Bulatan Times – Perbincangan mengenai ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder kembali menarik perhatian publik. Kali ini, nama Jema, putri influencer Syafira Haddad, ikut menjadi sorotan setelah sejumlah warganet ramai membahas perilakunya dalam video yang beredar di media sosial.
Beberapa komentar warganet bahkan mengaitkan perilaku Jema dengan kemungkinan ADHD. Perbincangan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan orang tua mengenai apa sebenarnya ADHD, bagaimana mengenali gejalanya, dan bagaimana cara mendampingi anak yang mengalami kondisi tersebut.
Meski demikian, penting untuk meluruskan bahwa komentar warganet tidak dapat menjadi dasar diagnosis. Hingga kini, belum ada konfirmasi medis terpercaya yang menyatakan Jema mengalami ADHD.
Fenomena ini justru menjadi pengingat bahwa orang tua perlu memahami perkembangan anak berdasarkan informasi medis yang benar, bukan sekadar menyimpulkan kondisi anak melalui potongan video.
Apa Itu ADHD pada Anak?
ADHD merupakan singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Kondisi ini termasuk gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam memusatkan perhatian, mengendalikan impuls, dan mengatur aktivitas.
Anak dengan ADHD dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, terlihat sangat aktif, atau sering bertindak spontan tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Namun, ADHD bukan berarti anak nakal, kurang disiplin, atau sengaja tidak mau mendengarkan orang tua.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ADHD merupakan salah satu gangguan perkembangan saraf yang umum terjadi pada masa kanak-kanak. Gejalanya dapat berlanjut hingga anak tumbuh dewasa.
Kenali Tiga Gejala Utama ADHD
Orang tua perlu mengenali gejala ADHD agar dapat memberikan pendampingan sejak dini. Secara umum, terdapat tiga kelompok gejala utama.
1. Gangguan Pemusatan Perhatian
Anak sering kesulitan mempertahankan konsentrasi. Mereka mudah teralihkan, sering lupa, sulit mengikuti instruksi, dan tidak menyelesaikan aktivitas yang sedang dikerjakan.
2. Hiperaktivitas
Anak terlihat terus bergerak, sulit duduk tenang, banyak berbicara, atau seolah tidak pernah kehabisan energi.
3. Impulsivitas
Anak cenderung bertindak tanpa berpikir panjang. Misalnya, menyela pembicaraan, sulit menunggu giliran, atau melakukan sesuatu secara spontan tanpa memahami risikonya.
Meski demikian, anak yang aktif, banyak bertanya, atau sesekali sulit berkonsentrasi belum tentu mengalami ADHD.
Tenaga profesional perlu melihat pola perilaku, durasi gejala, usia perkembangan, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari sebelum menetapkan diagnosis.
Bagaimana ADHD Didiagnosis?
Diagnosis ADHD membutuhkan pemeriksaan menyeluruh. Dokter atau tenaga profesional tidak cukup hanya mengamati satu perilaku atau melihat rekaman video anak.
Mengacu pada pedoman diagnosis, gejala perlu berlangsung setidaknya enam bulan dan muncul di dua atau lebih lingkungan, seperti rumah dan sekolah.
Selain itu, gejala harus mengganggu fungsi sosial, pendidikan, atau aktivitas sehari-hari anak.
Dokter juga perlu mempertimbangkan kemungkinan kondisi lain, seperti gangguan tidur, kecemasan, gangguan belajar, maupun gangguan perkembangan lainnya.
Karena itu, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, psikiater anak, atau psikolog klinis anak sesuai kebutuhan pemeriksaan.
Cara Mengatasi ADHD pada Anak
ADHD bukan kondisi yang membuat anak kehilangan kesempatan untuk berkembang. Dengan penanganan yang tepat, anak dapat belajar mengelola perilaku, meningkatkan konsentrasi, dan mengembangkan potensinya.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua.
1. Konsultasi dengan Tenaga Profesional
Langkah pertama adalah membawa anak untuk menjalani pemeriksaan. Tenaga profesional akan mengevaluasi gejala dan menentukan kebutuhan penanganan sesuai kondisi anak.
2. Terapkan Pola Asuh yang Konsisten
Buat aturan sederhana dan berikan instruksi secara bertahap. Hindari memarahi anak secara berlebihan ketika mereka kesulitan mengikuti arahan.
Sebaliknya, berikan pujian ketika anak berhasil menyelesaikan tugas atau menunjukkan perilaku positif.
3. Bangun Rutinitas Harian
Susun jadwal tidur, makan, bermain, dan belajar secara teratur. Rutinitas membantu anak memahami kegiatan yang harus dilakukan.
4. Berikan Aktivitas Fisik
Ajak anak bermain, berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan aktivitas fisik sesuai usianya. Kegiatan tersebut membantu menjaga kebugaran dan mendukung kesehatan anak.
5. Ciptakan Lingkungan Belajar yang Nyaman
Kurangi gangguan ketika anak belajar. Bagi tugas menjadi beberapa bagian kecil agar anak lebih mudah memahami dan menyelesaikannya.
6. Pertimbangkan Terapi Perilaku
Terapi perilaku dapat membantu anak mengembangkan kemampuan mengendalikan diri dan membangun kebiasaan positif.
Untuk anak usia di bawah enam tahun, CDC merekomendasikan pelatihan pengelolaan perilaku bagi orang tua sebagai penanganan awal sebelum mempertimbangkan obat.
Sementara itu, anak usia enam tahun ke atas dapat membutuhkan kombinasi terapi perilaku dan obat sesuai hasil pemeriksaan dokter.
Orang tua tidak boleh memberikan obat ADHD tanpa resep dan pengawasan tenaga medis.
Peran Orang Tua dalam Mendampingi Anak dengan ADHD
Selain penanganan profesional, dukungan keluarga memiliki peran penting dalam perkembangan anak.
Orang tua perlu membangun komunikasi positif dan memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda.
Hindari memberikan label seperti nakal, tidak bisa diam, atau sulit diatur. Sebab, perkataan tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri anak.
Orang tua juga perlu menjalin komunikasi dengan guru agar anak memperoleh dukungan yang sesuai di lingkungan sekolah.
Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat belajar mengenali kemampuan dirinya dan mengembangkan potensi secara optimal.
Jangan Mendiagnosis Anak Hanya dari Media Sosial
Perbincangan mengenai Jema, putri Syafira Haddad, menjadi pengingat bahwa media sosial dapat membuka ruang edukasi kesehatan anak. Namun, masyarakat tetap perlu berhati-hati dalam menafsirkan perilaku seorang anak.
Satu video tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan perkembangan anak. Begitu pula dengan komentar warganet yang belum tentu memiliki dasar medis.
Orang tua sebaiknya menggunakan informasi dari media sosial sebagai bahan untuk meningkatkan pengetahuan, bukan sebagai alat untuk mendiagnosis anak sendiri.
Pada akhirnya, mengenali ADHD sejak dini, berkonsultasi dengan tenaga profesional, serta memberikan dukungan yang konsisten menjadi langkah penting untuk membantu anak tumbuh lebih percaya diri, mandiri, dan optimal.





