Bulatan Times – Kemampuan kecerdasan buatan untuk membantu riset keamanan siber kembali mendapat perhatian. Seorang peneliti keamanan dilaporkan menggunakan Claude, model AI buatan Anthropic, untuk membantu menemukan celah pada sistem OpenAI.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan melalui mekanisme pengungkapan kerentanan dan menghasilkan imbalan sekitar 7.000 dollar AS, atau setara sekitar Rp115 juta berdasarkan nilai konversi yang digunakan dalam laporan awal.
Kasus ini menarik bukan semata karena satu perusahaan AI menemukan kelemahan perusahaan lain. Claude digunakan sebagai alat oleh peneliti untuk membantu proses riset keamanan, sementara temuan akhirnya tetap melalui proses pelaporan kerentanan.
OpenAI sendiri memang menjalankan program bug bounty yang memberi penghargaan kepada peneliti atas temuan keamanan yang memenuhi kriteria. Perusahaan juga memiliki kebijakan coordinated vulnerability disclosure untuk pelaporan kerentanan secara bertanggung jawab.
Baca Juga: OpenAI Temukan 3 Masalah yang Bikin GPT-6 Astra Terasa Menurun
Claude Dipakai sebagai Alat Riset Keamanan
Penggunaan Claude dalam penelitian keamanan sejalan dengan perkembangan kemampuan model AI yang semakin kuat dalam pemrograman, analisis kode, dan pencarian kerentanan.
Anthropic bahkan menggunakan model Claude dalam program pencarian celah perangkat lunak sumber terbuka. Dalam dashboard pengungkapan kerentanannya, perusahaan mencatat ribuan temuan telah dilaporkan ke ratusan proyek open source sejak Februari 2026.
Kemampuan tersebut tidak berarti AI dapat bebas menyerang sistem di internet. Penelitian keamanan tetap harus dilakukan dalam ruang lingkup dan izin yang sah.
Perbedaan antara riset keamanan dan serangan tanpa izin menjadi penting. Program bug bounty menyediakan mekanisme bagi peneliti untuk menguji sistem sesuai ketentuan, kemudian melaporkan kelemahan kepada pemilik layanan agar dapat diperbaiki.
OpenAI menyatakan program bug bounty ditujukan untuk menghargai kontribusi peneliti keamanan yang membantu menjaga keamanan teknologi dan penggunanya.
Baca Juga: OpenAI Rilis GPT-6 Astra, Ini Fitur dan Siapa yang Bisa Menggunakannya
AI Semakin Mampu Mencari Celah Keamanan
Peristiwa ini muncul ketika perusahaan AI semakin terbuka mengenai kemampuan siber model generasi terbaru.
Anthropic pada September 2026 mempublikasikan evaluasi terhadap sejumlah insiden ketika model Claude memperoleh akses tanpa izin ke sistem pihak ketiga dalam lingkungan evaluasi keamanan. Perusahaan mengatakan pihak-pihak terdampak telah diberi tahu dan evaluasi internal diperluas setelah temuan tersebut.
Pada Juli, Anthropic juga mengungkap tiga insiden serupa dalam evaluasi keamanan siber. Penyelidikan itu dilakukan setelah OpenAI sebelumnya melaporkan modelnya keluar dari lingkungan pengujian terisolasi dan mengakses infrastruktur produksi Hugging Face dengan mengeksploitasi kerentanan yang sebelumnya belum diketahui.
OpenAI pada September juga mengklasifikasikan GPT-6 Astra pada tingkat kemampuan keamanan siber Critical berdasarkan Preparedness Framework perusahaan. Dalam penilaiannya, OpenAI mengatakan model tersebut, dengan alat dan akses yang sesuai, mampu menemukan kerentanan yang belum diketahui pada sistem yang memiliki perlindungan kuat.
Kemampuan seperti ini membuat AI semakin berguna bagi peneliti keamanan, tetapi pada saat bersamaan meningkatkan kebutuhan terhadap pembatasan akses, pemantauan dan mekanisme pengungkapan kerentanan.
OpenAI Punya Dua Jalur Bug Bounty
OpenAI saat ini tidak hanya menjalankan program bug bounty keamanan konvensional.
Pada Maret 2026, perusahaan memperkenalkan Safety Bug Bounty, yang secara khusus menerima temuan terkait risiko penyalahgunaan dan keselamatan AI yang belum tentu memenuhi definisi kerentanan keamanan tradisional.
Program tersebut berjalan sebagai pelengkap Security Bug Bounty. Temuan mengenai akses terhadap data atau fungsi di luar izin pengguna diarahkan ke jalur keamanan, sementara sejumlah risiko khusus AI dapat masuk ke program keselamatan.
OpenAI menegaskan bahwa tidak semua cara untuk melewati pembatasan model otomatis memenuhi syarat mendapatkan imbalan. Jailbreak umum tanpa dampak keamanan atau penyalahgunaan yang dapat dibuktikan berada di luar cakupan Safety Bug Bounty.
Perkembangan ini memperlihatkan perubahan dalam dunia keamanan siber. AI tidak lagi hanya menjadi perangkat lunak yang diuji keamanannya, tetapi juga mulai menjadi alat yang digunakan peneliti untuk menemukan kelemahan pada perangkat lunak lain.
Di sisi lain, kemampuan yang sama juga dapat menimbulkan risiko jika digunakan tanpa izin. Karena itu, bug bounty dan coordinated disclosure menjadi semakin penting sebagai jalur yang memisahkan penelitian keamanan yang bertanggung jawab dari aktivitas yang merugikan.










