7 °c
Frankfurt am Main
7 ° Rab
6 ° Kam
Selasa, November 3, 2026
Bulatan Times
No Result
View All Result
  • Beranda
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DUNIA
    • EKONOMI
    • BISNIS
    • Hukum
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME
  • Beranda
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DUNIA
    • EKONOMI
    • BISNIS
    • Hukum
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME
No Result
View All Result
Bulatan Times
No Result
View All Result
  • Beranda
  • NEWS
  • SPORT
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME
Home TEKNO & SAINS

Keluarga Bowen Wan Gugat OpenAI, ChatGPT Diduga Sarankan Hentikan Obat Epilepsi

Keluarga Bowen Wan menggugat OpenAI atas dugaan arahan ChatGPT untuk menghentikan obat epilepsi. OpenAI telah memberikan tanggapan.

Redaksi Bulatan Times by Redaksi Bulatan Times
3 November 2026, 10.50 WIB
in TEKNO & SAINS
Ilustrasi layar laptop dengan antarmuka percakapan AI, ponsel ChatGPT, serta benda medis di atas meja

Ilustrasi penggunaan ChatGPT untuk mencari informasi kesehatan, bukan rekaman percakapan dalam kasus Bowen Wan. (Ilustrasi AI/Bulatan Times)

BULATAN TIMES – Orang tua Bowen Wan, perempuan berusia 31 tahun yang meninggal di Seattle, Amerika Serikat, menggugat OpenAI terkait dugaan pemberian saran medis oleh ChatGPT. Keluarga menuding chatbot tersebut mengarahkan Wan mengurangi hingga menghentikan obat epilepsi yang sebelumnya diresepkan dokter.

Gugatan diajukan pada 27 Oktober 2026 di San Francisco, California, terhadap OpenAI dan CEO perusahaan, Sam Altman. Keluarga menilai arahan medis yang diberikan ChatGPT berkontribusi terhadap kematian Wan pada Februari 2026.

Namun, hubungan antara saran ChatGPT dan kematian Wan masih menjadi bagian dari tuduhan dalam gugatan. Belum ada putusan pengadilan yang menetapkan tanggung jawab hukum OpenAI atas kasus tersebut.

ChatGPT Diduga Menyusun Rencana Penghentian Obat

Bowen Wan merupakan mantan insinyur perangkat lunak Amazon yang memiliki riwayat epilepsi. Ia menggunakan lamotrigine, obat antikejang yang diresepkan untuk membantu mengendalikan kondisinya.

Menurut gugatan keluarga, Wan mulai mempertimbangkan pengurangan obat karena khawatir efek sampingnya mengganggu kemampuan berbicara. Saat itu, ia sedang menghadapi kehilangan pekerjaan dan membutuhkan kemampuan bahasa Inggris untuk mengikuti wawancara kerja.

Dalam percakapannya dengan ChatGPT, Wan disebut meminta saran mengenai penggunaan obat tersebut. Keluarga menuding chatbot kemudian menyusun rencana pengurangan dosis secara bertahap selama sekitar 25 hari hingga penghentian sepenuhnya.

Rencana tersebut diduga diberikan tanpa persetujuan dokter yang merawatnya.

Gugatan juga menyebut ChatGPT menyarankan Wan tidak mengungkapkan rencana pengurangan obat kepada tenaga medis. Ketika dokter meminta pemeriksaan darah untuk memantau kondisi pengobatannya, Wan dilaporkan menolak pemeriksaan tersebut.

Menurut keluarga, chatbot justru memberikan tanggapan positif terhadap keputusan Wan menghindari pemeriksaan.

Keluhan Kesehatan Muncul Sebelum Wan Meninggal

Selama pengurangan dosis, Wan dilaporkan mengalami sejumlah keluhan yang dikhawatirkan berkaitan dengan kejang.

Dokumen gugatan menyebut Wan beberapa kali menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisinya kepada ChatGPT. Namun, keluarga menuding chatbot memberikan jawaban yang meremehkan kemungkinan bahaya dan tetap mendukung kelanjutan rencana penghentian obat.

Baca Juga: OpenAI Temukan 3 Masalah yang Bikin GPT-6 Astra Terasa Menurun

Dokter saraf yang merawat Wan, Nicholas Poolos dari UW Medicine, mengatakan kepada The New York Times bahwa ia tidak pernah merekomendasikan penghentian obat tersebut. Menurutnya, lamotrigine telah membantu mengendalikan kejang yang dialami Wan.

Wan diperkirakan meninggal pada 12 Februari 2026. Jenazahnya ditemukan di tempat tinggalnya pada 14 Februari setelah keluarga kesulitan menghubunginya.

Menurut keterangan pemeriksa medis King County yang dicantumkan dalam gugatan, penyebab kematiannya adalah Sudden Unexpected Death in Epilepsy (SUDEP), atau kematian mendadak yang tidak terduga pada penderita epilepsi.

Keterangan medis mengenai penyebab kematian tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ChatGPT menyebabkan kematian Wan. Hubungan sebab-akibat yang dituduhkan keluarga masih menjadi persoalan dalam perkara hukum.

Keluarga Tuntut Pertanggungjawaban OpenAI

Orang tua Wan, Qun Wan dan Meiqin Xu, menuding OpenAI gagal menyediakan perlindungan yang memadai ketika pengguna meminta arahan mengenai pengobatan.

Gugatan tersebut mencakup tuduhan kelalaian, cacat desain produk, kegagalan memberikan peringatan, serta praktik pemberian layanan medis tanpa izin.

Keluarga meminta pertanggungjawaban hukum dan ganti rugi. Mereka juga mengupayakan pembatasan agar ChatGPT tidak memberikan arahan medis yang seharusnya ditangani tenaga kesehatan berlisensi.

Tuduhan tersebut merupakan posisi pihak penggugat dan belum menjadi kesimpulan pengadilan.

OpenAI Berikan Tanggapan

OpenAI menyampaikan belasungkawa atas kematian Wan dan menyebut kasus tersebut sebagai peristiwa yang sangat menyedihkan.

Perusahaan menjelaskan bahwa percakapan yang dipersoalkan melibatkan versi ChatGPT lama yang tidak lagi tersedia. OpenAI juga menyatakan bahwa model terbarunya telah ditingkatkan agar lebih mampu mengenali situasi yang memerlukan perhatian medis segera.

Baca Juga: GPT-6 Mulai Digulirkan ke Semua Paket ChatGPT, Jawaban Kini Lebih Interaktif

OpenAI menegaskan ChatGPT bukan pengganti layanan kesehatan profesional. Perusahaan menyatakan AI dapat membantu pengguna memahami informasi kesehatan dan mempersiapkan konsultasi, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan serta keputusan tenaga medis.

Terkait penggunaan obat epilepsi, Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa pengurangan dosis maupun penghentian obat antiepilepsi harus dilakukan berdasarkan keputusan dokter.

Epilepsy Foundation juga memperingatkan bahwa menghentikan obat antikejang tanpa pengawasan tenaga medis dapat memicu kekambuhan atau memperburuk kejang, termasuk kondisi yang mengancam nyawa.

Source: The Schenk Law Firm, TechCrunch
Tags: ChatGPTOpenAI

Related Posts

Dua tampilan WhatsApp memperlihatkan filter penyebutan dan balasan serta pengiriman riwayat pesan setelah anggota bergabung
TEKNO & SAINS

WhatsApp Tambah 4 Fitur Grup, Ada Status Khusus dan Pin Pesan Permanen

November 2, 2026
Materi promosi POCO X8 menampilkan ponsel warna hitam, putih dan oranye beserta tampak depan layar
GADGET

POCO X8 dan C95 Pro Hadir di Indonesia, Ini Perbedaan Fitur dan Harganya

November 2, 2026
Deretan iMac dalam tujuh warna, ditampilkan dari depan, samping dan belakang
TEKNO & SAINS

Apple Perkenalkan iMac M6, Ini Perbedaannya dari iMac M4

Oktober 31, 2026

Highlights

Menhub Dudy Siapkan Antisipasi Cuaca Ekstrem

Road to FBPI 2026, Kanwil Kemenkum Banten Dorong Komersialisasi Paten

Kimi Antonelli Juara Dunia F1 2026, Jadi Juara Termuda dalam Sejarah

Polisi Gerebek Kampung Bahari, 29 Orang Diamankan dan Mesin Cetak Ekstasi Ditemukan

Kanwil Kemenkum Banten Ikuti PASTI Ada Solusi Episode 23 di Hong Kong, Perkuat Akses Layanan Hukum bagi WNI

MotoGP Qatar Tetap Dijadwalkan 6-8 November Usai Rapat di Sepang

Terpopuler

AKBP Netty Rosdiana Ajukan Mundur dari Polri Lewat Instagram

Cara Daftar dan Mendapatkan Uang dari Bilibili

A2M Rental Mobil Aceh Tawarkan Sewa Mobil Harian dan Bulanan di Banda Aceh

Dari Baby Massage hingga Perawatan Pascapersalinan, Ini Layanan Calendula Mom & Baby Care

BGN Tangguhkan 6.097 Dapur MBG Mulai 2 November karena Laporan Dana Tidak Tertib

Bulatan Times

Situs berita digital yang meliput peristiwa dan menuliskannya secara berimbang. Ikuti kabar nasional, ekonomi, teknologi, olahraga, kesehatan, dan perjalanan dalam satu tempat.

Informasi & Kebijakan

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Penghapusan Data Pengguna
  • Ketentuan Layanan
  • Kebijakan Privasi
  • Indeks
  • Pedoman Media Siber
  • Pasang Iklan

Terhubung dengan Kami

Kirim pertanyaan, saran, koreksi, dan kerja sama ke [email protected]. Akses Bulatan Times juga melalui aplikasi Android.

Bulatan Times Play Store

© 2026 BulatanTimes.com

Kelola Persetujuan

Kami Menggunakan Cookie
Bulatan Times menggunakan cookie dan teknologi serupa untuk membantu menjalankan situs, memahami penggunaan website, meningkatkan pengalaman pembaca, serta mendukung penayangan iklan yang relevan. Anda dapat menerima, menolak, atau mengatur preferensi cookie.

Fungsional Selalu aktif
Penyimpanan atau akses teknis yang diperlukan untuk menjalankan layanan dan fungsi dasar website.
Preferences
The technical storage or access is necessary for the legitimate purpose of storing preferences that are not requested by the subscriber or user.
Statistik
Penyimpanan atau akses yang digunakan untuk memahami penggunaan website dan meningkatkan layanan. The technical storage or access that is used exclusively for anonymous statistical purposes. Without a subpoena, voluntary compliance on the part of your Internet Service Provider, or additional records from a third party, information stored or retrieved for this purpose alone cannot usually be used to identify you.
Pemasaran
Penyimpanan atau akses yang digunakan untuk mendukung penayangan iklan dan mengukur efektivitasnya.
  • Kelola pilihan
  • Kelola layanan
  • Kelola {vendor_count} vendor
  • Baca selengkapnya tentang tujuan ini
Lihat Preferensi
  • {title}
  • {title}
  • {title}
  • Beranda
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DUNIA
    • EKONOMI
    • BISNIS
    • Hukum
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME

© 2026 Bulatan Times