Bulatan Times – Indonesia dipastikan tampil tanpa Rizki Juniansyah di cabang angkat besi Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Lifter peraih emas Olimpiade Paris 2024 itu tidak dapat turun setelah permohonan untuk mencabut penangguhan sementara yang dijatuhkan International Weightlifting Federation tidak dikabulkan Court of Arbitration for Sport.
Kepastian tersebut disampaikan PABSI, Komite Olimpiade Indonesia, dan Rizki melalui pernyataan bersama pada Minggu (27/9/2026).
Rizki sebelumnya dipersiapkan tampil di kelas 85 kg putra pada Senin (28/9). Namanya kemudian tidak muncul dalam daftar peserta resmi, meski sejak awal masuk dalam proyeksi utama tim angkat besi Indonesia.
Penangguhan sementara berkaitan dengan dugaan pelanggaran kewajiban whereabouts dalam sistem antidoping. Atlet yang masuk dalam sistem tersebut wajib memberikan informasi keberadaan secara berkala agar dapat ditemukan ketika sewaktu-waktu harus menjalani pengujian di luar kompetisi.
Kasus Rizki Bukan Temuan Zat Terlarang
Status Rizki perlu dibedakan dari kasus positif doping.
PABSI, KOI, dan Rizki menegaskan penangguhan sementara bukan keputusan bahwa ia telah terbukti melakukan pelanggaran antidoping. Pokok perkaranya masih diperiksa dan Rizki tetap mempunyai ruang untuk melakukan pembelaan.
Kasus ini juga tidak berkaitan dengan ditemukannya zat terlarang dalam sampel. Sepanjang kariernya, Rizki disebut tidak pernah mendapatkan hasil tes doping positif. Pemeriksaan terakhir yang dijalaninya pada Agustus 2026 juga dinyatakan negatif.
Rizki membantah dugaan pelanggaran kewajiban whereabouts tersebut. Ia bersama PABSI dan KOI akan melanjutkan proses hukum olahraga yang tersedia sambil menyiapkan pembelaan atas pokok perkara.
Keputusan CAS kali ini membuat penangguhan sementara tetap berlaku ketika nomor 85 kg putra dipertandingkan. Karena jadwal lomba sudah sangat dekat, Rizki praktis kehilangan kesempatan turun di Nagoya.
Baca Juga: Rahmat Erwin Raih Emas Asian Games 2026, Pecahkan Dua Rekor Dunia
Rizki Seharusnya Turun di Kelas 85 Kg
Absennya Rizki mulai menjadi tanda tanya ketika namanya tidak tercantum dalam daftar peserta kelas 85 kg putra.
Padahal ia termasuk lifter yang sejak awal diproyeksikan menjadi salah satu tumpuan Indonesia. Setelah sebelumnya berkompetisi di kelas 73 kg, Rizki naik ke kelas 85 kg mengikuti perubahan kategori berat badan.
Perubahan tersebut juga memengaruhi komposisi tim Indonesia. Rahmat Erwin Abdullah turun di kelas 75 kg dan berhasil meraih emas pada Sabtu (26/9) dengan total angkatan 366 kg, sekaligus memecahkan dua rekor dunia.
Rizki dijadwalkan mendapat giliran berikutnya di kelas 85 kg. Tanpa namanya dalam daftar start, Indonesia kehilangan salah satu peluang medali dari nomor yang sebelumnya menjadi bagian penting proyeksi tim angkat besi.
Baca Juga: Asian Games 2026: Indonesia Pecah Telur Emas, Perjuangan di Aichi-Nagoya Masih Panjang
Penangguhan Tetap Berlaku saat Asian Games
PABSI dan KOI sebelumnya berusaha agar penangguhan sementara terhadap Rizki dicabut sehingga ia masih memiliki peluang mengikuti pertandingan.
Permohonan tersebut tidak dikabulkan CAS. Dampaknya langsung terasa karena kelas 85 kg putra dijadwalkan berlangsung hanya satu hari setelah kepastian itu diumumkan.
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 berlangsung sejak 19 September hingga 4 Oktober. Cabang angkat besi sudah mulai menyumbang medali untuk Indonesia, termasuk emas Rahmat Erwin dan perunggu Luluk Diana Tri Wajayana dari kelas 49 kg putri.
Rizki datang ke periode Asian Games dengan status salah satu nama terbesar dalam tim. Ia meraih emas Olimpiade Paris 2024 dan tetap menjadi bagian penting dari regenerasi angkat besi Indonesia setelah berpindah ke kategori berat yang lebih tinggi.
Kesempatan tampil di Asian Games 2026 kini tertunda selama penangguhan sementara masih berlaku. Proses berikutnya akan berfokus pada pemeriksaan pokok perkara terkait kewajiban whereabouts yang dibantah Rizki.










