Bulatan Times – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Tsinghua University di China memperkenalkan BRIDGE, rangkaian perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu petugas kesehatan memahami kekhawatiran, rumor, dan kebutuhan informasi masyarakat selama wabah maupun keadaan darurat kesehatan.
Pengumuman tersebut disampaikan WHO pada Senin, 2 November 2026. BRIDGE mulai diperluas penggunaannya di kawasan Pasifik Barat, terutama untuk membantu negara dan wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya dalam menangani informasi kesehatan.
Melalui perangkat ini, petugas dapat mengetahui persoalan yang sedang dibicarakan masyarakat, termasuk informasi yang belum jelas kebenarannya dan pertanyaan yang belum terjawab.
Hasilnya dapat digunakan untuk menyusun komunikasi kesehatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan warga.
Baca Juga: Demam DBD Turun Belum Tentu Sembuh, Kenali Fase Kritis dan Tanda Bahayanya
BRIDGE Membantu Petugas Memahami Kekhawatiran Masyarakat
BRIDGE merupakan singkatan dari Behavioural Research and Intelligence for Directed Guidance in Emergencies.
Perangkat tersebut menggabungkan pengumpulan informasi, analisis perilaku masyarakat, dan teknologi AI untuk mendukung komunikasi selama keadaan darurat.
Informasi yang dianalisis dapat berasal dari percakapan di media sosial, survei, layanan telepon pengaduan, hingga masukan yang diterima petugas kesehatan ketika berinteraksi dengan masyarakat.
Dalam situasi wabah, berbagai pertanyaan sering muncul secara bersamaan. Sebagian warga mungkin khawatir terhadap penularan penyakit, sementara kelompok lain membutuhkan penjelasan mengenai vaksinasi atau langkah perlindungan diri.
Banyaknya informasi dari berbagai saluran membuat petugas membutuhkan waktu untuk memilah persoalan yang perlu segera ditangani.
Teknologi AI pada BRIDGE membantu mempercepat pengelompokan informasi tersebut.
Dengan begitu, petugas dapat melihat kekhawatiran yang sering muncul, kebutuhan penjelasan kesehatan, serta rumor yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Membantu Mengenali Informasi Keliru Saat Wabah
Salah satu kegunaan BRIDGE adalah membantu petugas mengenali rumor dan informasi kesehatan yang berpotensi menyesatkan masyarakat.
Informasi keliru dapat menghambat penanganan wabah apabila membuat warga menolak tindakan pencegahan, salah memahami risiko penyakit, atau tidak mengikuti anjuran kesehatan yang sesuai.
Melalui analisis percakapan masyarakat, petugas dapat mengetahui klaim yang banyak beredar dan menentukan informasi mana yang perlu segera diluruskan.
Namun, temuan AI tidak otomatis membuktikan bahwa setiap informasi yang ditandai merupakan berita palsu.
Rumor atau klaim yang teridentifikasi tetap memerlukan pemeriksaan berdasarkan informasi kesehatan yang dapat dipercaya.
Setelah persoalannya diketahui, petugas dapat menyiapkan penjelasan yang lebih mudah dipahami dan memilih saluran komunikasi yang sesuai dengan masyarakat sasaran.
Pendekatan tersebut juga membantu pemerintah dan tenaga kesehatan memahami alasan suatu kelompok masyarakat masih ragu terhadap anjuran tertentu.
BRIDGE Diperkenalkan Melalui Simulasi Wabah Dengue
Perangkat BRIDGE turut digunakan dalam latihan pada kegiatan Data, Behaviour and Decisions Workshop yang berlangsung di Tsinghua University, Beijing, pada 30-31 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Forum Komunikasi Pembangunan dan Kesehatan Global kelima yang mempertemukan perwakilan negara, peneliti, pembuat kebijakan, dan mitra media.
Dalam latihan itu, peserta menghadapi skenario peningkatan penyakit menyerupai dengue di sejumlah negara akibat fenomena Super El Nino.
Peserta diminta mempelajari informasi yang berkembang di masyarakat, menemukan sumber kebingungan, dan menentukan langkah komunikasi yang diperlukan.
Skenario tersebut merupakan simulasi, bukan kejadian wabah nyata yang berhasil diprediksi oleh BRIDGE.
Latihan itu bertujuan membantu peserta memahami bagaimana informasi dari masyarakat dapat digunakan untuk merencanakan respons kesehatan.
Baca Juga: Asap Karhutla Ganggu Pernapasan, Kemenkes Catat 333.470 Kasus ISPA
Pendekatan BRIDGE Sudah Digunakan dalam Pemantauan Informasi Influenza
Sebelum pengumuman bersama Tsinghua University pada November 2026, WHO telah mengembangkan penggunaan pendekatan BRIDGE untuk pemantauan informasi kesehatan di sejumlah negara kawasan Pasifik Barat.
Dalam kegiatan kesiapsiagaan influenza, salah satu perangkat BRIDGE digunakan untuk mengidentifikasi pertanyaan masyarakat, kekhawatiran terhadap vaksinasi, dan informasi keliru yang berkembang secara daring.
WHO juga mendukung penyusunan lebih dari 40 laporan pemantauan percakapan masyarakat mengenai influenza musiman dan informasi kesehatan yang menyertainya.
Dukungan teknis diberikan kepada sejumlah kantor WHO di negara seperti Kamboja, Fiji, Laos, Mongolia, dan Filipina.
Informasi yang diperoleh membantu petugas menentukan materi komunikasi dan menyesuaikan pesan kesehatan dengan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
Penggunaan pendekatan tersebut menunjukkan bahwa BRIDGE tidak hanya berkaitan dengan pengembangan teknologi, tetapi juga pelatihan tenaga kesehatan dan kerja sama dengan berbagai pihak.
AI Tidak Menggantikan Pemeriksaan Medis dan Keputusan Petugas
BRIDGE memiliki fungsi yang berbeda dari perangkat pemeriksaan atau diagnosis penyakit.
Sistem ini tidak dirancang untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi virus, menentukan pengobatan pasien, ataupun menjamin prediksi terjadinya wabah.
Peran utamanya adalah membantu petugas memahami kondisi informasi dan kebutuhan komunikasi masyarakat selama keadaan darurat kesehatan.
Hasil analisis tetap memerlukan penilaian tenaga kesehatan, ahli komunikasi, dan pihak yang bertanggung jawab dalam penanganan keadaan darurat.
Penggunaan informasi masyarakat juga perlu memperhatikan perlindungan data, privasi, dan hak individu.
WHO menempatkan pemantauan percakapan masyarakat sebagai bagian dari komunikasi risiko yang harus dilakukan secara etis dan bertanggung jawab.
Melalui kerja sama dengan Tsinghua University, WHO melanjutkan pelatihan dan pengembangan penggunaan BRIDGE agar petugas kesehatan dapat merespons kebutuhan informasi masyarakat dengan lebih cepat dan tepat selama keadaan darurat.





