, pasien dapat mengalami demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam pada kulit.
Fase kritis sering dimulai ketika demam mereda, biasanya sekitar hari ketiga hingga ketujuh sejak gejala muncul. Periode kebocoran plasma yang bermakna umumnya berlangsung sekitar 24-48 jam.
Pada sebagian pasien, kondisi tubuh membaik selama periode ini. Namun, pasien dengan kebocoran plasma berat dapat mengalami penurunan sirkulasi darah dalam waktu relatif singkat.
Fase pemulihan terjadi ketika kebocoran plasma berhenti dan kondisi sirkulasi mulai stabil. Nafsu makan, aktivitas, dan pengeluaran urine biasanya berangsur membaik.
Waktu setiap fase dapat berbeda antar pasien. Karena itu, menghitung hari demam perlu disertai pemantauan gejala dan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Tanda Bahaya DBD Saat Demam Mulai Turun
Ketika demam mereda, keluarga perlu memperhatikan apakah keadaan pasien benar-benar membaik atau justru menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.
Beberapa tanda bahaya yang harus dikenali antara lain:
1. Nyeri perut hebat
Pasien mengalami sakit perut yang kuat atau nyeri ketika bagian perut disentuh. Keluhan dapat muncul bersamaan dengan perubahan kondisi sirkulasi.
2. Muntah terus-menerus
Muntah berulang hingga pasien kesulitan mempertahankan asupan cairan perlu mendapat perhatian segera.
3. Perdarahan
Tanda yang dapat terlihat meliputi mimisan, gusi berdarah, muntah darah, atau buang air besar berwarna hitam akibat perdarahan saluran cerna.
4. Tubuh sangat lemas atau gelisah
Pasien yang terlihat sangat lemah, sulit dibangunkan, gelisah tidak seperti biasanya, atau mengalami perubahan kesadaran membutuhkan pemeriksaan segera.
5. Tangan dan kaki terasa dingin
Kulit yang pucat, dingin, atau lembap, terutama jika disertai nadi cepat dan lemah, dapat menandakan gangguan sirkulasi darah.
6. Jumlah urine berkurang
Pasien yang buang air kecil jauh lebih sedikit dari biasanya dapat mengalami kekurangan cairan atau gangguan sirkulasi yang memerlukan penilaian medis.
7. Sesak napas
Kesulitan bernapas dapat berkaitan dengan penumpukan cairan atau komplikasi lain pada dengue berat.
Tanda bahaya tidak harus muncul bersamaan. Satu tanda yang jelas sudah cukup menjadi alasan untuk segera mencari pertolongan medis.
Pasien juga dapat mengalami gangguan sirkulasi serius tanpa perdarahan yang terlihat dari luar.
Apakah Trombosit Turun Berarti Pasien Pasti Mengalami DBD Berat?
Jumlah trombosit sering menjadi perhatian keluarga ketika seseorang dirawat karena DBD.
Trombosit merupakan komponen darah yang membantu proses pembekuan ketika terjadi luka atau perdarahan.
Pada infeksi dengue, jumlah trombosit dapat menurun selama perjalanan penyakit. Namun, angka trombosit saja tidak cukup untuk menentukan apakah pasien sedang mengalami fase kritis atau memerlukan perawatan intensif.
Dokter juga memperhatikan hematokrit, yaitu persentase volume sel darah merah dalam darah.
Peningkatan hematokrit dapat menjadi salah satu petunjuk berkurangnya plasma di dalam pembuluh darah, terutama apabila terjadi bersamaan dengan perubahan kondisi pasien.
Selain hasil laboratorium, tekanan darah, denyut nadi, tingkat kesadaran, kemampuan minum, dan jumlah urine turut menjadi bagian dari penilaian.
Karena itu, keluarga tidak sebaiknya hanya menunggu angka trombosit mencapai batas tertentu sebelum mencari pertolongan.
Apa yang Harus Dilakukan Ketika Demam DBD Mulai Turun?
Pasien yang diduga atau telah didiagnosis mengalami infeksi dengue perlu mengikuti jadwal pemeriksaan dan pemantauan dari tenaga kesehatan, termasuk ketika suhu tubuh mulai membaik.
Jika dokter mengizinkan perawatan di rumah, pastikan pasien cukup beristirahat dan memperoleh cairan yang memadai sesuai kemampuan minum serta anjuran medis.
Air putih dan cairan yang mengandung elektrolit dapat membantu menjaga asupan cairan. Namun, pasien yang muntah terus-menerus atau tidak mampu minum perlu segera diperiksa.
Perhatikan frekuensi buang air kecil, tingkat kesadaran, keluhan perut, dan tanda perdarahan.
Catat pula hari pertama demam serta perubahan gejala yang terjadi. Informasi tersebut dapat membantu dokter menilai perjalanan penyakit.
Untuk mengurangi nyeri atau demam, parasetamol dapat digunakan sesuai dosis yang dianjurkan tenaga kesehatan.
Hindari aspirin dan ibuprofen pada pasien yang dicurigai mengalami dengue karena obat tersebut dapat meningkatkan risiko perdarahan.
Jangan memberikan infus sendiri atau menganggap semua penderita DBD membutuhkan cairan infus. Pemberian cairan melalui pembuluh darah harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan agar tidak terjadi kekurangan maupun kelebihan cairan.
Baca Juga: Penyebab Radang Tenggorokan dan Ciri-cirinya, Kapan Perlu ke Dokter?
Kapan Pasien DBD Harus Segera Dibawa ke Rumah Sakit?
Pasien harus segera dibawa ke instalasi gawat darurat apabila mengalami nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, sesak napas, penurunan kesadaran, atau tanda gangguan sirkulasi seperti kulit dingin dan nadi lemah.
Jangan menunggu demam kembali tinggi sebelum mencari pertolongan.
Bayi, ibu hamil, lansia, serta pasien dengan penyakit penyerta seperti gangguan ginjal atau penyakit jantung juga dapat membutuhkan pemantauan lebih ketat.
Dokter akan menentukan apakah pasien dapat melanjutkan perawatan di rumah atau perlu dirawat berdasarkan kondisi klinis dan pemeriksaan yang diperlukan.
Penanganan sejak awal ketika muncul tanda bahaya sangat penting untuk mencegah gangguan sirkulasi berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa.





