BULATAN TIMES – Masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan, dan keterbatasan bukan alasan untuk berhenti meraih masa depan. Ujian Paket A, B, dan C di PKBM Lapas Cilegon, Senin (26/10/2026), membuka kesempatan warga binaan melanjutkan pendidikan.
Selain itu, program pendidikan ini membantu warga binaan yang putus sekolah atau belum sempat melanjutkan pendidikan akibat berbagai kendala. Dengan demikian, mereka dapat kembali belajar dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Melalui PKBM, warga binaan dapat melanjutkan pendidikan sesuai kebutuhan. Selain itu, mereka dapat memilih Paket A setara SD, Paket B setara SMP, atau Paket C setara SMA.
Pelaksanaan ujian menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan pendidikan mereka.
Dengan penuh kesungguhan, para warga binaan mengikuti ujian sebagai bentuk komitmen untuk meningkatkan pengetahuan, menyelesaikan pendidikan, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Pendidikan Bukan Sekadar Kegiatan Belajar di Ruang Kelas
Di balik tembok pemasyarakatan, pendidikan bukan sekadar kegiatan belajar di ruang kelas.
Kesempatan ini mendorong warga binaan membangun kepercayaan diri dan membuka peluang baru untuk berubah menjadi lebih baik.
Kepala Lapas Kelas IIA Cilegon, Wahyu Trah Utomo, menegaskan bahwa pendidikan merupakan bagian penting dari pembinaan warga binaan.
Melalui PKBM, Lapas memfasilitasi pendidikan warga binaan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.
“Pendidikan adalah hak setiap orang dan menjadi salah satu bekal penting untuk menata masa depan. “Kami berharap PKBM mendorong warga binaan terus belajar dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Lapas Cilegon Tingkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia
Lapas Kelas IIA Cilegon terus meningkatkan kualitas pembinaan. Selain membentuk perilaku yang lebih baik, Lapas juga mendorong warga binaan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan agar mereka lebih siap kembali ke masyarakat.
Melalui Paket A, B, dan C, warga binaan dapat melanjutkan pendidikan sebagai bekal membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas.
Sebab, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Dari ruang belajar di balik tembok lapas, harapan kembali tumbuh, langkah baru mulai dirintis, dan masa depan yang lebih cerah perlahan diperjuangkan.





