BULATAN TIMES – Partai Demokrat memenangkan kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat Amerika Serikat (AS) dalam pemilu sela yang digelar pada Selasa, 3 November 2026. Hasil tersebut mengubah peta kekuatan politik Washington setelah Partai Republik menguasai kedua kamar Kongres pada awal masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.
Kemenangan Demokrat dipastikan melalui proyeksi hasil pemilu yang diumumkan pada 4 November 2026. Meski penghitungan suara di sejumlah wilayah masih berlangsung, jumlah kursi yang telah dimenangkan cukup untuk memastikan mayoritas Demokrat di kedua kamar Kongres periode berikutnya.
Perubahan ini akan menghadirkan pemerintahan dengan kendali kekuasaan yang terbagi. Trump tetap menjabat presiden, sedangkan Demokrat akan memegang mayoritas legislatif setelah anggota Kongres baru mulai bertugas pada Januari 2027.
Demokrat Menangkan Kursi Senat di Basis Republik
Berdasarkan hasil yang telah diproyeksikan hingga 4 November, kubu Demokrat menguasai sedikitnya 54 kursi Senat, termasuk anggota independen yang bergabung dalam kelompok Demokrat. Partai Republik memperoleh 44 kursi.
Dua pemilihan Senat di Alaska dan Mississippi masih belum diputuskan pada saat laporan tersebut disusun, sehingga komposisi akhir berpotensi berubah.
Demokrat merebut sejumlah kursi yang sebelumnya dikuasai Republik, termasuk di Texas, Kansas, South Carolina, North Carolina, Ohio, Iowa, dan Maine.
Kemenangan di Texas menjadi salah satu perkembangan penting karena negara bagian tersebut telah lama menjadi basis kuat Partai Republik. Kansas juga memilih senator Demokrat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.
Di DPR, Demokrat memperoleh tambahan sedikitnya 28 kursi dan memastikan mayoritas dari total 435 kursi yang diperebutkan.
Pemilihan anggota DPR berlangsung di seluruh distrik kongres, sedangkan pemilu Senat tahun ini memperebutkan 35 dari total 100 kursi. Anggota Senat yang tidak mengikuti pemilihan tetap mempertahankan kursinya sesuai masa jabatan masing-masing.
Harga Kebutuhan Hidup dan Perang Iran Jadi Sorotan
Biaya hidup menjadi salah satu persoalan utama yang disoroti selama kampanye pemilu sela.
Baca Juga: Kepuasan Publik AS terhadap Trump Turun ke 32 Persen, Biaya Hidup Jadi Sorotan
Partai Demokrat mengangkat isu harga barang, tarif impor, dan biaya kebutuhan rumah tangga dalam kritik mereka terhadap kebijakan pemerintahan Trump.
Perang Amerika Serikat dengan Iran juga menjadi perhatian pemilih setelah konflik tersebut memengaruhi harga energi dan kondisi ekonomi.
Baca Juga: AS Serang Pulau Qeshm di Iran Saat Diplomasi Hormuz Berlanjut
Sejumlah hasil survei pemilih memperlihatkan meningkatnya dukungan kepada Demokrat di kelompok pemilih muda, masyarakat berpendapatan rendah, serta pemilih yang sebelumnya mendukung kandidat Republik.
Namun, perubahan pilihan tersebut tidak dapat dikaitkan dengan satu persoalan saja. Pertimbangan ekonomi, kebijakan pemerintah, dan kondisi politik setempat berbeda di setiap negara bagian maupun distrik pemilihan.
Trump mengakui bahwa perang Iran turut berperan dalam hasil pemilu yang merugikan Partai Republik, tetapi tetap mempertahankan keputusannya terkait konflik tersebut.
Wakil Presiden JD Vance juga menilai perang Iran menjadi faktor utama kekalahan partainya.
Mayoritas Demokrat Ubah Hubungan Kongres dan Gedung Putih
Kendali Demokrat atas DPR dan Senat akan memengaruhi proses pembahasan undang-undang, anggaran, serta pengawasan terhadap pemerintah federal.
Di DPR, mayoritas baru dapat menentukan kepemimpinan komite, mengatur agenda legislasi, dan memulai penyelidikan terhadap kebijakan maupun tindakan pemerintah.
Sementara itu, Senat memiliki kewenangan dalam persetujuan sejumlah pejabat tinggi pemerintahan, hakim federal, dan calon hakim Mahkamah Agung.
Kendali Senat oleh Demokrat dapat membatasi kemampuan Trump memperoleh persetujuan atas calon pejabat yang diajukan. Namun, presiden tetap memiliki kewenangan konstitusional, termasuk hak veto terhadap rancangan undang-undang yang disahkan Kongres.
Pemimpin Demokrat di DPR, Hakeem Jeffries, menyatakan mayoritas baru akan memprioritaskan persoalan keterjangkauan biaya hidup dan pertanggungjawaban pemerintah.
Di pihak Republik, Ketua DPR Mike Johnson mengumumkan tidak akan kembali mencalonkan diri sebagai pemimpin fraksi Republik pada periode Kongres berikutnya.
Trump Masih Pegang Hak Veto
Trump menyatakan masih membuka kemungkinan bekerja sama dengan Demokrat, tetapi mengingatkan bahwa ia dapat menggunakan hak veto apabila tidak menyetujui rancangan undang-undang mereka.
Perbedaan kendali antara Gedung Putih dan Kongres dapat membuat pembahasan kebijakan memerlukan negosiasi lebih panjang, khususnya dalam urusan anggaran, perpajakan, dan program pemerintah.
Partai Demokrat juga tidak otomatis dapat memberlakukan seluruh agenda legislatifnya karena rancangan undang-undang tetap harus melalui proses konstitusional, termasuk persetujuan presiden atau mekanisme untuk mengatasi veto.
Kongres AS periode ke-120 dijadwalkan mulai bertugas pada 3 Januari 2027. Sebelum pergantian tersebut, Partai Republik masih memegang kendali atas Kongres yang sedang menjabat, sementara penyelesaian penghitungan dan pengesahan hasil pemilu berlangsung sesuai ketentuan masing-masing negara bagian.





