Bulatan Times – Hasil pemeriksaan gula darah puasa biasanya ditulis dalam satuan mg/dL. Namun, ketika menjalani tes HbA1c, seseorang akan mendapatkan angka dalam bentuk persentase, misalnya 5,8% atau 6,7%. Kedua pemeriksaan tersebut sama-sama berkaitan dengan gula darah, tetapi menunjukkan kondisi yang berbeda.
Tes HbA1c digunakan untuk melihat gambaran rata-rata kadar gula darah selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir. Berbeda dengan pemeriksaan gula darah puasa, tes ini tidak mengharuskan pasien berhenti makan selama beberapa jam sebelum darah diambil.
Hasil HbA1c dapat membantu dokter mendeteksi prediabetes, menegakkan diagnosis diabetes tipe 2, serta memantau pengendalian gula darah pada orang yang telah menjalani pengobatan.
Baca Juga: Viral Gerakan Jinjit Setelah Makan, Benarkah Bisa Turunkan Lonjakan Gula Darah hingga 32 Persen?
Apa Itu HbA1c dan Mengapa Tidak Perlu Puasa?
HbA1c merupakan singkatan dari hemoglobin A1c, yaitu hemoglobin yang telah berikatan dengan glukosa. Hemoglobin adalah protein di dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Ketika glukosa beredar dalam darah, sebagian akan menempel pada hemoglobin. Semakin tinggi kadar gula darah dalam jangka waktu tertentu, semakin besar pula persentase hemoglobin yang berikatan dengan glukosa.
Sel darah merah umumnya bertahan sekitar 120 hari. Karena itulah, pemeriksaan HbA1c dapat memberikan gambaran paparan gula darah selama beberapa bulan, bukan hanya pada saat sampel darah diambil.
Tes HbA1c tidak memerlukan puasa karena hasilnya tidak ditentukan oleh kenaikan gula darah sesaat setelah makan. Sampel darah dapat diambil pada waktu yang berbeda sepanjang hari.
Namun, jika pemeriksaan HbA1c dilakukan bersamaan dengan tes gula darah puasa atau pemeriksaan lain yang memerlukan persiapan khusus, pasien tetap harus mengikuti petunjuk laboratorium.
Cara Membaca Hasil HbA1c: Normal, Prediabetes, dan Diabetes
Hasil pemeriksaan HbA1c dinyatakan dalam persentase. Untuk skrining dan diagnosis diabetes pada orang yang tidak sedang hamil, interpretasi umumnya dibagi menjadi tiga kelompok.
1. HbA1c di bawah 5,7% – Normal
Hasil di bawah 5,7% termasuk kategori normal berdasarkan batas pemeriksaan HbA1c.
Meski demikian, hasil normal tidak selalu menyingkirkan diabetes apabila seseorang memiliki gejala atau kondisi yang dapat memengaruhi keakuratan pemeriksaan.
2. HbA1c 5,7-6,4% – Prediabetes
Rentang ini menunjukkan kadar gula darah rata-rata telah berada di atas batas normal, tetapi belum mencapai ambang diagnosis diabetes.
Prediabetes menandakan peningkatan risiko mengalami diabetes tipe 2. Dokter dapat menyarankan perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, dan pemeriksaan ulang sesuai kondisi pasien.
3. HbA1c 6,5% atau lebih – Memenuhi Ambang Pemeriksaan Diabetes
Hasil HbA1c sebesar 6,5% atau lebih memenuhi salah satu kriteria laboratorium untuk diagnosis diabetes.
Namun, satu hasil pemeriksaan tidak selalu cukup untuk memastikan diagnosis. Pada orang tanpa gejala khas, dokter umumnya memerlukan hasil abnormal kedua, baik melalui pengulangan HbA1c maupun pemeriksaan gula darah lainnya.
Interpretasi tersebut merupakan batas untuk skrining dan diagnosis, bukan target pengobatan yang otomatis berlaku bagi semua orang yang sudah memiliki diabetes.
Apa Bedanya HbA1c dengan Gula Darah Puasa?
Perbedaan utama kedua pemeriksaan terletak pada rentang waktu yang dinilai.
Tes HbA1c menggambarkan kadar gula darah rata-rata selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir. Hasilnya berbentuk persentase dan tidak memerlukan puasa.
Tes gula darah puasa mengukur kadar glukosa darah saat pemeriksaan dilakukan, setelah pasien tidak mengonsumsi makanan atau minuman berkalori selama sedikitnya delapan jam.
Untuk pemeriksaan glukosa plasma puasa, batas yang umum digunakan adalah:
- Di bawah 100 mg/dL: normal.
- 100-125 mg/dL: prediabetes.
- 126 mg/dL atau lebih: memenuhi ambang pemeriksaan diabetes dan umumnya memerlukan konfirmasi.
Hasil kedua tes tidak dapat dibandingkan dengan menyamakan angkanya secara langsung karena menggunakan satuan dan metode pengukuran berbeda.
Seseorang juga bisa memiliki hasil HbA1c dan gula darah puasa yang tidak sejalan. Jika perbedaannya cukup besar, dokter perlu menilai kemungkinan gangguan pada pemeriksaan atau faktor kesehatan lain yang memengaruhi hasil.
Baca Juga: 5 Pilihan Obat Diabetes yang Biasa Diresepkan untuk Mengontrol Gula Darah
Kondisi yang Bisa Memengaruhi Keakuratan HbA1c
Walaupun berguna untuk melihat gambaran gula darah jangka panjang, hasil HbA1c tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya pada setiap orang.
Anemia akibat kekurangan zat besi, misalnya, dapat menyebabkan nilai HbA1c terbaca lebih tinggi dibandingkan kondisi gula darah yang sebenarnya.
Sebaliknya, kondisi yang memperpendek usia sel darah merah, seperti anemia hemolitik, dapat menghasilkan HbA1c yang lebih rendah daripada perkiraan berdasarkan kadar gula darah.
Kelainan hemoglobin, termasuk beberapa jenis talasemia, juga dapat memengaruhi hasil pemeriksaan. Pengaruhnya bergantung pada jenis kelainan dan metode laboratorium yang digunakan.
Selain itu, riwayat kehilangan darah dalam jumlah besar, transfusi darah, dan gangguan ginjal tertentu perlu diperhatikan ketika dokter menafsirkan hasil.
Pada kondisi tersebut, pemeriksaan glukosa plasma atau metode lain dapat lebih tepat digunakan untuk mengevaluasi gula darah.
HbA1c juga bukan satu-satunya pemeriksaan untuk mendiagnosis diabetes saat kehamilan. Tes toleransi glukosa oral memiliki peran penting dalam pemeriksaan diabetes gestasional.
Kapan Perlu Tes Ulang dan Konsultasi Dokter?
Konsultasi diperlukan ketika hasil HbA1c berada pada rentang prediabetes atau mencapai ambang diabetes, terutama jika pemeriksaan dilakukan untuk pertama kali.
Dokter dapat menentukan apakah tes perlu diulang atau dilengkapi dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa maupun tes toleransi glukosa oral.
Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan jika seseorang mengalami gejala seperti sering haus, sering buang air kecil, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, atau penglihatan kabur, meskipun hasil HbA1c sebelumnya berada dalam kategori normal.
Jika hasil pemeriksaan mendekati ambang diagnosis tetapi belum memenuhi kriteria diabetes, dokter dapat mempertimbangkan pengulangan tes dalam beberapa bulan berdasarkan faktor risiko dan kondisi pasien.
Bagi orang yang sudah didiagnosis diabetes, HbA1c digunakan untuk memantau pengendalian gula darah dan menilai respons terhadap pengobatan. Target hasilnya ditentukan secara individual dengan mempertimbangkan usia, kondisi kesehatan, risiko gula darah rendah, dan pengobatan yang sedang dijalani.
Referensi
- NIDDK – The A1C Test & Diabetes
- American Diabetes Association – Standards of Care in Diabetes 2026
- CDC – Diabetes Testing
- Kementerian Kesehatan RI – Pentingnya Pemeriksaan HbA1c
- Kementerian Kesehatan RI – Diabetes Melitus Tipe 2





