Bulatan Times – Jumlah warga yang menjalani pemeriksaan setelah dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus bertambah. Data terbaru mencatat 498 orang telah diperiksa setelah mengalami gangguan kesehatan.
Angka tersebut meningkat tajam dari laporan awal sebanyak 276 orang. Korban tidak hanya berasal dari kalangan siswa penerima MBG, tetapi juga sejumlah orang tua yang ikut mengonsumsi makanan yang dibawa pulang anak mereka.
Wakil Bupati Batang Suyono menyampaikan, dari 498 orang yang diperiksa, 319 menjalani rawat jalan dan 159 dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sebanyak 20 orang tercatat menjalani rawat inap di Puskesmas Bawang.
RSUD Batang juga telah menangani 90 pasien. Sebanyak 28 orang diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik, sedangkan 62 pasien masih menjalani perawatan berdasarkan pembaruan Jumat pagi.
Tidak ada korban meninggal dalam kejadian tersebut. Dinas Kesehatan Kabupaten Batang menyatakan kondisi pasien secara umum membaik setelah mendapatkan penanganan. Keluhan yang sebelumnya muncul antara lain diare, mual, muntah dan pusing.
Baca Juga: Mahfud MD Soroti SPPG yang Picu Keracunan MBG: Harusnya Diproses Hukum
BGN suspend SPPG Bawang dan copot kepala dapur
Penanganan kasus tidak hanya berlangsung di fasilitas kesehatan.
Badan Gizi Nasional mengambil tindakan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang yang memasok makanan kepada penerima manfaat terdampak.
BGN menjatuhkan suspend kategori berat terhadap operasional SPPG tersebut. Kepala SPPG Bawang juga dicopot.
Wakil Kepala BGN Nanik S. Deyang mengatakan keputusan itu berkaitan dengan temuan pelanggaran standar operasional prosedur. Salah satu persoalan yang ditemukan adalah makanan yang dibawa pulang oleh penerima manfaat, yang menurut BGN termasuk pelanggaran berat.
Investigasi awal juga menyoroti proses pengolahan makanan.
Tim BGN bersama Pemerintah Kabupaten Batang memeriksa kondisi dapur dan rekaman kamera pengawas. Dari pemeriksaan awal itu ditemukan indikasi bahwa proses memasak dimulai jauh lebih cepat daripada waktu yang ditetapkan dalam SOP.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Semarang Hadiriajaya mengatakan rekaman CCTV memperlihatkan proses pengolahan dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Menurut ketentuan yang ia sampaikan, pengolahan seharusnya baru dimulai setelah pukul 02.00 WIB.
Temuan tersebut menjadi bahan investigasi dan belum dengan sendirinya membuktikan penyebab keracunan. Sampel makanan juga diambil untuk pemeriksaan laboratorium.
Baca Juga: Pakar Usulkan SPPG Didenda jika Terbukti Sebabkan Keracunan MBG
Sekitar 2.700 penerima MBG berasal dari 11 sekolah
Skala distribusi makanan dari SPPG Bawang cukup besar.
Data pemerintah daerah sebelumnya mencatat sekitar 2.700 penerima manfaat dari 11 satuan pendidikan mendapatkan layanan makanan dari dapur tersebut. Setelah laporan gangguan kesehatan muncul, pasien berdatangan ke puskesmas dan rumah sakit sehingga jumlah korban terus diperbarui.
Pada Kamis pagi, pemerintah masih mencatat 276 korban. Angka kemudian bertambah karena warga yang mengalami keluhan datang untuk mendapatkan pemeriksaan.
Pemerintah Kabupaten Batang memastikan kebutuhan medis menjadi prioritas. Pemda juga menyatakan biaya pengobatan korban ditanggung pemerintah daerah.
Penambahan pasien sempat membuat fasilitas kesehatan harus menyesuaikan kapasitas. Pemerintah daerah memastikan ketersediaan obat, sementara tempat tidur tambahan disiapkan untuk menangani pasien yang datang.
Penyebab pasti masih menunggu pemeriksaan
Meski pelanggaran SOP sudah ditemukan dalam investigasi awal, penyebab pasti gangguan kesehatan ratusan warga belum dapat disimpulkan hanya dari temuan tersebut.
Pemeriksaan sampel diperlukan untuk mengetahui apakah makanan terkontaminasi dan faktor apa yang menyebabkan korban mengalami keluhan.
Ini menjadi pembeda antara dua perkembangan yang sudah dapat dipastikan: jumlah warga yang diperiksa telah mencapai 498 orang dan BGN telah memberikan sanksi terhadap SPPG Bawang, sedangkan sumber penyebab keracunan masih berada dalam tahap investigasi.
Dinas Kesehatan Batang menyatakan kondisi pasien menunjukkan perbaikan. Pada pemantauan sebelumnya, frekuensi diare berkurang dan keluhan mual, muntah maupun pusing pada sejumlah pasien juga mereda.
Pemerintah daerah tetap memantau pasien yang masih dirawat, sementara investigasi terhadap proses pengolahan makanan dan pemeriksaan sampel berjalan untuk menentukan penyebab kejadian.











