JAKARTA, BULATAN TIMES – PT Astra International Tbk (ASII) mencatat laba bersih sebesar Rp. 21,60 triliun sepanjang Januari hingga September 2026. Angka tersebut turun 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp. 24,47 triliun, meskipun bisnis otomotif dan jasa keuangan masih mencatat pertumbuhan.
Berdasarkan laporan keuangan yang diumumkan pada Rabu (28/10/2026), pendapatan bersih konsolidasian Astra mencapai Rp. 243,87 triliun, relatif stabil dibandingkan Rp. 243,61 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Penurunan laba terutama berkaitan dengan melemahnya kontribusi bisnis pertambangan dan alat berat serta pencatatan pos nonberulang sebesar Rp. 2,96 triliun. Pos tersebut terutama berasal dari penurunan nilai aset dan penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas.
Tanpa memperhitungkan pos nonberulang, laba bersih Astra tercatat Rp. 24,57 triliun, turun sekitar 1 persen dari Rp. 24,72 triliun pada periode sebelumnya.
Presiden Direktur Astra Rudy menyatakan pertumbuhan sejumlah bisnis utama masih mampu mengimbangi sebagian tekanan dari sektor pertambangan. Kinerja perseroan pada kuartal ketiga juga membaik dibandingkan periode sebelumnya.
Baca Juga: Danantara Berpeluang Jadi Pemegang Saham BEI, RUPSLB Bahas Demutualisasi
Bisnis Otomotif Astra Tumbuh 8 Persen
Di tengah penurunan laba konsolidasian, bisnis otomotif Astra mencatat peningkatan laba bersih sebesar 8 persen menjadi Rp. 9,79 triliun, dari Rp. 9,03 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Pertumbuhan tersebut didukung kenaikan volume penjualan kendaraan serta kontribusi bisnis komponen otomotif.
Sepanjang Januari-September 2026, pasar mobil nasional mencatat penjualan sekitar 679.000 unit, meningkat 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan mobil Astra sendiri naik 13 persen, dengan pangsa pasar sebesar 49 persen. Toyota dan Daihatsu masih menjadi merek utama yang menopang posisi Astra di pasar otomotif Indonesia.
Pada kendaraan roda dua, penjualan sepeda motor nasional meningkat 4 persen menjadi sekitar 5 juta unit. Penjualan sepeda motor Honda yang berada dalam bisnis Astra tumbuh 3 persen, dengan pangsa pasar sekitar 77 persen.
Divisi komponen otomotif juga memberikan kontribusi positif. Laba bersih bisnis komponen naik 15 persen menjadi Rp. 1,4 triliun, didukung peningkatan kontribusi dari seluruh segmen usahanya.
Jasa Keuangan Naik, Pertambangan Masih Tertekan
Selain otomotif, bisnis jasa keuangan Astra mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 6 persen menjadi Rp. 7,15 triliun, dibandingkan Rp. 6,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Nilai pembiayaan baru dari bisnis pembiayaan Grup mencapai Rp. 92,5 triliun, meningkat 8 persen. Pertumbuhan tersebut didukung pembiayaan kendaraan dan pembiayaan multiguna.
Baca Juga: Partisipasi Gen Z dalam Pembiayaan Emas Tembus 19 Persen
Sebaliknya, laba bersih bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat, sebelum memperhitungkan pos nonberulang, turun 28 persen menjadi Rp. 5,07 triliun dari Rp. 7,08 triliun.
Penurunan tersebut dipengaruhi berkurangnya penjualan emas dari tambang Martabe yang sempat menghentikan kegiatan produksi pada awal 2026.
Pembatasan kuota produksi batu bara nasional juga menekan permintaan alat berat dan jasa pertambangan. Penjualan alat berat Komatsu turun 17 persen menjadi sekitar 3.000 unit, sedangkan volume penjualan batu bara menurun 23 persen menjadi 7,1 juta ton.
Bisnis pertambangan dan alat berat turut mencatat pos nonberulang sebesar Rp. 2,2 triliun pada divisi panas bumi dan nikel. Setelah memperhitungkan pos tersebut, laba bersih yang dilaporkan dari bisnis ini turun 59 persen menjadi Rp. 2,9 triliun.
Meski demikian, kinerja pertambangan dan alat berat mulai membaik pada kuartal ketiga, dengan pertumbuhan laba 15 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya. Produksi emas Martabe telah kembali berjalan sejak kuartal kedua 2026.





