Bulatan Times – Kanker serviks atau kanker leher rahim masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan. Penyakit ini berkembang akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV) berisiko tinggi yang menetap dalam tubuh. Namun, kemajuan dunia medis kini membuka lebih banyak pilihan pengobatan bagi pasien kanker serviks.
Kabar baiknya, pengobatan kanker serviks terus berkembang. Selain operasi, kemoterapi, dan radioterapi, pasien kini memiliki pilihan terapi yang memanfaatkan sistem kekebalan tubuh serta teknologi pengobatan yang lebih terarah.
Karena itu, masyarakat perlu mengenali gejala, memahami faktor risiko, dan mengetahui perkembangan pengobatan kanker serviks.
Mengenal Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Serviks
Kanker serviks terjadi ketika sel abnormal tumbuh di jaringan leher rahim. Infeksi HPV berisiko tinggi, terutama yang berlangsung dalam waktu lama, menjadi penyebab utama penyakit ini.
Tidak semua infeksi HPV berkembang menjadi kanker. Namun, infeksi yang menetap dapat memicu perubahan sel prakanker. Jika seseorang tidak segera menjalani pemeriksaan, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi kanker serviks.
Beberapa faktor juga dapat meningkatkan risiko penyakit ini. Misalnya, kebiasaan merokok, gangguan sistem kekebalan tubuh, dan kurangnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Perkembangan Pengobatan Kanker Serviks hingga 2026
Dunia medis terus mengembangkan pengobatan kanker serviks. Salah satu perkembangan penting hadir melalui imunoterapi dan terapi target.
Pedoman terbaru European Society for Medical Oncology (ESMO) yang terbit pada September 2026 memberikan pembaruan mengenai operasi, radioterapi, kemoterapi, dan terapi sistemik untuk kanker serviks.
Berikut beberapa pilihan pengobatan yang mendapat perhatian dalam perkembangan medis terkini.
1. Pembrolizumab, Imunoterapi untuk Melawan Sel Kanker
Pembrolizumab atau Keytruda merupakan obat imunoterapi yang membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker.
Dokter dapat mengombinasikan obat ini dengan kemoterapi pada pasien kanker serviks yang kambuh atau menyebar, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan PD-L1 dengan nilai CPS minimal 1.
Selain itu, pembrolizumab juga memiliki indikasi penggunaan bersama kemoradioterapi pada pasien dengan kanker serviks stadium lanjut lokal tertentu.
2. Bevacizumab, Menghambat Pertumbuhan Pembuluh Darah Tumor
Bevacizumab atau Avastin merupakan obat terapi target yang menghambat pembentukan pembuluh darah baru pada tumor.
Dengan mekanisme tersebut, obat ini membantu menghambat pasokan darah yang dibutuhkan tumor untuk berkembang.
Dokter dapat mengombinasikan bevacizumab dengan kemoterapi dan imunoterapi pada pasien tertentu. Namun, dokter perlu mempertimbangkan risiko perdarahan dan efek samping lainnya.
3. Cemiplimab, Pilihan Imunoterapi untuk Kanker yang Kambuh
Cemiplimab atau Libtayo merupakan obat imunoterapi yang bekerja dengan menghambat protein PD-1.
Obat ini dapat menjadi pilihan bagi pasien kanker serviks yang mengalami kekambuhan atau penyebaran penyakit setelah kemoterapi berbasis platinum. Dokter perlu mempertimbangkan riwayat imunoterapi sebelumnya dan kondisi pasien.
4. Tisotumab Vedotin, Teknologi Obat yang Menargetkan Sel Kanker
Tisotumab vedotin atau Tivdak merupakan salah satu perkembangan pengobatan kanker melalui teknologi antibody-drug conjugate (ADC).
Teknologi ini menggabungkan antibodi dengan obat antikanker. Antibodi membantu mengarahkan obat menuju sel yang memiliki target tertentu, sehingga pengobatan bekerja lebih terarah.
Obat ini menjadi salah satu pilihan bagi pasien kanker serviks berulang atau metastasis setelah menjalani pengobatan sebelumnya.
5. Trastuzumab Deruxtecan, Terapi Target HER2
Trastuzumab deruxtecan atau Enhertu merupakan obat yang menargetkan protein HER2.
Dokter dapat mempertimbangkan terapi ini pada kasus kanker serviks tertentu dengan hasil pemeriksaan HER2 positif kuat atau IHC 3+.
Sebelum menggunakan obat ini, pasien perlu menjalani pemeriksaan jaringan tumor untuk memastikan kesesuaian target pengobatan.
Pengobatan Tetap Bergantung pada Stadium Kanker
Meskipun pilihan obat semakin berkembang, tidak semua pasien membutuhkan jenis pengobatan yang sama.
Pada stadium awal, dokter dapat merekomendasikan operasi sesuai kondisi tumor. Sementara itu, pasien dengan stadium lanjut lokal umumnya membutuhkan kombinasi kemoterapi dan radioterapi.
Untuk kanker yang sudah menyebar atau mengalami kekambuhan, dokter dapat mempertimbangkan kemoterapi, imunoterapi, maupun terapi target berdasarkan hasil pemeriksaan.
Oleh karena itu, pemeriksaan jaringan tumor, stadium penyakit, dan kondisi kesehatan pasien menjadi dasar penting dalam menentukan pengobatan.
Deteksi Dini Tetap Menjadi Kunci Pencegahan
Selain perkembangan obat, pencegahan kanker serviks tetap memegang peranan penting.
Perempuan dapat menurunkan risiko penyakit ini melalui beberapa langkah berikut:
- Mengikuti vaksinasi HPV sesuai rekomendasi.
- Melakukan skrining kanker serviks secara berkala.
- Menjalani pemeriksaan HPV DNA, IVA, atau Pap smear sesuai anjuran tenaga kesehatan.
- Menghindari kebiasaan merokok.
- Segera memeriksakan diri jika mengalami perdarahan di luar menstruasi atau setelah berhubungan seksual.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga terus mendorong target eliminasi kanker serviks melalui program vaksinasi HPV, skrining, dan penanganan pasien secara tepat.
Akses Pengobatan dan Harapan Baru bagi Pasien
Perkembangan imunoterapi dan terapi target memberikan pilihan tambahan bagi pasien kanker serviks, khususnya mereka yang mengalami penyakit kambuh atau penyebaran kanker.
Namun, ketersediaan obat, izin edar, pembiayaan, dan akses pengobatan dapat berbeda di setiap negara. Karena itu, pasien perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi untuk mengetahui pilihan terapi yang sesuai.
Kemajuan teknologi medis memberikan harapan baru dalam penanganan kanker serviks. Meski demikian, deteksi dini, pencegahan melalui vaksinasi HPV, dan akses pengobatan yang tepat tetap menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan perempuan.





