JAKARTA, BULATAN TIMES – Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan Internet of Things (IoT) membuka peluang baru bagi kemajuan pertanian Indonesia. Salah satu inovasi yang memanfaatkan teknologi tersebut ialah My Salak, karya Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang.
Melalui My Salak, UMN menghadirkan sistem pertanian pintar yang membantu petani memantau kondisi tanaman dan mengendalikan serangan hama. Teknologi ini juga memantau kondisi lingkungan, termasuk suhu yang memengaruhi pertumbuhan tanaman.
Inovasi My Salak menarik perhatian Kantor Wilayah Kementerian Hukum Banten dalam Forum Bisnis Paten Indonesia (FBPI) 2026. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI menggelar forum tersebut pada 3–5 November 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
My Salak UMN Hadirkan Solusi Pertanian Berbasis AI dan IoT
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Banten, Hadiyanto, mengunjungi stan UMN dan melihat langsung inovasi My Salak. Ia mengapresiasi teknologi tersebut karena menawarkan solusi bagi kebutuhan sektor pertanian.
Menurut Hadiyanto, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara agraris. Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu terus berkembang untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat perekonomian nasional.
“Ini sangat luar biasa. Universitas Multimedia Nusantara sudah mampu menghasilkan suatu inovasi yang bermanfaat. Kita pahami bersama bahwa negara kita adalah negara agraris, sehingga produksi pertanian seharusnya menjadi salah satu penunjang ekonomi yang sangat besar,” ujar Hadiyanto.
Lebih lanjut, Hadiyanto menjelaskan bahwa tim pengembang telah menerapkan My Salak di Sleman, Yogyakarta. Mereka menjalankan implementasi tersebut melalui kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Penerapan ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi mampu menghadirkan hasil penelitian yang menjawab kebutuhan masyarakat. Selain itu, kolaborasi antara kampus dan pengguna teknologi dapat memperluas manfaat inovasi.
Teknologi My Salak Berpotensi Dukung Berbagai Komoditas Buah
Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkum Banten, John Batara Manikallo, turut mengapresiasi kontribusi UMN dalam mengembangkan inovasi berbasis paten.
Ia berharap masyarakat dan pelaku usaha semakin mengenal produk inovasi dalam negeri. Dengan demikian, mereka dapat memanfaatkan hasil penelitian perguruan tinggi untuk mendukung kegiatan ekonomi.
“Kita patut bersyukur karena salah satu universitas dari Banten sudah menghasilkan inovasi yang luar biasa, yaitu My Salak, yang berguna untuk membantu membasmi hama, terutama pada tanaman salak. Kami berharap masyarakat dan pelaku usaha dapat mengenal serta memanfaatkan produk-produk inovasi yang telah memiliki paten,” ungkap John.
Sementara itu, perwakilan UMN menjelaskan bahwa Dr. Nabila, dosen Fakultas Teknik dan Informatika UMN, mengembangkan inovasi My Salak.
Tim pengembang merancang teknologi ini untuk membantu petani mencegah dan mengendalikan serangan hama, khususnya pada tanaman salak. Menariknya, teknologi tersebut juga memiliki potensi penggunaan yang lebih luas.
“My Salak berfokus pada sistem pertanian pintar untuk mencegah dan mengendalikan hama, khususnya pada buah salak. Namun, penerapannya tidak terbatas pada salak saja, karena teknologi ini juga berpotensi digunakan untuk komoditas hortikultura lainnya seperti mangga, jeruk, dan buah-buahan sejenis,” jelas perwakilan UMN.
Selain membantu petani mengendalikan hama, teknologi My Salak diharapkan mampu menjaga kualitas hasil panen. Bahkan, pengembangannya berpotensi meningkatkan daya saing komoditas hortikultura Indonesia di pasar ekspor.
Kanwil Kemenkum Banten Dorong Inovasi Paten Perguruan Tinggi
Kepala Bidang Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum Banten, Rahadyanto, menyampaikan bahwa UMN merupakan salah satu mitra kerja sama Kanwil dalam mendorong inovasi perguruan tinggi.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan karya intelektual. Dosen dan mahasiswa dapat mengembangkan penelitian serta kreativitas menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi.
“UMN merupakan salah satu mitra kerja sama kami dalam mendorong dan meningkatkan inovasi dari kampus, baik dari dosen maupun mahasiswa. Ini terbukti dengan adanya salah satu produk inovasi paten yang ditampilkan dalam forum nasional ini, yaitu My Salak. Mudah-mudahan ke depan kampus-kampus lain juga dapat menghasilkan produk inovasi yang berkesempatan tampil dalam forum nasional maupun internasional,” ujarnya.
Hadiyanto juga menilai FBPI 2026 sebagai wadah strategis untuk mempertemukan inventor, perguruan tinggi, dan pelaku usaha. Melalui forum ini, para inovator dapat memperkenalkan hasil karya sekaligus membuka peluang kerja sama dan komersialisasi paten.
Ia berharap penyelenggara terus menghadirkan forum serupa secara berkelanjutan. Dengan begitu, semakin banyak inovasi anak bangsa yang memperoleh kesempatan untuk berkembang dan menembus pasar nasional maupun internasional.
“Jangan selalu kita berpikir impor, tetapi bagaimana kita berpikir untuk mengekspor hasil-hasil karya putra bangsa kita. Inovasi dalam negeri harus terus didorong agar mampu memberikan manfaat dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia,” tegasnya.
Melalui dukungan terhadap inovasi My Salak UMN, Kanwil Kemenkum Banten memperkuat komitmen dalam mendorong perlindungan dan pemanfaatan kekayaan intelektual. Kanwil juga terus membangun sinergi dengan perguruan tinggi untuk melahirkan lebih banyak inovasi unggulan.
Dengan demikian, paten tidak hanya memberikan perlindungan hukum bagi inventor. Paten juga membuka peluang komersialisasi, mendorong kemajuan teknologi, dan memperkuat perekonomian nasional.





