JAKARTA, BULATAN TIMES – Dua kecelakaan helikopter saat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan pada 4 dan 8 November 2026 memicu desakan DPR agar pemerintah mengevaluasi keselamatan penerbangan, kesiapan awak, serta prosedur operasi udara.
Anggota Komisi IV DPR RI Rina Sa’adah meminta pemerintah memastikan perlindungan bagi seluruh petugas yang menjalankan misi pemadaman, termasuk awak helikopter, personel darat, dan relawan.
“Investigasi harus berjalan profesional dan hasilnya menjadi dasar perbaikan yang dapat dipantau,” kata Rina, dikutip dari laman Fraksi PKB, Minggu (8/11/2026).
Menurut Rina, evaluasi perlu mencakup perawatan armada, kesiapan kru, waktu istirahat, kondisi cuaca, serta kewenangan untuk menunda atau menghentikan penerbangan apabila situasi dinilai tidak aman.
Desakan serupa sebelumnya disampaikan anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin setelah kecelakaan helikopter TNI AD di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.
Nurul meminta pemerintah meninjau kelayakan peralatan, perlindungan personel, dan penerapan prosedur keselamatan dalam operasi pemadaman karhutla.
Kecelakaan Mi-17V5 di Seruyan, Tiga Prajurit Gugur
Kecelakaan pertama terjadi pada Rabu (4/11/2026), ketika helikopter Mi-17V5 milik TNI Angkatan Darat jatuh di perairan Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.
Helikopter bernomor registrasi HA-5235 tersebut membawa delapan personel untuk mendukung pemadaman karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Dalam kecelakaan itu, lima personel selamat dan tiga lainnya meninggal dunia. Prajurit yang gugur adalah Dudi Firmansyah, Nurhafiz Akbar, dan Heri Prasetyo.
Jenazah Heri menjadi korban terakhir yang ditemukan dan dievakuasi oleh tim gabungan pada Jumat (6/11/2026). Dengan penemuan tersebut, seluruh delapan awak telah dievakuasi.
Kecelakaan terjadi ketika helikopter menjalankan kegiatan pengambilan air untuk pemadaman dari udara. Penyebab pasti insiden masih memerlukan pemeriksaan teknis.
Baca Juga: Helikopter TNI AD Jatuh Saat Padamkan Karhutla di Kalteng, Satu Kru Meninggal
Baca Juga: Penyelaman Evakuasi Heli TNI AD di Seruyan Sempat Dihentikan akibat Arus Deras
Super Puma Jatuh di Sungai Barito, Satu Awak Meninggal
Kecelakaan kedua terjadi pada Minggu (8/11/2026) di Sungai Barito, Desa Tabatan Baru, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Helikopter Super Puma H225 dengan registrasi VH-HGM merupakan armada milik swasta yang dikontrak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk operasi pemadaman karhutla.
Helikopter tersebut mengalami kecelakaan ketika bermanuver untuk mengambil air dari sungai.
Dari tiga awak yang berada di dalam helikopter, dua berhasil diselamatkan dan mendapatkan penanganan medis.
Satu awak lainnya, Yayan Supyansuri, sempat dinyatakan hilang dalam pembaruan BNPB pada Minggu sore.
Kepala Kantor SAR Banjarmasin I Putu Sudayana kemudian memastikan Yayan berhasil dievakuasi pada pukul 18.08 WITA dalam keadaan meninggal dunia.
BNPB Evaluasi Keselamatan Operasi Udara
BNPB menyatakan akan mengevaluasi keselamatan penerbangan dalam operasi penanganan karhutla setelah kecelakaan Super Puma di Sungai Barito.
Evaluasi mencakup kondisi teknis dan kelaikan armada, kompetensi awak, prosedur penerbangan, serta mekanisme pengambilan air untuk kegiatan water bombing.
Karakteristik lokasi juga menjadi perhatian, termasuk kondisi sungai, arus air, hambatan di sekitar area manuver, cuaca, dan koordinasi antara petugas udara dengan personel darat.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menegaskan bahwa penyebab kecelakaan belum dapat disimpulkan sebelum pemeriksaan resmi selesai.
BNPB akan berkoordinasi dengan operator helikopter dan instansi penerbangan terkait untuk memastikan armada yang mendapat penugasan berikutnya memenuhi persyaratan teknis dan keselamatan.
Baca Juga: Prabowo Prioritaskan Pemadaman Karhutla Tanjung Puting, Asap Hambat Helikopter
Selama evaluasi berlangsung, BNPB memastikan operasi pemadaman karhutla tetap dilanjutkan dengan memperkuat penanganan melalui jalur darat dan meninjau kembali penugasan armada udara.





