Jakarta, Bulatan Times – Kebiasaan menggulir layar ponsel atau scrolling tanpa disadari dapat menurunkan kualitas tidur dan mengganggu kesehatan psikologis seseorang.
Psikolog berlisensi sekaligus pendiri Denison Psychological Services di Amerika Serikat, Miranda Denison, mengatakan kebiasaan scrolling, terutama menjelang tidur, dapat mengganggu siklus tidur tubuh.
“Cahaya dari perangkat elektronik dapat memberi sinyal kepada otak bahwa masih ada waktu untuk bangun. Sementara itu, konten yang kita konsumsi dapat merangsang pikiran secara mental maupun emosional,” kata Denison, dikutip dari laporan Real Simple, Selasa (3/11).
Alih-alih menenangkan pikiran sebelum tidur, kebiasaan tersebut justru dapat memicu stres. Denison menjelaskan stres berkepanjangan dan gangguan tidur berpotensi menimbulkan masalah yang lebih serius.
Dampaknya antara lain mudah marah, frustrasi, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, hingga penurunan daya ingat.
Baca juga: Malaria Masih Jadi Tantangan di Indonesia Timur, Ini Pentingnya Pemeriksaan Darah
Scrolling Pagi Hari Dapat Memicu Rasa Lesu
Kepala ahli tidur sekaligus ahli saraf di lembaga penelitian tidur Wesper, Dr. Chelsie Rohrscheib, mengatakan paparan cahaya ponsel pada pagi hari juga dapat berdampak negatif.
Alih-alih membuat tubuh lebih segar setelah bangun tidur, kebiasaan tersebut justru dapat membuat seseorang merasa lesu.
Menurut Rohrscheib, paparan sinar matahari pagi membantu otak menyesuaikan diri dengan kondisi terjaga dan waspada. Namun, kebiasaan scrolling ponsel di tempat tidur dapat menunda proses tersebut sehingga seseorang merasa linglung dan lamban.
“Meskipun layar perangkat elektronik memancarkan cahaya dan dapat menekan melatonin sampai tingkat tertentu, intensitas maupun jumlah cahayanya tidak ideal untuk memenuhi kebutuhan tubuh pada pagi hari,” ujar Rohrscheib.
Mengurangi Scrolling Bantu Menikmati Momen
Denison mengatakan kebiasaan scrolling pada pagi dan malam hari melatih otak untuk terus mengonsumsi konten berdurasi pendek. Kebiasaan tersebut juga meningkatkan kemungkinan seseorang terpapar berita yang memicu respons emosional.
Menurut Denison, seseorang mungkin mulai merasakan perubahan setelah satu minggu mengurangi kebiasaan scrolling. Salah satunya, meningkatnya kemampuan untuk menikmati momen saat ini.
“Pikiran mungkin akan lebih jarang mengembara dan Anda bisa mulai menyadari hal-hal yang sebelumnya terlewatkan. Misalnya, betapa nikmatnya secangkir kopi pada pagi hari ketika benar-benar dinikmati, dibandingkan meminumnya sambil melakukan scrolling,” kata Denison.
Denison menambahkan, kebiasaan menikmati setiap momen dan mengurangi konsumsi konten yang merangsang pikiran maupun emosi dapat membantu menurunkan stres.
Perubahan tersebut juga berpotensi memberikan manfaat bagi kondisi fisik seseorang.
“Anda mungkin melihat peningkatan dalam tidur, energi, konsentrasi, dan suasana hati secara keseluruhan. Semakin lama Anda menahan diri dari menggulir layar pada pagi dan sore hari, semakin jelas perubahan tersebut terasa,” tutur Denison.
Mulai Kurangi Scrolling Secara Bertahap
Menghentikan kebiasaan scrolling ponsel memang tidak mudah. Karena itu, Denison menyarankan seseorang untuk memulainya melalui langkah-langkah kecil.
Menurut Denison, seseorang yang terbiasa menggunakan ponsel untuk mengisi waktu saat bosan atau merasa tidak nyaman mungkin akan kesulitan ketika harus duduk tanpa melakukan apa pun.
Namun, seseorang tidak harus sepenuhnya berhenti scrolling untuk merasakan perubahan positif.
“Mulai dengan perubahan kecil dan spesifik, seperti tidak menggulir layar sambil minum kopi pada pagi hari atau meletakkan ponsel 30 menit sebelum tidur. Langkah ini dapat membuat perubahan terasa lebih mudah dan berkelanjutan,” kata Denison.
Selain itu, Denison menyarankan seseorang sesekali membiarkan dirinya merasa bosan. Dalam batas tertentu, rasa bosan dapat memberi kesempatan kepada otak untuk memperlambat aktivitasnya.
“Hal ini juga membantu kita menjadi lebih nyaman menikmati momen saat ini tanpa harus terus-menerus mendapatkan stimulasi,” ujar Denison.





