JAKARTA, BULATAN TIMES – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi perhatian pasar keuangan pada Rabu (4/11/2026). Berdasarkan data perdagangan pasar valuta asing, dolar AS berada di kisaran Rp18.136,77 pada pukul 12.06 WIB.
Angka tersebut menunjukkan pergerakan rupiah yang masih berada di bawah tekanan. Meski demikian, rupiah sempat membuka perdagangan dengan penguatan ke level Rp18.134 per dolar AS.
Sementara itu, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) terakhir yang tersedia, yakni 3 November 2026, mencatat rupiah di level Rp18.148 per dolar AS.
BI Ungkap Tiga Penyebab Rupiah Melemah
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan tiga faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah. Ia menyampaikan penjelasan tersebut dalam konferensi pers hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Pertama, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini mendorong investor lebih berhati-hati dalam menempatkan modal.
Kedua, kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung ketat turut memberikan tekanan. Kebijakan tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS.
Ketiga, perubahan sentimen investor global terhadap aset negara berkembang juga memengaruhi pergerakan rupiah. Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko ketika ketidakpastian meningkat.
Menurut Destry, tekanan terhadap rupiah mulai meningkat sejak Oktober 2026. Padahal, pada akhir September, rupiah sempat menguat ke kisaran Rp17.870 per dolar AS.
Pada 2 November 2026, rupiah tercatat melemah hingga Rp18.145 per dolar AS.
Rupiah Sempat Menguat pada Perdagangan Hari Ini
Di tengah tekanan tersebut, rupiah menunjukkan perbaikan pada pembukaan perdagangan Rabu (4/11/2026).
Mengutip data pasar spot Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp18.134 per dolar AS. Posisi ini menguat 26 poin atau sekitar 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp18.160 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penurunan harga minyak mentah dunia turut mendukung penguatan rupiah.
Selain itu, pelemahan indeks dolar AS menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat turut memberikan sentimen positif bagi mata uang negara berkembang.
Namun, penguatan rupiah masih menghadapi tantangan. Pelaku pasar tetap mencermati perkembangan geopolitik dan kondisi pasar keuangan global.
BI Siapkan Langkah Menjaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia terus memperkuat strategi stabilisasi nilai tukar untuk menghadapi tekanan pasar global.
BI melakukan intervensi melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri. Bank sentral juga mengoptimalkan transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, BI memperluas insentif pengurangan premi lindung nilai atau hedging. Langkah ini bertujuan menarik investasi asing dan menjaga stabilitas pasar keuangan.
Dari sisi ketahanan eksternal, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 mencapai US$146,3 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik. Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu fokus penting untuk menjaga kepercayaan investor serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.





