BULATAN TIMES – Menghadapi anak yang menangis histeris, berteriak, hingga berguling di lantai memang bisa menguji kesabaran orang tua. Namun, Bunda dan Ayah perlu memahami bahwa tantrum bukan sekadar perilaku anak yang ingin mencari perhatian. Kondisi ini juga menjadi bagian dari proses perkembangan emosional si kecil.
Menariknya, sentuhan lembut dari orang tua ternyata dapat membantu anak menghadapi ledakan emosinya. Pelukan, usapan lembut, atau genggaman tangan bisa memberikan rasa aman ketika anak merasa kewalahan.
Informasi mengenai cara menenangkan anak tantrum ini kembali menarik perhatian para orang tua setelah akun Instagram @purela.official membagikan edukasi parenting tentang pentingnya sentuhan penuh kasih dalam mendampingi anak.
Mengapa Anak Bisa Mengalami Tantrum?
Tantrum merupakan hal yang umum terjadi pada masa balita, terutama ketika anak mulai belajar mengenali keinginan dan emosinya.
Pada usia tersebut, kemampuan anak untuk mengendalikan emosi belum berkembang secara sempurna. Akibatnya, anak sering kesulitan menyampaikan rasa kecewa, marah, lelah, atau frustrasi melalui kata-kata.
Selain itu, beberapa kondisi juga dapat memicu tantrum, antara lain:
- Anak merasa lapar atau mengantuk.
- Keinginannya tidak terpenuhi.
- Anak merasa lelah setelah beraktivitas.
- Anak kesulitan menyampaikan keinginannya.
- Anak merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitar.
Karena itu, orang tua perlu memahami penyebab tantrum sebelum menentukan cara mengatasinya.
Sentuhan Lembut Membantu Anak Merasa Aman
Salah satu cara menenangkan anak tantrum adalah memberikan sentuhan lembut sesuai kenyamanan anak.
Pelukan hangat, usapan pada punggung, atau genggaman tangan dapat membantu anak merasakan kehadiran dan kasih sayang orang tuanya.
Pendekatan ini berkaitan dengan konsep co-regulation, yaitu proses ketika orang tua membantu anak mengelola emosinya melalui ketenangan, kedekatan, dan respons yang penuh perhatian.
UNICEF menjelaskan bahwa anak yang mengalami tantrum membutuhkan bantuan orang dewasa untuk kembali tenang. Orang tua dapat menawarkan pelukan, sentuhan penuh kasih, serta berbicara menggunakan suara yang lembut.
Namun, orang tua tidak perlu memaksakan kontak fisik. Jika anak menolak pelukan, cukup duduk di dekatnya dan tunjukkan bahwa Ayah atau Bunda selalu siap mendampingi.
5 Cara Menenangkan Anak Tantrum yang Bisa Dilakukan Orang Tua
Selain memberikan sentuhan lembut, ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu menghadapi tantrum.
1. Tetap Tenang dan Jangan Membentak
Pertama, orang tua perlu mengendalikan emosinya sendiri. Hindari membentak atau memarahi anak karena tindakan tersebut dapat membuat suasana semakin sulit.
Sebaliknya, tunjukkan sikap tenang agar anak merasa aman.
2. Berikan Pelukan Jika Anak Menginginkannya
Selanjutnya, tawarkan pelukan atau sentuhan lembut. Kehadiran fisik orang tua dapat membantu anak merasa diperhatikan dan tidak menghadapi emosinya sendirian.
3. Akui Perasaan Anak
Jangan langsung meminta anak berhenti menangis. Cobalah memahami perasaannya dengan kalimat sederhana seperti, “Bunda tahu kamu sedang marah. Tidak apa-apa merasa marah, Nak.”
Dengan begitu, anak mulai belajar mengenali dan memahami emosinya.
4. Kurangi Keramaian dan Stimulasi
Jika anak mengalami tantrum di tempat umum, ajak ia menuju tempat yang lebih tenang dan aman.
Selain itu, kurangi suara bising atau aktivitas yang dapat membuat anak semakin tidak nyaman.
5. Berikan Penjelasan Setelah Anak Tenang
Terakhir, tunggu sampai emosi anak mereda. Setelah itu, ajak anak berbicara menggunakan bahasa sederhana.
Bantu anak memahami penyebab kemarahannya dan ajarkan cara menyampaikan keinginan tanpa berteriak atau memukul.
Jangan Anggap Tantrum sebagai Kenakalan Anak
Orang tua perlu memahami bahwa tantrum merupakan bagian dari proses belajar mengelola emosi. Karena itu, anak membutuhkan pendampingan, bukan hukuman yang membuatnya semakin takut.
American Academy of Pediatrics (AAP) juga menekankan pentingnya membantu anak mengenali emosi, membangun rutinitas menenangkan diri, serta memberikan contoh perilaku positif.
Di sisi lain, orang tua tetap perlu menetapkan batasan. Anak boleh merasa marah atau kecewa, tetapi tidak boleh menyakiti dirinya sendiri maupun orang lain.
Pada akhirnya, sentuhan lembut memang bukan tombol ajaib yang langsung menghentikan semua tantrum. Namun, perhatian, kesabaran, dan kasih sayang orang tua dapat menjadi fondasi penting bagi perkembangan emosional anak.
Sebab, terkadang hal sederhana seperti pelukan hangat dan kehadiran orang tua justru menjadi hal yang paling dibutuhkan si kecil ketika dunianya terasa tidak menyenangkan.





