BULATAN TIMES — TNI Angkatan Udara terus meningkatkan kemampuan penerbang jet tempur Rafale setelah pesawat buatan Prancis itu mulai memperkuat armada udara Indonesia.
Sejumlah pilot Rafale dikirim ke Prancis untuk mengikuti pelatihan lanjutan yang berfokus pada penggunaan persenjataan dan taktik pertempuran udara. Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi menjelaskan peningkatan kemampuan tersebut tetap diperlukan meski pendidikan dasar pengoperasian Rafale kini sudah dapat dilakukan di Indonesia.
Program itu menjadi bagian dari proses membangun kesiapan operasional Rafale, bukan hanya dari sisi jumlah pesawat, tetapi juga kemampuan personel yang mengawakinya.
Baca Juga: Prabowo Kerahkan 1.500 TNI untuk Tangani Karhutla Kalbar
Pelatihan Difokuskan pada Weapon Course dan Taktik Udara
Pelatihan di Prancis diarahkan pada peningkatan kemampuan penggunaan senjata atau weapon course, serta pendalaman taktik pertempuran udara.
Materi tersebut penting karena kemampuan mengoperasikan pesawat tidak berhenti pada keterampilan menerbangkan Rafale. Pilot juga harus memahami pemanfaatan sensor, sistem persenjataan, manuver tempur, hingga pengambilan keputusan dalam berbagai skenario operasi.
TNI AU sendiri telah mengembangkan kemampuan penerbang Rafale untuk misi udara-ke-udara maupun udara-ke-permukaan. Kualifikasi tersebut menjadi bagian penting sebelum seorang pilot dapat menjalankan misi operasional dengan pesawat tempur generasi 4,5 itu.
Baca Juga: KM Virgo Transport 8: Kronologi Kecelakaan hingga Evakuasi Korban dari Bangkai Kapal
Pelatihan Dasar Mulai Bisa Dilakukan di Indonesia
Pengiriman pilot ke Prancis tidak berarti seluruh pendidikan Rafale harus dilakukan di luar negeri.
Seiring masuknya Rafale ke TNI AU, fasilitas pengoperasian dan pelatihan mulai dibangun di Indonesia, khususnya di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.
TNI AU juga telah menyiapkan infrastruktur pendukung pengoperasian Rafale, sementara Skadron Udara 12 menjadi salah satu unsur penting dalam pengembangan kemampuan pesawat tersebut.
Dengan adanya kemampuan pelatihan di dalam negeri, pendidikan di Prancis kemudian dapat lebih difokuskan pada tingkat lanjutan dan pengembangan kemampuan tempur yang lebih spesifik.
Rafale TNI AU Ikut Latihan Bersama Angkatan Udara Prancis
Peningkatan kemampuan penerbang juga dilakukan melalui latihan bersama antara TNI AU dan French Air and Space Force.
Dalam Air Maneuver Exercise Pegase 2026 di Lanud Halim Perdanakusuma, Rafale TNI AU dan Rafale Prancis terlibat dalam latihan yang mencakup simulasi pengisian bahan bakar di udara atau air-to-air refueling.
Kemampuan pengisian bahan bakar di udara mempunyai nilai operasional karena dapat memperpanjang daya jelajah dan waktu terbang pesawat tempur.
Latihan tersebut juga menjadi sarana untuk menyamakan prosedur dan meningkatkan interoperabilitas antara kedua angkatan udara. Dalam skenario latihan, Rafale TNI AU beroperasi bersama Rafale Prancis serta pesawat tanker Airbus A330 MRTT.
Baca Juga: Pencarian Korban KM Virgo Transport 8, Arus Laut Jadi Tantangan Penyelam Basarnas
Indonesia Sudah Menerima Enam Rafale
Indonesia memesan total 42 jet tempur Rafale dari Dassault Aviation melalui beberapa tahap kontrak.
Hingga September 2026, TNI AU telah menerima enam unit Rafale. Tiga unit pertama tiba pada awal 2026, kemudian tiga unit berikutnya diterima pada gelombang selanjutnya pada Mei 2026.
Rafale yang telah diterima menjadi bagian dari modernisasi kekuatan udara Indonesia sekaligus menggantikan dan melengkapi sejumlah platform tempur yang telah lebih dulu dioperasikan TNI AU.
Pemerintah dan TNI AU juga masih menunggu pengiriman unit-unit berikutnya. Sebanyak 18 pesawat tambahan dijadwalkan mulai tiba secara bertahap pada 2027 hingga 2029.
Peningkatan SDM Jadi Bagian Penting Modernisasi Rafale
Masuknya pesawat tempur baru tidak hanya membutuhkan kesiapan pesawat dan infrastruktur.
Kemampuan pilot, teknisi, sistem pemeliharaan, kesiapan persenjataan, hingga prosedur operasi harus dikembangkan secara bersamaan agar Rafale dapat digunakan secara optimal.
Karena itu, pelatihan lanjutan di Prancis menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan dan pengembangan kemampuan personel TNI AU.
Kerja sama dengan Angkatan Udara Prancis juga telah berjalan melalui berbagai program pelatihan dan latihan bersama. Dalam Pegase 2026, kedua pihak menempatkan interoperabilitas dan pemahaman prosedur operasi udara sebagai salah satu fokus utama latihan.
Dengan pendekatan tersebut, modernisasi Rafale TNI AU tidak hanya diarahkan pada penambahan jumlah pesawat, tetapi juga pada peningkatan kemampuan personel untuk mengoperasikannya dalam berbagai skenario operasi udara.












