BULATAN TIMES – Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terbatas terhadap sasaran di Pulau Qeshm, Iran, pada Senin (2/11/2026). Serangan di dekat Selat Hormuz itu terjadi ketika Washington dan Teheran masih mengupayakan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak Februari.
Seorang pejabat AS yang berbicara kepada Reuters mengatakan operasi tersebut ditujukan terhadap ancaman rudal darat-ke-udara Iran kepada aset militer Amerika di kawasan selat. Pejabat lainnya menyebut serangan itu bersifat terbatas dan bukan awal dari operasi militer besar-besaran.
Menurut keterangan pejabat AS yang dikutip dari laman ABC News, serangan dilakukan setelah Iran menembaki sebuah pesawat Amerika. Komando Pusat AS (CENTCOM) belum mengeluarkan pernyataan publik yang merinci operasi tersebut.
Sementara itu, kantor berita resmi Iran, IRNA, menyatakan sejumlah ledakan terdengar di Pulau Qeshm pada Senin malam. Saksi mata yang dikutip IRNA mengaku melihat dua pesawat terbang di atas pulau tersebut.
Pulau Qeshm Berada di Jalur Strategis Selat Hormuz
Qeshm merupakan pulau terbesar di Iran yang terletak di dekat pintu masuk Selat Hormuz. Wilayah ini berada di antara daratan Iran dan jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Letaknya menjadikan Qeshm bagian dari kawasan strategis bagi aktivitas militer dan perdagangan maritim. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Iran memiliki fasilitas militer di pulau tersebut, termasuk sistem radar dan pertahanan rudal. Sejumlah pejabat AS menyebut serangan terbaru diarahkan terhadap kemampuan Iran menggunakan rudal untuk mengancam pesawat Amerika.
Perundingan AS dan Iran Belum Capai Kesepakatan
Serangan tersebut berlangsung ketika Qatar masih menjadi mediator dalam pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Iran dan Qatar Berunding Hari Ketiga, Pembukaan Selat Hormuz Belum Disepakati
Pada Selasa (3/11/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menyatakan Washington dan Teheran sedang mempelajari usulan yang diajukan para mediator.
Delegasi Qatar yang sebelumnya mengunjungi Teheran telah kembali ke Doha, tetapi komunikasi diplomatik tetap berlangsung.
Seorang pejabat senior Iran menyatakan kedua negara masih memiliki perbedaan besar mengenai persyaratan untuk mengakhiri konflik.
Iran meminta pencabutan pembatasan terhadap ekspor minyak, penghentian blokade laut Amerika Serikat, dan pencairan dana Iran yang dibekukan. Persyaratan tersebut juga berkaitan dengan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.
Baca Juga: Sanksi AS Mulai Berdampak, Penerbangan Iran ke Irak dan Oman Dibatalkan
Dari Washington, Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan pandangan bahwa penyelesaian melalui perundingan masih memungkinkan. Presiden Donald Trump juga membuka peluang tercapainya kesepakatan dengan Teheran.
Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf pada Selasa menyatakan bahwa langkah untuk mencegah perang kembali meluas berada di tangan Washington. Ia juga menegaskan angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam kondisi kesiagaan tinggi.





