Bulatan Times – Banyak orang tua masih ragu ketika ingin memberikan jeroan kepada bayi dan anak kecil. Sebagian menganggap makanan ini kurang baik untuk kesehatan. Padahal, jika diolah dengan benar dan diberikan dalam jumlah yang tepat, jeroan dapat menjadi salah satu sumber nutrisi dalam menu makanan pendamping ASI (MPASI).
Hati ayam dan hati sapi, misalnya, mengandung zat besi, protein, vitamin B12, serta vitamin A. Berbagai nutrisi tersebut berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Lantas, apakah bayi benar-benar boleh makan jeroan? Jawabannya boleh, tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Jeroan Mengandung Nutrisi Penting untuk Anak
Jeroan memiliki kandungan gizi yang cukup beragam. Setiap jenisnya juga menawarkan manfaat yang berbeda.
Hati ayam dan hati sapi dikenal sebagai sumber zat besi yang baik. Mineral ini membantu tubuh memproduksi hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Selain itu, hati juga mengandung vitamin A yang mendukung kesehatan mata, sistem kekebalan tubuh, dan pertumbuhan sel.
Sementara itu, jantung mengandung protein, vitamin B12, serta sejumlah mineral yang mendukung fungsi tubuh.
Kandungan tersebut membuat jeroan berpotensi menjadi bagian dari menu makanan bergizi seimbang bagi anak.
2. Kapan Bayi Boleh Mulai Mengonsumsi Jeroan?
Bayi umumnya mulai mendapatkan MPASI ketika berusia sekitar enam bulan, sesuai tanda kesiapan makan dan anjuran tenaga kesehatan.
Pada usia ini, orang tua dapat memperkenalkan berbagai sumber protein hewani, termasuk daging dan jeroan yang dimasak hingga matang sempurna.
Tekstur makanan perlu menyesuaikan kemampuan makan bayi. Orang tua dapat menghaluskan hati ayam atau hati sapi, kemudian mencampurkannya dengan bubur atau bahan MPASI lainnya.
Perkenalkan makanan secara bertahap. Perhatikan pula respons anak setelah mencoba makanan baru.
3. Jangan Berlebihan, Hati Mengandung Vitamin A Tinggi
Meski kaya nutrisi, bukan berarti anak boleh mengonsumsi hati setiap hari.
Hati mengandung vitamin A dalam bentuk retinol. Konsumsi vitamin A jenis ini secara berlebihan dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
Karena itu, orang tua perlu membatasi pemberian hati dan tidak menjadikannya sebagai menu protein utama setiap hari.
Variasikan sumber protein anak dengan ikan, ayam, telur, daging sapi, serta sumber protein lainnya sesuai usia dan kebutuhan gizi.
Dengan variasi makanan, anak memperoleh nutrisi yang lebih beragam tanpa bergantung pada satu jenis bahan pangan.
4. Pastikan Jeroan Bersih dan Matang Sempurna
Keamanan makanan juga menjadi hal penting ketika memberikan jeroan kepada bayi.
Pilih jeroan yang masih segar dan berasal dari sumber yang terpercaya. Bersihkan serta olah dengan cara yang higienis.
Masak hingga matang sempurna untuk mengurangi risiko paparan bakteri dan mikroorganisme penyebab penyakit.
Hindari memberikan jeroan mentah atau setengah matang kepada anak. Selain itu, jangan menambahkan garam dan gula secara berlebihan pada menu MPASI.
5. Variasikan Menu agar Kebutuhan Gizi Anak Terpenuhi
Jeroan memang memiliki kandungan nutrisi yang bermanfaat. Namun, makanan ini bukan satu-satunya sumber zat besi dan protein bagi anak.
Orang tua dapat mengombinasikan berbagai bahan pangan dalam menu sehari-hari. Daging sapi, ayam, ikan, telur, kacang-kacangan, sayuran, dan buah dapat melengkapi kebutuhan nutrisi anak.
Pemberian makanan yang beragam juga membantu anak mengenal berbagai rasa dan tekstur sejak dini.
Jadi, Bolehkah Anak Makan Jeroan?
Jeroan boleh menjadi bagian dari menu MPASI setelah bayi siap menerima makanan pendamping ASI. Kandungan protein, zat besi, vitamin B12, dan nutrisi lainnya dapat mendukung kebutuhan gizi anak.
Namun, khusus hati ayam dan hati sapi, orang tua perlu memberikan perhatian lebih karena kandungan vitamin A retinolnya sangat tinggi.
Kuncinya bukan sekadar memberikan makanan bergizi, melainkan juga memperhatikan jumlah, frekuensi, kebersihan, dan cara pengolahannya.
Dengan pola makan yang bervariasi dan seimbang, orang tua dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak selama masa pertumbuhan.





