Bulatan Times – Sebanyak 80 persen kabupaten/kota di Indonesia telah mencapai eliminasi malaria hingga 2025. Namun, penularan penyakit ini masih menjadi tantangan, terutama di wilayah timur Indonesia. Pemeriksaan darah menjadi langkah penting untuk memastikan infeksi malaria dapat dikenali dan ditangani secara tepat.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), beban malaria kini semakin terkonsentrasi di provinsi-provinsi bagian timur Indonesia. Sementara itu, sejumlah daerah lain telah berhasil menekan penularan hingga mencapai status bebas malaria.
Kementerian Kesehatan mencatat 706.297 kasus malaria sepanjang 2025. Sekitar 95 persen kasus tersebut berasal dari enam provinsi di Tanah Papua.
Kondisi ini menempatkan diagnosis yang akurat sebagai bagian penting dari penanganan malaria, baik untuk pengobatan pasien maupun untuk menemukan kasus yang masih terjadi di masyarakat.
Mengapa Malaria Perlu Dipastikan lewat Pemeriksaan Darah?
Malaria merupakan penyakit infeksi akibat parasit Plasmodium yang terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi.
Gejala awalnya dapat berupa demam, menggigil, sakit kepala, berkeringat, dan nyeri otot. Keluhan tersebut juga dapat muncul pada penyakit lain, sehingga seseorang tidak bisa dipastikan terkena malaria hanya berdasarkan gejala.
WHO merekomendasikan pemeriksaan parasit melalui mikroskop atau tes diagnostik cepat sebelum pengobatan malaria diberikan.
Pemeriksaan tersebut membantu tenaga kesehatan menentukan apakah pasien terinfeksi parasit malaria. Hasil diagnosis kemudian digunakan bersama kondisi klinis pasien untuk menentukan penanganan yang sesuai.
Riwayat perjalanan juga perlu diperhatikan. Kementerian Kesehatan menganjurkan orang yang mengalami demam saat berada di daerah endemis malaria, atau hingga satu bulan setelah kembali dari daerah tersebut, segera menjalani pemeriksaan darah dan menyampaikan riwayat perjalanannya kepada tenaga kesehatan.
Jika muncul gejala berat seperti gangguan kesadaran, kejang, atau kesulitan bernapas, pasien harus segera mendapatkan pertolongan medis darurat.
Baca Juga: Cara Meredakan Gatal dan Bentol akibat Gigitan Nyamuk di Rumah
Pemeriksaan Mikroskop dan Tes Cepat Malaria
Diagnosis malaria dapat dilakukan melalui pemeriksaan mikroskopis maupun rapid diagnostic test (RDT). Keduanya menggunakan sampel darah, tetapi memiliki cara kerja dan kemampuan yang berbeda.
Pada pemeriksaan mikroskopis, tenaga laboratorium mengamati sediaan darah tebal dan tipis untuk mencari parasit malaria.
Pemeriksaan ini memungkinkan petugas mengenali jenis parasit serta memperkirakan kepadatan parasit di dalam darah. Informasi tersebut diperlukan dalam penilaian infeksi dan pemantauan pengobatan.
Sementara itu, RDT bekerja dengan mendeteksi antigen parasit malaria dari sampel darah. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa hasil tes cepat umumnya dapat diperoleh dalam waktu sekitar 15 menit.
RDT dapat digunakan tanpa mikroskop, tetapi tidak dapat menghitung kepadatan parasit seperti pemeriksaan mikroskopis.
Apabila hasil pemeriksaan awal negatif tetapi demam masih berlangsung dan terdapat riwayat perjalanan ke wilayah endemis, pasien perlu kembali berkonsultasi. Tenaga kesehatan dapat menilai apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan atau pengulangan tes.
WHO dan Kemenkes Perkuat Kemampuan Pemeriksa Darah
Selain ketersediaan alat, ketelitian petugas laboratorium menjadi bagian penting dalam menjaga mutu diagnosis malaria.
Pada September 2026, WHO bersama Kementerian Kesehatan menyelenggarakan dua kegiatan Penilaian Kompetensi Eksternal untuk Tenaga Mikroskopi Malaria atau ECAMM di Jakarta dan Surabaya.
Kegiatan tersebut berlangsung masing-masing selama lima hari dan melibatkan 24 tenaga mikroskopi malaria senior.
Para peserta menjalani penilaian menggunakan preparat darah yang telah terjamin mutunya. Kemampuan yang diuji mencakup pendeteksian parasit, identifikasi spesies, dan penghitungan jumlah parasit dalam darah.
Dari 24 peserta, sebanyak 14 orang mencapai tingkat kompetensi WHO level 1 dan delapan orang mencapai level 2. Kedua tingkat tersebut merupakan kategori kompetensi tertinggi, dengan level 1 berada pada urutan paling atas.
Dengan hasil itu, 22 peserta dinyatakan memenuhi syarat untuk memperoleh sertifikasi WHO. Adapun dua peserta lainnya masing-masing mencapai level 3 dan level 4.
Penilaian berkala juga diperlukan di daerah yang kasus malarianya semakin jarang. Ketika jumlah pasien positif menurun, kesempatan petugas untuk memeriksa sediaan darah yang mengandung parasit ikut berkurang.
WHO merekomendasikan pelatihan penyegaran setidaknya setiap tiga tahun, penilaian kompetensi secara rutin, latihan menggunakan preparat darah yang telah divalidasi, serta pemeliharaan dan kalibrasi mikroskop setiap tahun.
Baca Juga: Demam DBD Turun Belum Tentu Sembuh, Kenali Fase Kritis dan Tanda Bahayanya





