JAKARTA, BULATAN TIMES – Kedutaan Besar Singapura di Jakarta membantah kabar yang menyebut mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal dan akademisi Saiful Mujani mengunjungi kediaman Duta Besar Singapura untuk Indonesia pada 18 Oktober 2026.
Dalam pernyataan resmi pada Minggu (25/10/2026), Kedubes Singapura menegaskan bahwa kunjungan tersebut tidak pernah terjadi. Pihak kedutaan menyebut informasi yang beredar di media sosial itu sebagai disinformasi.
Kedubes Singapura juga menyatakan akan bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia untuk menangani penyebaran informasi tersebut.
Kabar yang dibantah itu sebelumnya beredar melalui unggahan media sosial yang menuding Dino dan Saiful mendatangi kediaman dubes pada Minggu malam, 18 Oktober. Salah satu unggahan menyertakan rekaman area depan Kedutaan Besar Singapura, tetapi tidak memperlihatkan kedua tokoh tersebut melakukan pertemuan.
Baca Juga: Singapura Surati 7 Perusahaan di Indonesia soal Karhutla, Ini Daftar dan Tuntutannya
Dino Patti Djalal Bantah Kabar Pertemuan
Dino Patti Djalal memberikan bantahan terpisah. Ia menjelaskan bahwa pada tanggal yang disebutkan dalam unggahan, dirinya sedang berada di Perth, Australia, bukan di Jakarta.
Dino berada di Perth selama tiga hari, mulai 18 hingga 20 Oktober 2026, untuk mengikuti sejumlah kegiatan. Salah satunya adalah sesi mengenai perubahan iklim yang diselenggarakan organisasi nonpemerintah Global Citizen.
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu menyatakan baru kembali ke Indonesia pada Selasa (20/10/2026) malam.
Selama berada di Australia, Dino juga mengaku sempat bertemu dengan Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta.
Dino menegaskan bahwa dirinya sudah bertahun-tahun tidak mengunjungi kediaman Duta Besar Singapura di Jakarta. Ia juga membantah pernah melakukan pertemuan dengan Saiful Mujani.
Penanganan Hoaks Akan Melibatkan Komdigi
Selain membantah isi unggahan, Dino mempertimbangkan penyampaian laporan kepada Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.
Ia menilai penyebaran informasi palsu melalui sejumlah akun media sosial dapat digunakan untuk merusak reputasi seseorang dan mengintimidasi pihak yang menyampaikan pandangan di ruang publik.
Baca Juga: Komdigi Bantah Minta Konten Karhutla Dihapus, Meutya Soroti Algoritma Medsos
Dino menduga penyebaran unggahan tersebut dilakukan secara terkoordinasi. Namun, ia belum mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab atas pembuatan dan penyebarannya.
Sebelum pernyataan bantahan Kedubes Singapura dikeluarkan, Sekretaris Fraksi Partai Gerindra DPR RI Bambang Haryadi mengatakan pihaknya sedang mendalami kabar yang beredar mengenai dugaan pertemuan dengan Duta Besar Singapura.
Pernyataan Bambang disampaikan pada Minggu pagi, sedangkan bantahan resmi Kedubes Singapura disampaikan kemudian pada hari yang sama.












