WASHINGTON, BULATAN TIMES – Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance memilih tidak memberikan dukungan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilu parlemen Israel pada 27 Oktober 2026. Sikap tersebut berbeda dari Presiden Donald Trump yang sebelumnya secara terbuka mendukung Netanyahu untuk kembali memimpin pemerintahan Israel.
Vance menyampaikan keputusannya saat diwawancarai jurnalis Mark Halperin dalam program 2WAY Tonight pada Senin (19/10/2026).
Ketika ditanya apakah dirinya mengikuti langkah Trump, Vance menegaskan bahwa perhatian politiknya saat ini tertuju pada pemilu sela Amerika Serikat, bukan persaingan politik di Israel.
JD Vance Pilih Tidak Ikut Campur dalam Pemilu Israel
Vance menyatakan tidak ingin terlibat dalam pemberian dukungan kepada kandidat pada pemilu Israel.
“Saya tidak akan ikut campur dalam pemilu Israel,” kata Vance, dikutip dari wawancaranya dalam program 2WAY Tonight, Senin (19/10/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa keputusan itu bukan bentuk penentangan terhadap Netanyahu. Vance tidak mengambil posisi mendukung ataupun menolak pencalonan perdana menteri tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Vance mengakui pengaruh politik dukungan yang diberikan Trump, tetapi menegaskan fokusnya tetap pada kandidat Amerika Serikat.
Pada Senin, Vance berada di North Carolina untuk membantu kampanye Michael Whatley, kandidat Partai Republik yang maju dalam pemilihan Senat AS.
Pemilu sela Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026. Pemungutan suara tersebut akan menentukan komposisi Kongres yang terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat dan sebagian kursi Senat.
Trump Sudah Terbuka Mendukung Netanyahu
Berbeda dari Vance, Trump telah menyatakan dukungan penuh kepada Netanyahu melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (18/10/2026).
Trump memuji kepemimpinan Netanyahu dan menilai perdana menteri Israel tersebut sebagai mitra penting Amerika Serikat dalam menghadapi Iran.
Presiden AS itu juga mengaitkan kelanjutan kepemimpinan Netanyahu dengan kerja sama kedua negara dalam persoalan keamanan kawasan.
Netanyahu menyambut dukungan Trump dan menyampaikan terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin antara keduanya.
Dukungan tersebut muncul setelah hubungan Trump dan Netanyahu sempat diwarnai perbedaan pandangan mengenai sejumlah kebijakan di Timur Tengah, termasuk penanganan konflik Iran dan upaya gencatan senjata di Gaza.
Meski mengambil keputusan berbeda dalam pemberian dukungan politik, Vance tidak menyampaikan kritik terhadap langkah Trump maupun menyatakan penolakan terhadap Netanyahu.
Baca Juga: Trump Usulkan Nama ‘Trump Ocean’ untuk Samudra Atlantik atau Pasifik
Pemilu Israel Digelar 27 Oktober 2026
Israel dijadwalkan menggelar pemilu parlemen pada Selasa (27/10/2026). Pemungutan suara ini menjadi pemilu nasional pertama sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 dan rangkaian konflik yang menyusulnya.
Pemilih akan menentukan komposisi Knesset, parlemen Israel yang memiliki 120 kursi.
Berbeda dari sistem pemilihan presiden langsung, pemilu Israel tidak memilih perdana menteri secara langsung. Pembentukan pemerintahan bergantung pada kemampuan partai-partai membangun koalisi dengan dukungan mayoritas parlemen.
Netanyahu memimpin Partai Likud dan berupaya mempertahankan kekuasaan di tengah persaingan dengan sejumlah partai oposisi.
Baca Juga: Dua Gugatan di AS Persoalkan Dana Pemerintah untuk Iklan Promosi Trump
Dukungan Trump menjadi salah satu perkembangan dalam masa kampanye, tetapi pengaruhnya terhadap pilihan pemilih Israel belum dapat dipastikan. Hasil pemungutan suara dan pembentukan koalisi setelah pemilu akan menentukan apakah Netanyahu dapat kembali memimpin pemerintahan.












