23 °c
Banjar Triwangsakeliki
25 ° Rab
26 ° Kam
Selasa, Oktober 27, 2026
Bulatan Times
No Result
View All Result
  • Beranda
  • NEWS
    • BISNIS
    • EKONOMI
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME
  • Beranda
  • NEWS
    • BISNIS
    • EKONOMI
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME
No Result
View All Result
Bulatan Times
No Result
View All Result
  • Beranda
  • NEWS
  • SPORT
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME
Home TRAVEL

Camino de Flores, Wisata Jalan Kaki Baru di NTT

Camino de Flores mulai diuji melalui jalur Bajawa-Boawae-Ende sepanjang sekitar 70 km, dengan konsep wisata religi, budaya, dan jalan kaki.

Redaksi Bulatan Times by Redaksi Bulatan Times
27 Oktober 2026, 12.16 WIB
in TRAVEL
Sejumlah peserta wisata jalan kaki Camino de Flores berjalan berkelompok di jalan beraspal dengan tas, topi, dan tongkat jalan

Camino de Flores, Wisata Jalan Kaki Baru di NTT. (Foto: Antara)

FLORES, BULATAN TIMES – Camino de Flores menjadi pilihan konsep wisata baru di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menggabungkan perjalanan berjalan kaki, ziarah, pengenalan budaya, dan interaksi dengan masyarakat. Kegiatan percontohannya dimulai pada 23 Oktober 2026, dengan rute di Pulau Flores bagian tengah yang dirancang sepanjang sekitar 70 kilometer.

Jalur tersebut menghubungkan kawasan Bajawa di Kabupaten Ngada, Boawae di Kabupaten Nagekeo, hingga Ende. Perjalanan ini tidak hanya mengajak peserta menuju tempat wisata, tetapi juga mengunjungi gereja, kampung adat, dan kawasan yang memiliki nilai sejarah serta spiritual.

Camino de Flores mendapat dukungan Kementerian Pariwisata dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF). Program percontohan yang melibatkan sekitar 70 peserta dijadwalkan berlangsung pada 23-27 Oktober 2026.

Rute dan Jarak Camino de Flores

Camino de Flores dikembangkan dalam beberapa bagian perjalanan yang disebut etape. Jalur yang pertama diuji adalah Etape Tengah, dengan rute utama:

Bajawa – Boawae – Ende

Rancangan jalur ini melintasi tiga kabupaten, yaitu Ngada, Nagekeo, dan Ende, dengan target jarak berjalan kaki sekitar 70 kilometer.

Pelaksanaannya dilakukan melalui sejumlah bagian perjalanan yang menghubungkan tempat ziarah, permukiman warga, dan kawasan budaya.

Pada Jumat (23/10/2026), kegiatan dibuka dengan misa di Taman Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio, Beiposo, Kabupaten Ngada.

Setelah pembukaan, peserta mengikuti perarakan Patung Bunda Maria dan berjalan menuju Kampung Adat Beiposo.

Perjalanan berlanjut pada Sabtu (24/10/2026) dengan jarak 25,5 kilometer. Peserta memulai perjalanan dari Gereja Mater Boni Consili di Bajawa, kemudian melewati Gereja Paroki Maria Ratu Semesta Alam di Langa, Kampung Adat Bena, dan Paroki Rakateda I.

Perjalanan hari tersebut berakhir di kawasan Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans, Mataloko.

Pada Minggu (25/10/2026), peserta melanjutkan perjalanan dari Mataloko menuju Nangapanda di Kabupaten Ende melalui jalur Trans Flores.

Beberapa tempat yang disinggahi adalah Gua Maria Camino Watu Go dan Gereja Paroki Santo Fransiskus Asisi Gako. Peserta kemudian menuju Nangapanda dan mendapat sambutan dari masyarakat setempat.

Rangkaian kegiatan percontohan dijadwalkan berakhir pada 27 Oktober. Jalur serta pembagian jarak untuk paket wisata yang akan ditawarkan kepada masyarakat luas masih akan ditentukan setelah evaluasi.

Camino de Flores Menggabungkan Ziarah dan Wisata Budaya

Camino de Flores mengambil inspirasi dari Camino de Santiago, jalur ziarah terkenal di Spanyol yang dilalui peziarah dari berbagai negara.

Gagasan tersebut diperkenalkan oleh Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menjadi inisiator Camino de Flores.

Konsepnya mengajak peserta menikmati perjalanan secara perlahan sambil mengenal lingkungan yang dilalui.

Peserta tidak hanya berjalan menuju tujuan akhir, tetapi juga mengikuti kegiatan keagamaan, mengunjungi kampung adat, dan berinteraksi dengan masyarakat.

Di Kampung Adat Bena, misalnya, rombongan mengenal peninggalan megalitik serta tradisi masyarakat Ngada.

Sementara itu, kunjungan ke Seminari Mataloko mempertemukan peserta dengan para seminaris, guru, imam, dan pengelola pendidikan keagamaan.

Camino de Flores dikembangkan sebagai wisata religi Katolik, tetapi kegiatan percontohannya juga melibatkan peserta dengan latar agama berbeda.

Dalam perjalanan menuju Nangapanda pada 25 Oktober, masyarakat Muslim turut menyambut rombongan. Sejumlah siswi Muslim dari SMA Negeri 1 Nangapanda juga terlibat dalam kegiatan penyambutan.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Camino de Flores turut membuka ruang pertemuan antara wisatawan dan masyarakat dari berbagai latar budaya serta agama.

Baca Juga: Wisata Danau Toba dan Cara ke Sana Lewat Darat dari Medan

Jalur Camino de Flores Akan Diperluas

Pengembangan Camino de Flores tidak hanya direncanakan untuk wilayah tengah Pulau Flores.

Kementerian Pariwisata juga menyiapkan dua etape lain, yaitu Etape Barat yang menghubungkan Labuan Bajo dengan Ruteng serta Etape Timur dari Maumere menuju Larantuka.

Ketiga etape tersebut dirancang untuk menghubungkan kawasan wisata yang selama ini tersebar di berbagai kabupaten di Flores.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa pengembangan jalur ini diharapkan memperluas persebaran kunjungan wisatawan yang selama ini lebih banyak terpusat di Labuan Bajo.

Selain situs religi, jalur Camino de Flores direncanakan menghubungkan desa wisata, kawasan alam, serta kegiatan budaya dan tradisi masyarakat.

Wisatawan nantinya berpeluang mengenal aktivitas penenun, makanan tradisional, kehidupan desa, dan peninggalan sejarah dalam satu rangkaian perjalanan.

Namun, Etape Barat dan Etape Timur masih merupakan rencana pengembangan. Belum ada jadwal pelaksanaan reguler maupun jarak akhir kedua jalur tersebut yang diumumkan secara resmi.

Ada Kegiatan Sosial untuk Masyarakat Flores

Selain kegiatan wisata, Camino de Flores membawa program sosial yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Penyelenggara mengembangkan kegiatan penggalangan dana untuk membantu perbaikan rumah sakit, gereja, fasilitas pendidikan, dan sarana budaya yang terdampak bencana.

Dukungan juga direncanakan mencakup fasilitas sanitasi serta akses air bersih.

Dalam pelaksanaan awal, bantuan telah diberikan untuk mendukung penataan kawasan Taman Rohani Wolowio dan kebutuhan masyarakat di Beiposo.

Mari Elka Pangestu juga menyampaikan komitmen membantu perbaikan fasilitas Seminari Mataloko yang terdampak gempa bumi.

Kementerian Pariwisata melihat program ini sebagai peluang untuk melibatkan pengelola penginapan, pelaku usaha makanan, perajin tenun, serta pemandu wisata lokal.

Manfaat ekonomi tersebut masih menjadi sasaran pengembangan, sementara hasil nyata bagi usaha masyarakat memerlukan penilaian setelah kegiatan berjalan.

Baca Juga: Wisata Berastagi: Jarak dari Medan dan 6 Tempat Menarik

Apakah Camino de Flores Sudah Bisa Diikuti Wisatawan?

Camino de Flores masih berada pada tahap pengembangan melalui kegiatan percontohan Etape Tengah.

Program awal pada 23-27 Oktober melibatkan komunitas yang telah disiapkan oleh penyelenggara. Jadwal pendaftaran umum, harga paket, serta layanan perjalanan reguler belum diumumkan secara resmi.

Hasil uji coba akan digunakan untuk menentukan peta rute final, standar kelayakan, pengelolaan perjalanan, dan kebutuhan keselamatan peserta.

Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF telah menyiapkan pengaturan keselamatan berupa petugas pengawal perjalanan, pos kesehatan, penyediaan air minum bergerak, dan langkah menghadapi perubahan cuaca serta kondisi medan.

Bagi wisatawan yang tertarik mengikuti Camino de Flores, informasi mengenai jadwal dan pendaftaran berikutnya perlu dipastikan melalui pengumuman resmi penyelenggara.

Persiapan fisik juga menjadi hal penting karena perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki dalam jarak cukup panjang dan melewati kondisi jalan serta ketinggian yang beragam.

Source: Kementerian Pariwisata; BPOLBF
Tags: Camino de FloresFloresNusa Tenggara TimurWisata Religi

Related Posts

Bangunan pemandian dan pengunjung di kawasan pegunungan yang berkabut dengan pepohonan di sekitarnya
TRAVEL

Wisata Berastagi: Jarak dari Medan dan 6 Tempat Menarik

Oktober 26, 2026
Pemandangan danau yang luas dengan perbukitan hijau di tepi danau serta langit jingga saat matahari terbenam
TRAVEL

Wisata Danau Toba dan Cara ke Sana Lewat Darat dari Medan

Oktober 25, 2026
Tampak depan Istana Maimun berwarna kuning dan putih dengan atap gelap, taman hijau, dan jalan setapak di halaman
TRAVEL

5 Tempat Wisata di Kota Medan dan Alamatnya

Oktober 21, 2026

Highlights

MagangHub Batch 3 2026 Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftar hingga 4 November

IHSG Variatif, Investor Tunggu The Fed dan Kinerja Bank

Hotspot Karhutla Menurun, tetapi Ancaman Kebakaran Berulang dan Kerusakan Hutan Masih Mengintai

Karhutla Way Kambas Masih Sisakan 40 Hektare, BNPB Lakukan Water Bombing dan Modifikasi Cuaca

Asap Karhutla Ganggu Pernapasan, Kemenkes Catat 333.470 Kasus ISPA

KMP Batumandi Tenggelam di Merak, ASDP Siapkan Pengangkatan Kapal

Terpopuler

Geotermal Lampung Barat, Perluasan Kapital, dan Konflik Agraria BRN

Hotspot Karhutla Menurun, tetapi Ancaman Kebakaran Berulang dan Kerusakan Hutan Masih Mengintai

Komdigi Bantah Minta Konten Karhutla Dihapus, Meutya Soroti Algoritma Medsos

Cara Daftar dan Mendapatkan Uang dari Bilibili

KMP Batumandi Tenggelam di Merak, ASDP Siapkan Pengangkatan Kapal

Bulatan Times

Situs berita digital yang meliput peristiwa dan menuliskannya secara berimbang. Ikuti kabar nasional, ekonomi, teknologi, olahraga, kesehatan, dan perjalanan dalam satu tempat.

Informasi & Kebijakan

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Penghapusan Data Pengguna
  • Ketentuan Layanan
  • Kebijakan Privasi
  • Indeks
  • Pedoman Media Siber

Terhubung dengan Kami

Kirim pertanyaan, saran, koreksi, dan kerja sama ke [email protected]. Akses Bulatan Times juga melalui aplikasi Android.

Bulatan Times Play Store

© 2026 BulatanTimes.com

Kelola Persetujuan

Kami Menggunakan Cookie
Bulatan Times menggunakan cookie dan teknologi serupa untuk membantu menjalankan situs, memahami penggunaan website, meningkatkan pengalaman pembaca, serta mendukung penayangan iklan yang relevan. Anda dapat menerima, menolak, atau mengatur preferensi cookie.

Fungsional Selalu aktif
Penyimpanan atau akses teknis yang diperlukan untuk menjalankan layanan dan fungsi dasar website.
Preferences
The technical storage or access is necessary for the legitimate purpose of storing preferences that are not requested by the subscriber or user.
Statistik
Penyimpanan atau akses yang digunakan untuk memahami penggunaan website dan meningkatkan layanan. The technical storage or access that is used exclusively for anonymous statistical purposes. Without a subpoena, voluntary compliance on the part of your Internet Service Provider, or additional records from a third party, information stored or retrieved for this purpose alone cannot usually be used to identify you.
Pemasaran
Penyimpanan atau akses yang digunakan untuk mendukung penayangan iklan dan mengukur efektivitasnya.
  • Kelola pilihan
  • Kelola layanan
  • Kelola {vendor_count} vendor
  • Baca selengkapnya tentang tujuan ini
Lihat Preferensi
  • {title}
  • {title}
  • {title}
  • Beranda
  • NEWS
    • BISNIS
    • EKONOMI
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • KULINER
  • GAME

© 2026 Bulatan Times