FLORES, BULATAN TIMES – Camino de Flores menjadi pilihan konsep wisata baru di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menggabungkan perjalanan berjalan kaki, ziarah, pengenalan budaya, dan interaksi dengan masyarakat. Kegiatan percontohannya dimulai pada 23 Oktober 2026, dengan rute di Pulau Flores bagian tengah yang dirancang sepanjang sekitar 70 kilometer.
Jalur tersebut menghubungkan kawasan Bajawa di Kabupaten Ngada, Boawae di Kabupaten Nagekeo, hingga Ende. Perjalanan ini tidak hanya mengajak peserta menuju tempat wisata, tetapi juga mengunjungi gereja, kampung adat, dan kawasan yang memiliki nilai sejarah serta spiritual.
Camino de Flores mendapat dukungan Kementerian Pariwisata dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF). Program percontohan yang melibatkan sekitar 70 peserta dijadwalkan berlangsung pada 23-27 Oktober 2026.
Rute dan Jarak Camino de Flores
Camino de Flores dikembangkan dalam beberapa bagian perjalanan yang disebut etape. Jalur yang pertama diuji adalah Etape Tengah, dengan rute utama:
Bajawa – Boawae – Ende
Rancangan jalur ini melintasi tiga kabupaten, yaitu Ngada, Nagekeo, dan Ende, dengan target jarak berjalan kaki sekitar 70 kilometer.
Pelaksanaannya dilakukan melalui sejumlah bagian perjalanan yang menghubungkan tempat ziarah, permukiman warga, dan kawasan budaya.
Pada Jumat (23/10/2026), kegiatan dibuka dengan misa di Taman Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio, Beiposo, Kabupaten Ngada.
Setelah pembukaan, peserta mengikuti perarakan Patung Bunda Maria dan berjalan menuju Kampung Adat Beiposo.
Perjalanan berlanjut pada Sabtu (24/10/2026) dengan jarak 25,5 kilometer. Peserta memulai perjalanan dari Gereja Mater Boni Consili di Bajawa, kemudian melewati Gereja Paroki Maria Ratu Semesta Alam di Langa, Kampung Adat Bena, dan Paroki Rakateda I.
Perjalanan hari tersebut berakhir di kawasan Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans, Mataloko.
Pada Minggu (25/10/2026), peserta melanjutkan perjalanan dari Mataloko menuju Nangapanda di Kabupaten Ende melalui jalur Trans Flores.
Beberapa tempat yang disinggahi adalah Gua Maria Camino Watu Go dan Gereja Paroki Santo Fransiskus Asisi Gako. Peserta kemudian menuju Nangapanda dan mendapat sambutan dari masyarakat setempat.
Rangkaian kegiatan percontohan dijadwalkan berakhir pada 27 Oktober. Jalur serta pembagian jarak untuk paket wisata yang akan ditawarkan kepada masyarakat luas masih akan ditentukan setelah evaluasi.
Camino de Flores Menggabungkan Ziarah dan Wisata Budaya
Camino de Flores mengambil inspirasi dari Camino de Santiago, jalur ziarah terkenal di Spanyol yang dilalui peziarah dari berbagai negara.
Gagasan tersebut diperkenalkan oleh Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menjadi inisiator Camino de Flores.
Konsepnya mengajak peserta menikmati perjalanan secara perlahan sambil mengenal lingkungan yang dilalui.
Peserta tidak hanya berjalan menuju tujuan akhir, tetapi juga mengikuti kegiatan keagamaan, mengunjungi kampung adat, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Di Kampung Adat Bena, misalnya, rombongan mengenal peninggalan megalitik serta tradisi masyarakat Ngada.
Sementara itu, kunjungan ke Seminari Mataloko mempertemukan peserta dengan para seminaris, guru, imam, dan pengelola pendidikan keagamaan.
Camino de Flores dikembangkan sebagai wisata religi Katolik, tetapi kegiatan percontohannya juga melibatkan peserta dengan latar agama berbeda.
Dalam perjalanan menuju Nangapanda pada 25 Oktober, masyarakat Muslim turut menyambut rombongan. Sejumlah siswi Muslim dari SMA Negeri 1 Nangapanda juga terlibat dalam kegiatan penyambutan.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Camino de Flores turut membuka ruang pertemuan antara wisatawan dan masyarakat dari berbagai latar budaya serta agama.
Baca Juga: Wisata Danau Toba dan Cara ke Sana Lewat Darat dari Medan
Jalur Camino de Flores Akan Diperluas
Pengembangan Camino de Flores tidak hanya direncanakan untuk wilayah tengah Pulau Flores.
Kementerian Pariwisata juga menyiapkan dua etape lain, yaitu Etape Barat yang menghubungkan Labuan Bajo dengan Ruteng serta Etape Timur dari Maumere menuju Larantuka.
Ketiga etape tersebut dirancang untuk menghubungkan kawasan wisata yang selama ini tersebar di berbagai kabupaten di Flores.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa pengembangan jalur ini diharapkan memperluas persebaran kunjungan wisatawan yang selama ini lebih banyak terpusat di Labuan Bajo.
Selain situs religi, jalur Camino de Flores direncanakan menghubungkan desa wisata, kawasan alam, serta kegiatan budaya dan tradisi masyarakat.
Wisatawan nantinya berpeluang mengenal aktivitas penenun, makanan tradisional, kehidupan desa, dan peninggalan sejarah dalam satu rangkaian perjalanan.
Namun, Etape Barat dan Etape Timur masih merupakan rencana pengembangan. Belum ada jadwal pelaksanaan reguler maupun jarak akhir kedua jalur tersebut yang diumumkan secara resmi.
Ada Kegiatan Sosial untuk Masyarakat Flores
Selain kegiatan wisata, Camino de Flores membawa program sosial yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Penyelenggara mengembangkan kegiatan penggalangan dana untuk membantu perbaikan rumah sakit, gereja, fasilitas pendidikan, dan sarana budaya yang terdampak bencana.
Dukungan juga direncanakan mencakup fasilitas sanitasi serta akses air bersih.
Dalam pelaksanaan awal, bantuan telah diberikan untuk mendukung penataan kawasan Taman Rohani Wolowio dan kebutuhan masyarakat di Beiposo.
Mari Elka Pangestu juga menyampaikan komitmen membantu perbaikan fasilitas Seminari Mataloko yang terdampak gempa bumi.
Kementerian Pariwisata melihat program ini sebagai peluang untuk melibatkan pengelola penginapan, pelaku usaha makanan, perajin tenun, serta pemandu wisata lokal.
Manfaat ekonomi tersebut masih menjadi sasaran pengembangan, sementara hasil nyata bagi usaha masyarakat memerlukan penilaian setelah kegiatan berjalan.
Baca Juga: Wisata Berastagi: Jarak dari Medan dan 6 Tempat Menarik
Apakah Camino de Flores Sudah Bisa Diikuti Wisatawan?
Camino de Flores masih berada pada tahap pengembangan melalui kegiatan percontohan Etape Tengah.
Program awal pada 23-27 Oktober melibatkan komunitas yang telah disiapkan oleh penyelenggara. Jadwal pendaftaran umum, harga paket, serta layanan perjalanan reguler belum diumumkan secara resmi.
Hasil uji coba akan digunakan untuk menentukan peta rute final, standar kelayakan, pengelolaan perjalanan, dan kebutuhan keselamatan peserta.
Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF telah menyiapkan pengaturan keselamatan berupa petugas pengawal perjalanan, pos kesehatan, penyediaan air minum bergerak, dan langkah menghadapi perubahan cuaca serta kondisi medan.
Bagi wisatawan yang tertarik mengikuti Camino de Flores, informasi mengenai jadwal dan pendaftaran berikutnya perlu dipastikan melalui pengumuman resmi penyelenggara.
Persiapan fisik juga menjadi hal penting karena perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki dalam jarak cukup panjang dan melewati kondisi jalan serta ketinggian yang beragam.





